KlikMojok – Matahari siang itu memancarkan terik yang membakar aspal Jalan KH Wahab Chasbullah, Jombang. Deru mesin kendaraan tak henti bersahutan, menciptakan simfoni hiruk pikuk yang padat. Lalu lintas yang biasanya ramai kini berlipat ganda, dipenuhi oleh aktivitas warga lokal dan ribuan tamu yang hilir mudik menuju kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Jalan vital yang menghubungkan Jombang dengan Lamongan dan Tuban ini mendadak menjadi urat nadi kehidupan yang berdenyut lebih kencang, seiring berlangsungnya gelaran akbar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Di antara keramaian kendaraan yang tak putus dan deretan pedagang yang menggelar lapak di tepian jalan, sosok Rofiq tampak duduk santai di atas sepeda motornya. Matanya sesekali menyapu jalanan, menanti seseorang yang membutuhkan jasanya. Pria asal Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, ini adalah salah satu dari puluhan pengemudi ojek yang turut meramaikan suasana.

Bagi sebagian besar Nahdliyin, Muktamar NU adalah sebuah forum musyawarah tertinggi, sebuah ajang untuk merajut silaturahmi, dan mengukuhkan khidmat kepada organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Namun, di balik panggung besar itu, bagi Rofiq dan para pengemudi ojek lainnya, momentum besar ini juga membawa secercah harapan baru: tambahan penghasilan yang signifikan dari ramainya pergerakan ribuan peserta dan pengunjung yang datang membanjiri Tambakberas.
Sejak Muktamar resmi dibuka, Rofiq memutuskan untuk sejenak meninggalkan pekerjaan rutinnya sebagai kurir offline. Ia melihat peluang emas untuk beralih melayani antar-jemput, baik bagi peserta resmi Muktamar maupun para penggembira yang memerlukan transportasi cepat dan efisien di tengah padatnya kawasan pesantren. Pada Sabtu (29/8/2026), Rofiq memilih mangkal di sekitar Kampus Universitas KH A Wahab Hasbullah (Unwaha), lokasi strategis yang menjadi salah satu titik penginapan peserta (Tower 5) sekaligus tempat berlangsungnya sidang-sidang komisi Muktamar.
“Adanya Muktamar ini membantu teman-teman ojek untuk mengangkut dan mempercepat arus perjalanan mereka,” ujar Rofiq, menggambarkan betapa vitalnya peran mereka dalam mobilitas perhelatan akbar tersebut. Peningkatan aktivitas selama Muktamar benar-benar berdampak langsung pada roda perekonomiannya. Jika pada hari biasa ia hanya mampu mengantongi pendapatan sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu sebagai kurir offline, saat Muktamar berlangsung, penghasilannya bisa melonjak drastis, mencapai dua hingga tiga kali lipat.
“Kadang bisa Rp300 ribu, Rp400 ribu dalam sehari. Kalau tidak ada Muktamar ya sekitar Rp100 ribu sampai Rp150 ribu,” tuturnya, sembari tersenyum tipis, menunjukkan betapa berharganya momen ini baginya. Dalam sehari, Rofiq sanggup mengantarkan sekitar 10 hingga 15 penumpang. Jarak tempuhnya pun bervariasi, mulai dari perjalanan singkat mengelilingi area pesantren hingga belasan kilometer menuju destinasi lain. Tarif yang dikenakan menyesuaikan jarak, berkisar antara Rp10 ribu, Rp15 ribu, hingga Rp50 ribu. Tak jarang pula, ada penumpang yang dengan sukarela memberikan ongkos lebih. Namun, bagi mereka yang ingin kepastian biaya, Rofiq selalu sigap menjelaskan tarif sesuai tujuan yang hendak dicapai.
Selama beberapa hari melayani para tamu Muktamar, sejumlah lokasi menjadi tujuan favorit penumpang. Mulai dari arena persidangan yang sibuk, hingga kawasan wisata religi Tebuireng yang sarat sejarah dan spiritualitas, tempat makam pendiri NU, Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, berada.
Meski membawa keuntungan yang menggiurkan, pekerjaan sebagai pengemudi ojek di tengah keramaian Muktamar juga tak luput dari tantangan. Salah satunya adalah ketika penumpang belum mengetahui lokasi tujuan mereka secara pasti, seringkali hanya menyebut nama tempat tanpa detail alamat. “Kadang susah-susah gampang, ada yang tidak tahu alamatnya, akhirnya kita harus mencari-cari lokasi,” katanya, menggambarkan salah satu dinamika di lapangan.
Untuk memastikan pelayanan tetap berjalan tertib dan adil, Rofiq bersama sekitar 50 pengemudi ojek lainnya yang tergabung dalam kelompok tersebut telah menyepakati sistem antrean. Ini adalah bentuk solidaritas dan kebersamaan, demi menghindari perebutan penumpang yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan. “Antreannya saya buat sistem antrean, biar tidak rebutan,” jelasnya. Keanggotaan kelompok ojek ini pun terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin turut serta membantu mengantar para tamu selama gelaran Muktamar berlangsung, mencerminkan semangat gotong royong.
Bagi Rofiq, kesempatan ini bukan sekadar tentang mengejar pendapatan semata. Lebih dari itu, ia merasa menjadi bagian dari suasana besar yang sedang terjadi di kampung halamannya, sebuah perhelatan yang membawa berkah multidimensional. “Ya, sedikit menambah rezeki, tambahan ekonomi,” ucapnya, merangkum makna dari kerja kerasnya.
Di balik panggung megah Muktamar ke-35 NU yang dipenuhi para tokoh, ulama, dan peserta dari berbagai penjuru daerah, terhampar kisah-kisah kecil yang ikut tumbuh dan berdenyut. Seperti Rofiq, yang dengan setia mengandalkan roda motornya, mengantar tamu dari satu titik ke titik lain, menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika perhelatan akbar ini. Sebuah gambaran nyata bahwa sebuah perhelatan besar keagamaan tidak hanya menjadi ruang bagi para peserta untuk bermusyawarah dan memperkuat iman, tetapi juga menghadirkan denyut ekonomi baru yang menggerakkan masyarakat sekitar, melayani, dan merasakan berkah dari kedatangan ribuan orang ke Jombang, tanah para santri.













