Menu

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Man Jadda Wajada: Fondasi 45 Calon Muballighat PDA Sidoarjo Menempa Kemampuan Dakwah Efektif

badge-check

Man Jadda Wajada: Fondasi 45 Calon Muballighat PDA Sidoarjo Menempa Kemampuan Dakwah Efektif Perbesar

KlikMojok – Semangat “Man jadda wajada” (Siapa yang bersungguh-sungguh, maka akan berhasil) menjadi pendorong utama bagi 45 calon muballighat dari Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Sidoarjo. Mereka secara intensif mengasah kemampuan, keberanian, dan ketepatan dalam menyampaikan dakwah secara efektif.

Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Sidoarjo secara resmi membuka Sekolah Muballighat Tahun 2026 batch kedua pada Ahad, 6 September 2026, yang diikuti oleh 45 calon muballighat dari 18 Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) se-Sidoarjo. Program ini bertujuan untuk membekali para peserta dengan kemampuan berdakwah yang mumpuni.

Pelaksanaan kegiatan ini dipusatkan di ruang briefing SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (Smamda). Pembelajaran akan diadakan setiap hari Ahad secara berkelanjutan selama tiga bulan. Setiap peserta diwajibkan untuk mengikuti seluruh sesi, dengan toleransi maksimal tiga kali ketidakhadiran sepanjang periode sekolah.

Apabila jumlah absensi melebihi batasan tersebut, peserta akan dinyatakan gugur dari program. Keberagaman latar belakang peserta menjadi salah satu ciri khas program ini, dengan kehadiran para profesional seperti psikolog, dokter, guru, dan berbagai profesi lainnya.

Sekolah Muballighat ini dirancang oleh Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Sidoarjo dengan visi untuk mencetak muballighat Aisyiyah yang kompeten dan terampil dalam menyampaikan materi dakwah. Nantinya, para lulusan akan ditugaskan untuk berdakwah sesuai dengan latar belakang pendidikan dan spesialisasi yang mereka miliki.

Sebelum sesi pembelajaran utama dimulai, setiap peserta diminta untuk menyelesaikan 10 soal pretes yang disajikan melalui Google Form. Pretes ini berfungsi sebagai alat untuk memetakan kemampuan awal para peserta sekaligus menjadi tolok ukur untuk mengukur progres belajar mereka selama mengikuti program.

Setelah pretes, peserta dibekali dengan penguatan materi keislaman dan ideologi Muhammadiyah. Materi fundamental ini penting sebagai dasar agar setiap muballighat mampu menyampaikan dakwah secara terarah dan relevan dengan kebutuhan jamaah (mad’u).

Umayani, S.Ag., M.Pd.I., yang menjabat sebagai Wakil Ketua PDA Sidoarjo sekaligus Koordinator Bidang Majelis Tabligh dan Kajian (MTK), dalam sambutannya memaparkan rencana praktik dakwah bagi para peserta. Beliau menjelaskan bahwa para peserta akan melaksanakan praktik dakwah secara luring atau offline di Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) masing-masing.

Tidak hanya itu, peserta juga akan menerima pelatihan dakwah daring atau online melalui berbagai platform digital. Inisiatif ini diharapkan dapat memperluas jangkauan dakwah mereka, memungkinkan mereka untuk menyampaikan pesan-pesan keislaman ke audiens yang lebih luas.

Pada hari pertama pembelajaran, Ustaz Imam Mahfudzi, S.Ag., M.Fil.I., didaulat sebagai pemateri utama. Beliau membawakan topik “Akidah Tauhid dalam Ideologi Muhammadiyah,” yang mencakup pembahasan mendalam mengenai konsep, implementasi, serta analisis contoh-contoh kasus terkait.

Dalam sesi pemaparannya, Ustaz Imam Mahfudzi menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an dan Hadis sebagai landasan teologis utama dalam setiap dakwah Muhammadiyah. Oleh karena itu, para calon muballighat diharapkan untuk selalu merujuk pada dokumen-dokumen resmi Ideologi Muhammadiyah ketika menyusun materi dakwah mereka.

Dokumen-dokumen yang dimaksud mencakup Analisis MADM (1951), Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM) (1969/1970), dan Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Bab Iman. Selain itu, terdapat pula Kepribadian Muhammadiyah (1962), Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) (2000), serta Risalah Islam Berkemajuan (2022).

Ustaz Imam Mahfudzi turut menguraikan tantangan dakwah Muhammadiyah melalui konsep Masalah Lima atau Masalah Al-Khamsah. Konsep ini menjadi suatu “pekerjaan rumah” yang krusial dalam memahami persoalan-persoalan fundamental terkait kehidupan dan agama.

Masalah pertama adalah Al-Din atau agama, yang berfokus pada pemahaman esensi agama dan fungsinya dalam kehidupan manusia. Masalah kedua adalah Al-Dunya atau dunia, yang membahas pandangan terhadap urusan duniawi sebagai sarana untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT.

Ketiga, Al-Ibadah atau ibadah, yang meliputi batasan, makna, serta tata cara ibadah yang sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW. Keempat, Sabilillah atau Jalan Allah, yang berkaitan dengan definisi dan cakupan amal usaha yang memiliki nilai sabilillah.

Terakhir, kelima adalah Al-Qiyas atau ijtihad, yaitu penggunaan akal pikiran secara maksimal dalam menetapkan hukum agama apabila tidak ditemukan nash (teks) langsung dari Al-Qur’an atau Hadis.

Setelah penyampaian materi pertama, sesi dilanjutkan dengan pembentukan tiga kelompok, di mana setiap kelompok beranggotakan 15 peserta. Mereka secara bergantian melakukan praktik micro tabligh pertama mereka.

Setiap peserta diberikan alokasi waktu tiga menit untuk mempresentasikan dakwahnya. Meskipun durasinya singkat, batasan waktu ini justru menjadi sebuah tantangan signifikan bagi sebagian besar peserta Sekolah Muballighat.

Sunarsih, S.Ag., M.Si., selaku Sekretaris Majelis Tabligh dan Kajian (MTK), mengidentifikasi bahwa masalah umum yang dihadapi peserta adalah kemampuan manajemen waktu. Ia menyoroti bahwa mayoritas peserta masih belum mampu mematuhi batas waktu yang telah ditetapkan.

Lebih lanjut, Sunarsih menjelaskan bahwa peserta belum terampil dalam meringkas dan menyampaikan materi dakwah secara padat agar sesuai dalam durasi tiga menit. Selain itu, materi yang disampaikan juga seringkali belum spesifik dan belum sepenuhnya selaras dengan minat atau spesialisasi individual mereka.

Oleh karena itu, para peserta dianjurkan untuk belajar bagaimana memilih materi yang relevan dengan bidang keahlian mereka dan menyampaikannya secara ringkas namun padat. Latihan semacam ini merupakan komponen krusial dalam membentuk kemampuan dakwah yang efektif dan terstruktur.

Di samping tantangan terkait manajemen waktu dan spesifikasi materi, banyak peserta juga mengakui bahwa mereka sering merasa grogi atau nervous saat harus tampil di hadapan publik. Menurut Umayani, kondisi ini sangat wajar mengingat sebagian besar peserta belum terbiasa dengan aktivitas menyampaikan dakwah di muka umum.

Untuk mengatasi hal tersebut, Umayani memberikan semangat, “Dengan latihan terus-menerus, kecemasan untuk tampil di muka umum akan teratasi dengan sendirinya.” Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya bagi peserta untuk terus berlatih guna mengembangkan kemampuan dan keberanian mereka dalam berdakwah.

Umayani juga membagikan beberapa tips praktis agar dakwah yang disampaikan menjadi menarik dan mampu membangun kepercayaan dari jamaah (mad’u) terhadap muballighat. Pertama, pembukaan dakwah harus disampaikan dengan jelas dan mantap, tanpa menunjukkan keraguan sedikit pun.

Kedua, kelancaran dalam pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis sangat penting untuk memberikan kesan yang meyakinkan dalam penyampaian materi. Ketiga, apabila muballighat memilih untuk membaca arti kata demi kata, pastikan bahwa pelafalan bahasa Arab dan terjemahannya diucapkan dengan jelas dan mudah dipahami.

Keempat, Umayani memberikan saran agar peserta tidak terpaku menatap wajah audiens secara langsung. Berbagai masukan dan saran ini diharapkan menjadi bekal berharga bagi para peserta untuk terus memperbaiki dan meningkatkan penampilan mereka dalam sesi latihan berikutnya.

Hari pertama Sekolah Muballighat 2026 ini menandai permulaan perjalanan panjang bagi 45 calon muballighat PDA Sidoarjo. Mereka tidak hanya berfokus pada penguasaan materi keislaman, tetapi juga secara intensif menempa keberanian, ketepatan waktu, dan keterampilan dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah.

Melalui serangkaian latihan bertahap dan berkelanjutan, para peserta diharapkan akan semakin siap untuk mengemban tugas dakwah sesuai dengan latar belakang dan spesialisasi mereka. Sebagai penutup dan penguat semangat di akhir kelas pertama, pesan motivasi “Man jadda wajada” kembali digaungkan: “Siapa yang bersungguh-sungguh, maka akan berhasil.”

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Jeda Kamera di Bromo: Pelarangan Syuting Demi Jaga Api Tak Menyala

7 Sep 2026 - 21:07 WIB

Jeda Kamera di Bromo: Pelarangan Syuting Demi Jaga Api Tak Menyala

Denyut Baru di Jantung Kota: Alun-Alun Bojonegoro Bertransformasi Menjadi Ruang Publik Inklusif

7 Sep 2026 - 21:06 WIB

Denyut Baru di Jantung Kota: Alun-Alun Bojonegoro Bertransformasi Menjadi Ruang Publik Inklusif

Dongeng Ceria Islami: SDN Rumpuk Mantup Tanamkan Akhlak Nabi Lewat Maulid Bergembira

7 Sep 2026 - 21:03 WIB

Dongeng Ceria Islami: SDN Rumpuk Mantup Tanamkan Akhlak Nabi Lewat Maulid Bergembira

Genangan Air dan Bara Amarah: Kisah Pembacokan Kakek di Lumajang yang Menguak Konflik Tetangga

7 Sep 2026 - 18:48 WIB

Genangan Air dan Bara Amarah: Kisah Pembacokan Kakek di Lumajang yang Menguak Konflik Tetangga

Adab dan Ilmu Berkah: Smamsatu Gresik Tekankan Hormat Orang Tua dan Guru

7 Sep 2026 - 18:47 WIB

Adab dan Ilmu Berkah: Smamsatu Gresik Tekankan Hormat Orang Tua dan Guru
Trending di Pendidikan