KlikMojok – Di tengah bentangan alam Tulungagung yang subur, Waduk Wonorejo berdiri sebagai salah satu nadi kehidupan utama, mengairi lahan pertanian dan menggerakkan turbin pembangkit listrik. Namun, garis-garis kekeringan kini semakin jelas terlihat di dinding betonnya, menjadi saksi bisu dari musim kemarau panjang yang menguji ketahanan sumber daya air. Permukaan air di Waduk Wonorejo Tulungagung, sebuah infrastruktur krusial bagi pertanian dan energi, terus menyusut drastis, mencapai 5,7 meter di bawah pola operasi yang semestinya akibat minimnya debit air masuk.
Perum Jasa Tirta I Wonorejo, sebagai entitas pengelola waduk, memastikan bahwa meskipun menghadapi tantangan ini, layanan vital seperti irigasi pertanian dan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) tetap berjalan normal. Edi Mustamar, Supervisor PJT I Wonorejo, menjelaskan kondisi terkini. Tercatat pada Kamis (27/8/2026), elevasi muka air waduk berada di level 165,67 meter SHVP (Surabaya Haven Vloed Peil). Angka ini jauh di bawah pola operasi ideal yang seharusnya berada di kisaran 171,3 meter. “Operasional waduk memang sudah berada di bawah pola, tetapi sampai saat ini masih cukup aman untuk melayani kebutuhan irigasi dan operasional PLTA,” ujarnya pada Sabtu (29/8/2026).

Penurunan muka air ini bukan tanpa sebab. Edi Mustamar menguraikan bahwa hampir seluruh sungai yang berhulu di Pegunungan Wilis, yang menjadi pemasok utama air ke Waduk Wonorejo, mengalami penurunan debit yang signifikan. Bahkan, sebagian dari urat-urat sungai tersebut telah berhenti mengalir sama sekali akibat kekeringan berkepanjangan. Ironisnya, di saat debit masuk menipis, waduk tetap harus menjalankan fungsinya untuk melepaskan air guna memenuhi kebutuhan irigasi pertanian yang tak bisa ditunda. Selain itu, Waduk Wonorejo juga harus mendukung operasional PLTA yang beroperasi selama lima jam setiap hari, khususnya pada periode beban puncak, yaitu pukul 17.00 hingga 22.00 WIB.
Dengan rata-rata penurunan muka air waduk sekitar tujuh sentimeter per hari, kondisi ini memang memerlukan kewaspadaan. Namun, Edi Mustamar menegaskan bahwa berdasarkan simulasi operasional yang telah dilakukan hingga akhir tahun, situasi ini masih dalam batas aman. Pengelola waduk memperkirakan, apabila tidak terjadi hujan hingga akhir Oktober 2026, elevasi muka air masih akan berada pada kisaran 158,45 meter. Angka ini, krusialnya, masih jauh di atas batas minimum operasional PLTA yang ditetapkan sebesar 153 meter. “Kalau skenario terburuk kemarau berlangsung sampai akhir Desember pun elevasi masih diperkirakan di atas 157 meter, sehingga operasional waduk tetap aman,” tuturnya, memberikan gambaran proyeksi yang melegakan. Data historis pengelola juga menunjukkan bahwa elevasi terendah yang pernah tercatat di Waduk Wonorejo terjadi pada tahun 2017, dengan ketinggian sekitar 158 meter, dan kondisi saat ini masih berada di atas rekor terendah tersebut.
Saat ini, Waduk Wonorejo masih terus melepaskan air sekitar 902 ribu meter kubik per hari untuk memenuhi berbagai kebutuhan layanan publik, terutama sektor irigasi pertanian yang merupakan fungsi utama dari bendungan raksasa ini. Harapan besar kini disematkan pada datangnya musim penghujan. Pengelola berharap hujan mulai turun pada awal musim penghujan, sehingga debit masuk kembali meningkat dan elevasi waduk dapat pulih secara bertahap. Ini penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan air bagi sektor pertanian dan energi, yang menjadi tulang punggung kehidupan ekonomi di wilayah Tulungagung dan sekitarnya. “Semoga di bulan Oktober sudah ada hujan sehingga debit air meningkat lagi,” pungkas Edi Mustamar, menyuarakan doa banyak pihak yang menggantungkan hidupnya pada air dari Waduk Wonorejo.
Kisah Waduk Wonorejo ini bukan sekadar laporan tentang angka penyusutan air, melainkan cerminan dari kompleksitas manajemen sumber daya air di tengah perubahan iklim. Ini adalah pelajaran tentang bagaimana infrastruktur vital dan strategi pengelolaan yang cermat menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan keterbatasan alam, sebuah edukasi penting bagi keberlanjutan masa depan kita.













