KlikMojok – Jombang, Jawa Timur – Suasana Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) senantiasa diwarnai riuhnya dinamika pemilihan pucuk pimpinan, khususnya posisi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang sakral. Di tengah geliat kontestasi tersebut, muncul sebuah seruan yang menarik perhatian, datang dari sosok yang memiliki kedekatan historis kuat: KH Asep Saifuddin Chalim, Ketua Umum Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah. Dengan nada penuh harapan, Kiai Asep secara terbuka meminta KH Miftachul Akhyar untuk tidak kembali mencalonkan diri sebagai Rais Aam.
Seruan ini bukan tanpa dasar, apalagi dilandasi sentimen pribadi. Justru sebaliknya, Kiai Asep mengakui adanya ikatan historis yang kuat dengan Kiai Miftach. Hubungan keduanya telah terjalin erat sejak tahun 1995, sebuah masa ketika Kiai Asep menjabat sebagai Ketua PCNU Kota Surabaya. Di masa itulah, Kiai Asep yang mengajak Kiai Miftach untuk turut serta dalam struktur kepengurusan NU, menempati posisi strategis. “Saya sebagai orang yang dekat dengan Kiai Miftach, dan pernah mengajak Kiai Miftach menjadi pengurus NU, yaitu menjadi Wakil Rais di cabang Kota Surabaya ketika saya menjadi ketua cabangnya dulu,” tutur Kiai Asep, mengungkap akar persahabatan dan kebersamaan mereka dalam khidmat kepada NU.

Kedekatan inilah yang, menurut Kiai Asep, menjadi landasan baginya untuk menyampaikan pandangan secara gamblang dan jujur. Sebuah pandangan yang mungkin terasa menusuk, namun diyakini lahir dari kepedulian mendalam. Kiai Asep memohon agar Kiai Miftach menimbang ulang niat pencalonannya, mengingat jabatan Rais Aam bukan sekadar posisi struktural, melainkan amanah agung yang menuntut tanggung jawab moral serta kapasitas keulamaan yang luar biasa besar. “Saya merasa kasihan kepada beliau. Saya minta beliau untuk mundur dan jangan mencalonkan sebagai Rais Aam. Karena menurut saya, beliau tidak punya kapasitas untuk itu,” tegas Kiai Asep, menyuarakan keprihatinannya yang tulus.
Lebih jauh, Kiai Asep menyoroti konsekuensi tak terhindarkan dari sorotan publik yang kerap menghampiri para tokoh yang masuk dalam bursa kepemimpinan NU. Ia menyadari betul bagaimana ‘olok-olok’ yang kadang muncul di tengah masyarakat dapat menjadi beban psikologis yang berat, tidak hanya bagi sang tokoh, tetapi juga bagi keluarganya. Bagi Kiai Asep, esensi pemilihan Rais Aam terikat erat dengan marwah dan kewibawaan organisasi sebesar Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu, ia berkeyakinan bahwa NU memerlukan figur ulama yang tidak hanya berilmu, tetapi juga mampu memancarkan keteduhan, menjadi teladan akhlak mulia, serta memiliki wibawa keulamaan yang tak tergoyahkan. “NU perlu kembali diagungkan marwahnya, dibesarkan marwahnya. Untuk itu harus di-handle oleh orang yang teduh, oleh orang yang berakhlak karimah, oleh orang yang haibah,” tandasnya, menekankan pentingnya kepemimpinan yang berkarakter.
Dalam semangat mencari solusi demi kemaslahatan umat dan organisasi, Kiai Asep tak hanya menyampaikan kritik, melainkan juga menawarkan sebuah alternatif. Ia mengusulkan nama Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, yaitu KH Nurul Huda Jazuli. Menurut Kiai Asep, figur KH Nurul Huda Jazuli adalah sosok yang paripurna, memiliki kedalaman ilmu yang mumpuni, keteduhan sikap yang menenangkan, serta ketenangan batin yang diyakini sangat sesuai dengan kebutuhan kepemimpinan Syuriyah PBNU. Kiai Asep menegaskan bahwa faktor fisik atau usia tak seharusnya menjadi tolok ukur utama dalam memilih Rais Aam. Baginya, kejernihan pemikiran, keteduhan sikap, dan keluhuran akhlak adalah kriteria yang jauh lebih esensial dan substansial. Bahkan, Kiai Asep menunjukkan komitmen penuhnya dengan menyatakan kesiapan untuk memberikan dukungan tanpa syarat, apabila KH Nurul Huda Jazuli dipercaya mengemban amanah sebagai Rais Aam PBNU. “Saya secara pribadi, itu enggak usah masuk ke dalam struktur kalau beliau Rais Aam-nya, saya siap membantu,” janji Kiai Asep, menegaskan dedikasinya.
Harapan besar Kiai Asep tertumpu pada kepemimpinan Syuriyah PBNU ke depan, agar mampu semakin mengukuhkan dan memperluas peran NU di tengah masyarakat yang majemuk. Ia membayangkan sebuah sinergi yang harmonis dan konstruktif, terjalin antara para ulama, ilmuwan, birokrat, pengusaha, dan berbagai kalangan profesional. Sebuah kolaborasi yang, pada akhirnya, bertujuan tunggal: mewujudkan kemajuan dan kemaslahatan bagi umat serta bangsa Indonesia secara keseluruhan. Seruan dari Jombang ini, pada akhirnya, bukan sekadar intrik politik Muktamar, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang idealisme dan tanggung jawab moral dalam menjaga marwah sebuah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.













