KlikMojok – Sebuah ironi menarik kini menjadi sorotan, terutama di tengah perdebatan hangat mengenai identitas ke-NU-an dan ke-HMI-an. Dr. Ali Ahmudi, seorang kontributor yang juga merupakan warga NU sekaligus anggota KAHMI, mengaku tersenyum kecut belakangan ini. Pasalnya, di saat seorang tokoh politik yang sangat dekat dengan tradisi Nahdlatul Ulama (NU), Cak Imin, “berulang kali menyampaikan narasi bahwa salah satu sebab kemunduran NU adalah karena kepemimpinannya banyak diisi alumni HMI,” Dr. Ali Ahmudi justru teringat pada pilihan unik anak-anaknya.
Meski sejak kecil anak-anaknya telah dididik dalam kultur NU, tumbuh dengan tradisi, nilai, dan amaliah ke-NU-an yang kental dalam kehidupan sehari-hari, mereka justru menemukan ruang aktualisasi diri di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) saat memasuki dunia kemahasiswaan. Kak Azkiya, yang kini berstatus mahasiswa Fakultas Kedokteran UIN Jakarta, memilih untuk aktif di HMI melalui Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI). Tak hanya itu, Bang Afkar, yang menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, juga mulai merapat ke HMI dan menunjukkan ketertarikan besar untuk mengembangkan Lembaga Teknologi Mahasiswa Islam (LTMI). Dr. Ali Ahmudi tentu berharap adik-adiknya kelak juga menemukan jalan pengabdian mereka sendiri.

Fenomena ini sontak memunculkan pertanyaan kritis: apakah pilihan anak-anaknya untuk ber-HMI berarti mereka meninggalkan NU? Dr. Ali Ahmudi dengan tegas menyatakan tidak. Justru di sinilah ia melihat bahwa identitas keislaman, tradisi organisasi, dan ruang pengabdian tidak selalu harus dipertentangkan. Menurutnya, seseorang bisa tumbuh dalam kultur NU, aktif di HMI, dan tetap mencintai serta memperjuangkan kemajuan NU tanpa harus merasa terpecah belah.
Pengalaman pribadinya pun menjadi bukti nyata. Sejak masa mahasiswa, ia telah aktif di HMI dan menyelesaikan seluruh jenjang kaderisasi di dalamnya. Hingga kini, ia pun masih aktif berada dalam lingkungan Korps Alumni HMI (KAHMI). Kisah keluarga Dr. Ali Ahmudi ini menjadi sebuah ‘review’ menarik atas narasi yang kerap memecah belah, menunjukkan bahwa harmoni identitas antara NU dan HMI adalah sebuah realitas yang mungkin dan patut diperjuangkan.













