KlikMojok – Pada Jumat, 4 September 2026, suasana ceria menyelimuti Toko Otak-Otak Bandeng Mak Cah di Gresik, Jawa Timur, ketika siswa-siswi Kelompok Bermain (KB) Walidah 1 Gresik berkesempatan mengenal lebih dekat kuliner khas daerah. Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya sekolah untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal dan mengajarkan keterampilan bertransaksi sejak usia dini kepada anak-anak. Mereka tampak antusias memilih dan membeli berbagai makanan tradisional khas Kota Pudak.
Kota Gresik, yang juga dikenal sebagai Kota Pudak, menawarkan pengalaman edukatif yang sangat menyenangkan bagi para siswa KB Walidah 1 Gresik. Tepat pada hari Jumat, 4 September 2026, area halaman Toko Otak-Otak Bandeng Mak Cah dipenuhi oleh riuh rendah dan keceriaan para peserta didik.
Kedatangan rombongan siswa ini didampingi oleh para guru, sejumlah ibu pendamping atau “mama-mama”, serta perwakilan komite sekolah. Lokasi toko yang menjadi tujuan kunjungan edukatif ini terletak strategis di Jalan Sindujoyo IX Nomor 51, area Kebungson, Kroman, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik.
Kunjungan lapangan ini merupakan puncak dari serangkaian kegiatan pembelajaran bertema “Gresik Kota Pudak” yang telah dilaksanakan selama satu pekan penuh di sekolah. Sebelum tiba di toko, anak-anak telah diperkenalkan dengan berbagai aspek tentang Gresik melalui aktivitas-aktivitas edukatif yang diselenggarakan di lingkungan sekolah mereka.
Sekarang, para siswa memiliki kesempatan untuk secara langsung menyaksikan dan merasakan jejak-jejak budaya yang masih hidup dan berkembang di sekitar mereka. Di dalam toko tersebut, beragam jenis makanan khas Gresik tersaji, siap memancing rasa ingin tahu dan eksplorasi dari setiap anak.
Di antara jajanan yang menarik perhatian, terdapat pudak, ayas, jubung, opak, serta beberapa panganan tradisional khas Gresik lainnya. Dengan penuh rasa ingin tahu, anak-anak secara cermat mengamati berbagai detail, mulai dari bentuk yang unik, warna yang menarik, kemasan yang khas, hingga nama-nama makanan yang mungkin tidak mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Sesekali, terdengar gelak tawa dan seruan riang dari para siswa saat mereka berhasil menemukan makanan yang paling menarik perhatian mereka. Melalui metode yang sederhana namun efektif ini, proses pembelajaran menjadi terasa lebih relevan dan dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari anak.
Dengan demikian, anak-anak tidak hanya sekadar mendengarkan cerita atau teori tentang kebudayaan. Mereka mendapatkan pengalaman multisensorik dengan melihat, menyentuh, memilih, bertanya, dan berinteraksi secara langsung dengan lingkungan serta objek pembelajaran yang ada.
Oleh karena itu, kekayaan kuliner lokal terbukti menjadi sebuah pintu gerbang kecil yang efektif untuk memperkenalkan identitas dan ciri khas suatu daerah kepada anak-anak sejak usia yang sangat dini.
Bagi siswa-siswi KB Walidah 1, makanan mungkin terlihat sebagai hal yang biasa dan menyenangkan. Akan tetapi, di balik setiap sajian kuliner tersebut, tersimpan kisah panjang tentang sejarah keluarga dan identitas khas daerah Gresik, kota pudak yang mereka tinggali.
Berbagai jenis makanan seperti pudak, jubung, ayas, dan opak, tidak hanya sekadar berfungsi sebagai panganan biasa. Lebih dari itu, makanan-makanan ini merupakan bagian integral dari warisan dan kekayaan kuliner yang secara erat melekat pada identitas Kota Gresik.
Melalui kunjungan edukatif ini, pihak sekolah berupaya keras untuk menumbuhkan rasa bangga yang mendalam terhadap kebudayaan lokal di hati para siswa. Anak-anak diajari bahwa segala sesuatu yang ada dan berkembang di sekitar lingkungan mereka juga patut untuk dikenal, dihargai, dan dijaga kelestariannya.
Jadi, proses pengenalan budaya yang dilakukan tidak hanya berhenti pada sekadar menghafal nama-nama makanan tradisional. Para siswa justru memperoleh pengalaman belajar yang langsung dan mendalam melalui aktivitas-aktivitas yang secara alami mereka sukai dan minati.
Setelah berhasil mengenal beragam jenis makanan khas, para siswa KB Walidah 1 melanjutkan pembelajaran dengan pengalaman lain yang tak kalah menarik. Mereka diajak untuk memahami konsep uang dan mempelajari proses jual beli dalam bentuk yang paling sederhana.
Setiap siswa diberikan kesempatan untuk memilih makanan yang mereka inginkan, sesuai dengan jumlah uang saku yang mereka bawa. Setelah menentukan pilihan, mereka mengambil barang tersebut, memasukkannya ke dalam tas, dan kemudian menyerahkan uang pembayaran kepada penjual.
Proses transaksi yang tampak sederhana ini ternyata menjadi ruang belajar yang sangat berharga dan kaya bagi perkembangan anak-anak. Melalui aktivitas ini, mereka belajar bagaimana cara menentukan pilihan yang tepat sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu yang mereka inginkan.
Di samping itu, mereka juga dilatih untuk berkomunikasi secara efektif dengan penjual dan mulai memahami konsep bahwa setiap barang memiliki nilai tertentu. Pengalaman berharga ini turut serta melatih keberanian serta kemandirian anak-anak dalam proses pengambilan keputusan.
Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran pada usia dini tidak selalu harus terbatas pada ruang kelas. Lingkungan di sekitar anak justru dapat berfungsi sebagai arena belajar yang luas dan penuh dengan berbagai kejutan edukatif.
Dari aktivitas transaksi yang terkesan sederhana tersebut, anak-anak secara tidak langsung diperkenalkan pada konsep dasar matematika dan sekaligus diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap setiap pilihan yang mereka ambil.
Yang lebih menarik, proses pembelajaran tidak hanya berhenti pada kegiatan jual beli saja. Pihak sekolah juga telah menyiapkan tas kain khusus untuk digunakan oleh para siswa dalam membawa pulang makanan yang telah mereka beli.
Kebiasaan menggunakan tas kain ini merupakan langkah sederhana namun penting untuk menanamkan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan. Anak-anak diajarkan bahwa dengan membawa tas belanja sendiri, mereka turut berkontribusi dalam upaya mengurangi penggunaan kantong plastik.
Dengan demikian, satu kegiatan kunjungan ini berhasil menghadirkan beragam pengalaman pembelajaran sekaligus. Para siswa tidak hanya mengenal berbagai jenis makanan, tetapi juga belajar berhitung, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan memahami pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Adanya pendampingan yang diberikan oleh para ibu atau “mama-mama” serta anggota komite sekolah turut menjadikan kegiatan ini berlangsung dengan lebih aman dan nyaman bagi seluruh peserta. Kolaborasi berbagai pihak ini secara jelas menunjukkan bahwa pendidikan anak-anak memerlukan dukungan dan partisipasi aktif dari banyak elemen, tidak hanya dari sekolah.
Sinergi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar terbukti mampu berjalan bersama untuk menciptakan pengalaman belajar yang mendalam dan penuh makna bagi anak-anak.
Di sela-sela kesibukan dan antusiasme anak-anak dalam memilih makanan, terungkap pula sebuah cerita panjang yang menarik tentang asal-usul Toko Otak-Otak Bandeng Mak Cah. Any Rufaidah, yang merupakan salah satu cucu dari Aisyah Ramlan atau yang akrab disapa Mak Cah, berbagi kisah mengenai sejarah berdirinya usaha keluarga mereka.
“Produksi otak-otak bandeng tersebut telah kami mulai sejak 1980,” tutur Any Rufaidah, menjelaskan awal mula usaha. Kemudian, ia menambahkan bahwa pada tahun 2005, usaha tersebut mengalami perkembangan signifikan dan berhasil memiliki toko fisik sendiri.
Hingga saat ini, usaha kuliner tradisional tersebut terus bertahan dan diwariskan secara turun-temurun kepada generasi berikutnya. Aisyah Ramlan sendiri adalah sosok pendiri sekaligus nama yang diabadikan sebagai identitas toko yang terkenal itu.
Setelah wafatnya Mak Cah, anak-anaknya mengambil alih dan melanjutkan operasional usaha keluarga ini. Kini, warisan kuliner tersebut tetap eksis dan terus berkembang melalui tangan-tangan generasi penerusnya.
Perjalanan panjang usaha ini secara jelas menunjukkan bahwa kuliner tradisional memiliki potensi untuk terus bertahan dan berkembang di tengah derasnya arus perubahan zaman. Cita rasa khas keluarga tetap terjaga dengan baik, sementara model usaha terus beradaptasi dan berkembang mengikuti kebutuhan serta selera masyarakat modern.
Bagi anak-anak KB Walidah 1 Gresik, cerita inspiratif tentang sejarah usaha keluarga ini menjadi sebuah pengalaman tambahan yang sangat berharga, sesuatu yang tidak akan mereka temukan hanya dengan membaca buku.
Any Rufaidah mengungkapkan rasa senangnya saat menerima kunjungan dari anak-anak sekolah tersebut. Menurutnya, tingkah laku yang lucu dan kepolosan alami dari para siswa membuat suasana di toko menjadi semakin hidup dan penuh keceriaan.
Meskipun beberapa anak sempat menunjukkan rasa cemas dan menangis saat pertama kali tiba, mereka secara perlahan mulai beradaptasi. Hal ini terjadi setelah mereka melihat aneka ragam makanan khas yang tersusun rapi di dalam toko. Keceriaan pun kemudian muncul dan menyelimuti mereka ketika mendapatkan kesempatan untuk memilih dan membeli makanan favorit mereka sendiri.
“Mengenalkan makanan tradisional kepada anak-anak sejak dini sangatlah penting,” ungkap Any Rufaidah, menekankan urgensi dari pengenalan budaya kuliner.
Ia menambahkan bahwa upaya pengenalan ini merupakan bagian krusial dalam memastikan keberlangsungan dan kelestarian kuliner tradisional di masa depan.
“Jika tidak dikenalkan kepada generasi berikutnya, makanan tradisional bisa semakin tertinggal,” lanjutnya, menyoroti risiko hilangnya warisan kuliner.
Bagi pihak KB Walidah 1 Gresik, puncak tema “Gresik Kota Pudak” ini lebih dari sekadar kegiatan kunjungan biasa. Aktivitas ini berperan sebagai jembatan yang menghubungkan antara materi pembelajaran di lingkungan sekolah dengan realitas kehidupan nyata yang dialami anak-anak.
Melalui kegiatan ini, anak-anak memahami bahwa budaya tidak hanya ada dalam buku atau cerita, melainkan dapat ditemukan dalam hal-hal yang sangat dekat dengan keseharian mereka. Mereka mendapatkan pengalaman konkret dalam mengenal makanan, mendengarkan cerita, berinteraksi, melakukan transaksi sederhana, dan belajar tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Dari serangkaian kegiatan tersebut, tumbuhlah pengalaman-pengalaman yang mungkin terlihat sederhana, namun menyimpan makna dan pelajaran yang mendalam serta berjangka panjang. Hal ini membuktikan bahwa rasa cinta terhadap daerah atau tanah air tidak selalu harus berawal dari hal-hal yang besar dan monumental.
Terkadang, rasa cinta itu justru bersemi dari sebungkus pudak, sepotong otak-otak bandeng, atau bahkan dari cerita yang disampaikan oleh seorang penjual. Melalui pengalaman-pengalaman nyata seperti inilah, anak-anak belajar untuk mengenal dan mencintai Gresik dengan cara yang paling menyenangkan.
Pada akhirnya, para siswa tidak hanya kembali pulang dengan membawa makanan yang mereka beli dari toko. Lebih dari itu, mereka juga membawa pulang cerita berharga tentang budaya lokal, pengalaman melatih keberanian dalam memilih, serta interaksi yang bermakna dengan lingkungan sekitar.
Mulai dari pudak, jubung, ayas, hingga opak, anak-anak KB Walidah 1 Gresik diajarkan untuk mencintai kota mereka melalui hal-hal yang sederhana namun autentik. Sebab, pengenalan budaya sejak usia dini merupakan langkah fundamental dan awal yang krusial untuk menjaga serta melestarikan warisan budaya lokal bagi generasi masa depan.












