KlikMojok – Suasana sore menjelang asar di Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) Malang pada Jumat, 28 Agustus 2026, dipenuhi keceriaan. Puluhan orang tua dan wali santri tampak antusias memasuki area pondok, siap melepas kerinduan yang telah membuncah. Hari itu menandai tonggak sejarah baru bagi pesantren tersebut karena pertama kalinya mengizinkan santri berkumpul kembali dengan keluarga tercinta hingga Ahad, 30 Agustus 2026.
Perjumpaan ini menjadi momen yang sangat dinantikan, mengakhiri masa penantian selama lebih dari satu setengah bulan sejak 10 Juli 2026. Selama periode tersebut, interaksi fisik langsung terbatas, hanya sebatas tegur sapa singkat melalui telepon. Oleh karena itu, tak heran jika pancaran kegembiraan begitu jelas terlihat di wajah para siswa dan siswi saat menatap kehadiran orang tua mereka, begitu pula sebaliknya.

Pelukan hangat langsung terjalin, mengakhiri masa perpisahan yang cukup panjang. Seluruh sudut PPI AMF Malang diselimuti kebahagiaan. Menariknya, tidak ada raut kesedihan atau air mata yang terlihat di wajah anak-anak tersebut. Mereka tidak mengeluhkan beratnya hidup jauh dari orang tua atau pengalaman perundungan. Sebaliknya, para santri menyambut orang tua mereka dengan senyum merekah, antusias menceritakan pengalaman meraih sahabat-sahabat baru dan menikmati lingkungan belajar yang menyenangkan.
Sebelum waktu kepulangan tiba, pihak administrasi pesantren telah menyebarkan petunjuk teknis kepulangan secara teratur. Wali santri yang datang menjemput wajib melalui proses registrasi kedatangan di Front Office. Penerapan aturan ketat ini bertujuan untuk memastikan keamanan dan keselamatan seluruh santri selama masa kepulangan berlangsung. Bagi wali santri yang tidak dapat hadir langsung dan menguasakan penjemputan kepada pihak lain, diwajibkan melayangkan konfirmasi ke nomor resmi PPI AMF dengan melampirkan surat kuasa.
Pengelola pondok hanya akan mengarahkan santri menuju Front Office apabila penjemput telah menyelesaikan prosedur registrasi. Pesantren mengimbau seluruh keluarga untuk mematuhi jadwal keluar dan kembali ke pondok sesuai instruksi dalam surat edaran yang dibagikan melalui grup WhatsApp kelas masing-masing. Wali santri dapat menyertakan dokumen surat kuasa dalam bentuk berkas digital atau foto ke nomor resmi PPI AMF, dan penerima kuasa wajib menyerahkan dokumen fisik surat kuasa tersebut kepada petugas saat registrasi di lokasi.
Di tengah keramaian perjumpaan tersebut, Nihad Madina Rabbani, seorang santri kelas VII SMP asal Trenggalek, berlari menghampiri ibunya dengan penuh kegirangan. Ia langsung meluapkan kebahagiaannya dengan cerita yang mengalir deras. “Ibu tak cari tak ketemu, malah ketemu Pak Karni yang mau salat. Aku bahagia di sini, tapi kalau pagi dingin sekali,” tutur Nihad polos.
Sang ibu tersenyum bahagia menyaksikan keluguan buah hatinya yang tampak menikmati kehidupan barunya di pesantren. Sambil mengelus lembut kepala anaknya, ia menimpali ucapan sang putra dengan nada penuh kehangatan. “Gimana lagi, Malang memang kota dingin,” pungkas sang ibu, menyambut hangat pelukan buah hatinya.













