Menu

Mode Gelap
Bikin Bangga! Siswa Indonesia Sabet Emas Olimpiade Geografi Internasional 2026 di Istanbul, Ini Sosoknya JKN Jamin Persalinan Anak Ketiga, Ibu di Sidoarjo Ini Ungkap Kelegaan Luar Biasa Program JKN PBI-JK: Ani Rasakan Kemudahan Akses Kesehatan Tanpa Beban Biaya Api di Peluk Peraduan Bromo Semeru: Perjuangan Tanpa Henti Melawan Karhutla yang Melahap Hutan Lumajang Roda Waktu yang Bergeser: Pelajaran dari Keterlambatan Kereta Malang Akibat Insiden di Klaten Era Baru Produktivitas: ASUS ExpertBook P5 G2, Ketika AI Bertemu Ketahanan untuk Profesional Hibrida

Pendidikan

Api di Peluk Peraduan Bromo Semeru: Perjuangan Tanpa Henti Melawan Karhutla yang Melahap Hutan Lumajang

badge-check


					Api di Peluk Peraduan Bromo Semeru: Perjuangan Tanpa Henti Melawan Karhutla yang Melahap Hutan Lumajang Perbesar

KlikMojok – Udara di sekitar Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) di Kabupaten Lumajang, yang biasanya segar dan sejuk, kini sesak oleh kepulan asap kelabu. Pemandangan gunung-gunung megah yang menjulang tinggi, kerap diselimuti kabut pagi, kini diselimuti ancaman. Sejak Rabu (26/8/2026) sore, tiga titik api telah membakar kawasan hutan yang menjadi paru-paru sekaligus mahkota alam Jawa Timur ini, menandai kembalinya musuh lama: kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Berdasarkan laporan terkini dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, titik-titik api tersebut teridentifikasi di Blok Jantur dan Ledok Pedor, yang terletak di Desa Argosari, serta Blok Ranu Kembang di Desa Ranupane, Kecamatan Senduro. Lokasi-lokasi ini, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari ekosistem Bromo Tengger Semeru, kini menjadi medan pertempuran para petugas melawan amukan si jago merah.

Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, memaparkan bahwa satu dari tiga titik kebakaran, yakni di Blok Jantur, telah berhasil dikendalikan. Tim gabungan kini sedang melakukan proses pendinginan intensif di area tersebut, sebuah langkah krusial untuk memastikan bara tidak kembali menyala dan memicu kebakaran susulan yang lebih besar. Namun, perjuangan belum usai, bahkan masih jauh dari kata selesai.

Sementara itu, dua titik api lainnya, di kawasan Ranu Kembang dan Ledok Pedor, masih terus berkobar dan menjadi fokus utama penanganan hingga Kamis (27/8/2026). “Di Ranu Kembang api sulit dijangkau karena berada di kemiringan tebing curang, sehingga belum berhasil dipadamkan, proses pemadaman juga masih dilakukan di Ledok Pedor,” ucap Isnugroho dengan nada prihatin di Lumajang, Kamis (27/8/2026).

Medan yang terjal dan sulit diakses memang menjadi kendala utama yang menghambat upaya pemadaman. Topografi kawasan yang didominasi tebing-tebing curam dan jurang dalam, terutama di titik Ranu Kembang, membuat petugas tidak bisa melakukan pemadaman secara langsung dengan mudah. Setiap langkah adalah pertaruhan, setiap upaya membutuhkan strategi matang dan keberanian luar biasa.

Gabungan personel dari BPBD, TNI-Polri, dan pihak Balai Besar Taman Nasional terus dikerahkan tanpa henti. Selain pemadaman langsung yang penuh risiko, mereka juga berupaya menciptakan sekat bakar. Sekat bakar ini berfungsi sebagai garis pertahanan, membatasi pergerakan api agar tidak semakin meluas ke area lain yang lebih sensitif, termasuk sepanjang jalur pendakian Gunung Semeru yang vital.

“Kondisi api masih menyala dan belum bisa dipadamkan. Jadi kita terus berupaya melakukan pemadaman bersama personel gabungan,” lanjut Isnugroho, menegaskan komitmen tanpa batas para pahlawan lingkungan ini. BPBD Lumajang, bersama seluruh personel gabungan, terus memantau perkembangan di seluruh titik kebakaran, memprioritaskan dua lokasi yang masih dijerat api, sembari menjaga ketat titik yang telah memasuki tahap pendinginan.

Peristiwa Karhutla ini bukan hanya sekadar berita tentang api yang melahap hutan, melainkan sebuah cermin tentang kerapuhan ekosistem dan urgensi edukasi lingkungan. Ini adalah pengingat bahwa keindahan alam Bromo Tengger Semeru, yang telah menjadi ikon dan sumber kehidupan, sangat rentan dan membutuhkan perlindungan kolektif. Perjuangan melawan api adalah perjuangan menjaga warisan alam, demi kelestarian bumi dan masa depan generasi yang akan datang.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Roda Waktu yang Bergeser: Pelajaran dari Keterlambatan Kereta Malang Akibat Insiden di Klaten

27 Agustus 2026 - 15:26 WIB

Inovasi Pembelajaran: Pelatihan AI Buka Jalan Guru Ciptakan Lagu dan Video Edukatif

27 Agustus 2026 - 15:24 WIB

Menjelang Muktamar NU ke-35, Jombang-Kediri-Mojokerto Diselimuti Langit Cerah Terik

27 Agustus 2026 - 12:34 WIB

Di Balik Panci Muktamar NU: Dapur Umum Tambakberas, Jantung Logistik Kemanusiaan

27 Agustus 2026 - 12:34 WIB

Dari Limbah Jadi Pupuk: KKN UMM Edukasi Warga Gedongboyountung untuk Lingkungan Mandiri

27 Agustus 2026 - 12:33 WIB

Trending di Pendidikan