Menu

Mode Gelap
Bayangan Keracunan di Meja Sekolah: Menggugat Kualitas Program Makan Bergizi Gratis di Sidoarjo Ketika Sumur Mengering di Pacitan: Pelajaran Berharga dari Krisis Air Bersih yang Meluas Inovasi Pembelajaran Sains: Siswa SD Kreatif Baratajaya Sulap Botol Bekas Jadi Media Eksperimen Menarik Bank Jatim Sidoarjo Perkuat UMKM Lewat Dukungan Transaksi Digital dan Lomba Di Balik Antrean BBM Malang: Pertalite dan Biosolar Menjadi Primadona di Tengah Arus Liburan dan Panen Ketika Langit Memayungi Semeru: Kisah Heroik Water Bombing Melawan Karhutla di Puncak Jawa Timur

Pendidikan

Api di Puncak Para Dewa: Pelajaran Berharga dari Karhutla Semeru yang Melahap Ratusan Hektare

badge-check


					Api di Puncak Para Dewa: Pelajaran Berharga dari Karhutla Semeru yang Melahap Ratusan Hektare Perbesar

KlikMojok – Di antara kegagahan puncak Mahameru yang menjulang, hamparan hijau hutan yang menjadi penopang kehidupan kini tercabik oleh jilatan api. Sejak 26 Agustus 2026, Gunung Semeru, yang kerap disebut puncak para dewa, menjadi saksi bisu amuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kenal lelah. Lebih dari 598 hektare lahan telah hangus, meninggalkan jejak kelabu di lereng-lereng gunung yang dulunya asri, sebuah pengingat pahit akan rapuhnya ekosistem di hadapan bencana.

Perjuangan memadamkan api ini bukan tanpa halangan. Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Gatot Subroto, menggambarkan upaya tim di lapangan sebagai pertarungan ekstrem. “Kami melakukan pemadaman bersama-sama semua stakeholder terkait, ada TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api, masyarakat, dan sukarelawan,” ujar Gatot kepada wartawan di kantornya, Selasa (1/9/2026). Ia menambahkan bahwa koordinasi lintas sektor ini adalah kunci di tengah kondisi yang sangat menantang.

Namun, alam Semeru seolah tak ingin mudah ditaklukkan. “Kendala dari tim darat selain area yang sangat jauh sehingga memerlukan waktu lama, juga adanya angin kencang yang mempercepat api membesar dan menyebar, serta medan yang terjal,” tambahnya, menjelaskan bagaimana kombinasi jarak yang terlampau jauh, topografi ekstrem, dan tiupan angin kencang yang tak terduga menjadi musuh utama para pemadam. Kondisi ini memaksa tim darat memfokuskan upaya pemadaman pada area-area yang masih dapat dijangkau dengan berjalan kaki, sementara titik-titik api yang tersembunyi di balik jurang terjal atau punggung bukit yang mustahil ditempuh secara manual, membutuhkan solusi lain.

Menyadari keterbatasan upaya darat, BPBD Jatim tak tinggal diam. Koordinasi cepat dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun dilakukan untuk mendatangkan bantuan dari udara. Permintaan mendesak untuk meminjam helikopter BNPB yang sebelumnya beroperasi di Jawa Timur dan kala itu sedang berada di Lampung, langsung mendapat ‘lampu hijau’ dari Kepala BNPB. Sebuah respons cepat yang menunjukkan keseriusan dalam penanganan bencana. “Alhamdulillah permintaan tersebut disetujui. Siang ini insyaallah helikopter sudah tiba di Semarang, dan besok pagi sudah tiba di Surabaya, langsung ke Malang untuk ikut beroperasi memanfaatkan helikopter tersebut menggunakan metode water bombing,” jelas Gatot dengan nada optimis, menaruh harapan besar pada bantuan udara ini.

Helikopter water bombing dengan kapasitas tampung 1.000 liter air ini diharapkan menjadi game changer dalam upaya pemadaman. Dengan asumsi kondisi cuaca mendukung—tanpa kabut pekat dan angin yang terlalu kencang—operasi pemadaman dari udara ini diperkirakan dapat diselesaikan dalam waktu maksimal dua hari. Namun, pengalaman pahit dari penanganan karhutla di Bromo sebelumnya menjadi pelajaran berharga. Perubahan cuaca yang mendadak, terutama kabut tebal yang mengurangi jarak pandang pilot, seringkali memaksa helikopter kembali ke Pangkalan Udara Abdul Rachman Saleh, mengganggu ritme pemadaman yang telah direncanakan.

Selain tantangan cuaca yang tak terduga, ketersediaan sumber air juga menjadi krusial. Danau-danau alami seperti Ranu Pani dan Ranu Kumbolo, yang biasanya menjadi tumpuan pasokan air untuk water bombing, kini diuji ketahanannya. Di tengah puncak musim kemarau saat ini, tim harus memastikan debit air mencukupi atau menyiapkan skenario darurat dengan mencari alternatif sumber air lain, seperti kolam penampungan buatan di sekitar kawasan, demi kelancaran operasi.

Saat ini, sisa titik api yang masih menyala terkonsentrasi di kawasan Ranu Pani dan B29, dua wilayah yang secara geografis sangat sulit dijangkau oleh tim darat. Meskipun demikian, pemantauan intensif terus dilakukan. Tim darat tetap bersiaga penuh, siap bergerak cepat mendekati lokasi apabila eskalasi api mulai mengancam permukiman warga atau area aktivitas masyarakat, menunjukkan komitmen tak tergoyahkan untuk melindungi kehidupan dan lingkungan.

Tragedi karhutla Semeru ini bukan hanya tentang angka hektare yang hangus atau upaya pemadaman yang heroik. Ini adalah cermin rapuhnya ekosistem kita di hadapan perubahan iklim dan kelalaian manusia. Setiap jilatan api mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan, memperkuat mitigasi bencana, dan menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa puncak para dewa ini adalah warisan yang harus dijaga bersama. Dari abu yang tersisa, semoga tumbuh pelajaran berharga untuk masa depan yang lebih lestari.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bayangan Keracunan di Meja Sekolah: Menggugat Kualitas Program Makan Bergizi Gratis di Sidoarjo

2 September 2026 - 21:55 WIB

Ketika Sumur Mengering di Pacitan: Pelajaran Berharga dari Krisis Air Bersih yang Meluas

2 September 2026 - 21:55 WIB

Inovasi Pembelajaran Sains: Siswa SD Kreatif Baratajaya Sulap Botol Bekas Jadi Media Eksperimen Menarik

2 September 2026 - 21:54 WIB

Di Balik Antrean BBM Malang: Pertalite dan Biosolar Menjadi Primadona di Tengah Arus Liburan dan Panen

2 September 2026 - 18:51 WIB

Ketika Langit Memayungi Semeru: Kisah Heroik Water Bombing Melawan Karhutla di Puncak Jawa Timur

2 September 2026 - 18:51 WIB

Trending di Pendidikan