KlikMojok – Pada Jumat malam, 21 Agustus 2026, mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (Unair) menggelar “rembuk rasa” di rumah Ketua RW 002 Kelurahan Sukolilo Baru, Kecamatan Bulak, Surabaya. Pertemuan ini menjadi langkah awal program Aksara 2026 atau “Airlangga Dekat Warga” yang bertujuan merajut “kampung berdikari” di Sukolilo Baru melalui kolaborasi aktif antara mahasiswa dan masyarakat. Fokus program ini meliputi peningkatan kesehatan, pendidikan, ekonomi, serta lingkungan, dengan menekankan pendekatan yang inklusif dan berbasis pada kebutuhan komunitas pesisir.
Pertemuan yang disebut “rembuk rasa” ini diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unair di kediaman Hanafi, yang menjabat sebagai Ketua RW 002 di Kelurahan Sukolilo Baru, Kecamatan Bulak, Surabaya.

Pada Jumat malam, tanggal 21 Agustus 2026, aroma khas laut tercium samar di antara cahaya temaram lampu teras. Ruangan tamu yang sederhana tersebut secara spontan berubah menjadi tempat berkumpul dan berdialog.
Dalam pertemuan itu, para mahasiswa berinteraksi dengan warga pesisir. Mahasiswa membawa sejumlah gagasan untuk program pengabdian masyarakat, sementara warga berbagi kekayaan pengalaman hidup mereka yang telah terbentuk seiring dengan dinamika pasang surut kehidupan di tepi laut.
Pertemuan malam itu diawali dengan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Kemudian, para ibu-ibu dari kampung tersebut dengan semangat menyanyikan “Mars PKK”. Tidak ketinggalan, “Hymne Airlangga” juga turut dilantunkan, menandakan kehadiran mahasiswa dari universitas tersebut.
Lagu tersebut berfungsi sebagai simbol kehadiran mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya di tengah-tengah komunitas Sukolilo Baru.
Nasiha, selaku Ketua PKK RW 002, memandu jalannya lantunan Mars PKK. Sementara itu, Hj. Farida memimpin doa dengan penuh kekhidmatan. Setelahnya, Tri Eko Sulistiowati mempresentasikan ide mengenai persiapan pembentukan “Kampung Pancasila”.
Gagasan ini membawa harapan besar untuk menciptakan sebuah kampung yang hidup rukun dan mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri. Semangat gotong royong menjadi prinsip utama yang ingin mereka pelihara dan kembangkan.
Pada malam itu, warga dan mahasiswa tidak hanya bertukar sapa, melainkan mulai meletakkan dasar bagi perjalanan pengabdian masyarakat yang akan berlangsung lebih lama. “Rembuk rasa” ini merupakan permulaan dari program Aksara 2026, yang memiliki akronim “Airlangga Dekat Warga”, sebuah inisiatif yang berada di bawah naungan Kementerian Pengabdian Masyarakat BEM Unair.
Para mahasiswa mempresentasikan rancangan program pengabdian mereka yang berjudul “Merangkai Potensi dan Mewujudkan Kampung Berdikari”. Program ini fokus pada lima bidang utama, yaitu kesehatan, pendidikan, ekonomi, lingkungan, serta sosial budaya.
Yogi Saputra, Ketua Pelaksana Aksara 2026, memimpin program ini didampingi oleh wakilnya, Clarista Prinangga. Keduanya adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga angkatan 2024. Mereka datang dengan semangat pengabdian yang menekankan pendekatan berbasis kebutuhan warga.
Yogi menegaskan, “Kami datang bukan untuk menggurui, Ibu-Ibu.”
Ia menjelaskan bahwa para mahasiswa justru ingin belajar dari masyarakat. Menurutnya, pengalaman hidup warga merupakan pengetahuan krusial dalam merancang program yang relevan dan tepat sasaran.
Yogi melanjutkan, “Kami di sini justru ingin menimba ilmu dan belajar langsung dari kearifan warga Sukolilo.”
Pernyataan tersebut menjadi panduan utama bagi rancangan program mereka. Para mahasiswa tidak berkeinginan untuk datang dengan membawa solusi yang hanya tampak ideal di atas kertas. Sebaliknya, mereka berupaya menemukan kebutuhan nyata masyarakat melalui dialog dan percakapan, dari sanalah mereka berharap ide-ide pengabdian dapat berkembang menjadi lebih relevan.
Program ini dijadwalkan akan dilaksanakan pada tanggal 18, 19, 20, 26, dan 27 September 2026. Sebelum pelaksanaan utama, mahasiswa akan mengadakan kembali rembuk final pada tanggal 3 September 2026.
Dengan adanya rembuk final ini, warga diberikan kesempatan untuk menyampaikan kebutuhan serta memberikan masukan. Hal ini bertujuan agar program dapat berjalan selaras dengan persoalan nyata yang ada di lapangan.
Wilayah pesisir memiliki beragam potensi yang dapat dikembangkan, salah satunya adalah hasil laut yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga. Melalui inisiatif bernama “Pesisir Berdaya”, mahasiswa dari berbagai fakultas akan membimbing para ibu untuk mengolah hasil laut.
Bahan-bahan tersebut akan diolah menjadi produk dengan nilai jual tinggi, seperti cookies dan dimsum ikan yang menjadi beberapa produk yang direncanakan. Selanjutnya, mahasiswa juga akan membantu warga dalam mengembangkan kemasan yang lebih menarik. Selain itu, produk-produk ini akan diarahkan untuk dapat menembus pasar digital dan lingkungan kampus.
Dengan pendekatan ini, hasil laut tidak hanya akan terbatas sebagai bahan konsumsi rumah tangga, tetapi juga berpotensi besar untuk berkembang menjadi sumber penghasilan baru bagi warga.
Namun, kegiatan pengabdian ini tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi keluarga. Pendidikan bagi anak-anak pesisir juga menjadi perhatian utama melalui serangkaian kegiatan, termasuk kunjungan lapangan (field trip) ke PT Campina Ice Cream Industry Tbk. Melalui kunjungan ini, anak-anak akan diajak untuk melihat dan merasakan dunia di luar lingkungan tempat tinggal mereka. Selain itu, mahasiswa juga akan menyelenggarakan edukasi reproduksi bagi remaja serta pemeriksaan gigi gratis yang bekerja sama dengan Persatuan Dokter Gigi Indonesia Surabaya.
Di sisi lain, sektor lingkungan akan disentuh melalui inovasi “rocket stove” atau tungku roket, yang dirancang khusus untuk mengurangi emisi asap dari aktivitas pembakaran. Anak-anak Taman Kanak-kanak (TK) juga akan diajak untuk mengenal lingkungan melalui kegiatan mendongeng. Diharapkan, pendekatan sederhana ini dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap bumi sejak usia dini.
Oleh karena itu, meskipun setiap program memiliki sasaran yang beragam, semuanya memiliki satu tujuan utama, yaitu untuk memperkuat keberdayaan masyarakat setempat.
Saat kondisi laut tidak mendukung, aktivitas ekonomi dan denyut kehidupan di wilayah pesisir cenderung melambat. Situasi inilah yang menjadi salah satu pertimbangan penting dalam merancang program-program mahasiswa.
Hanafi, Ketua RW 002 Sukolilo Baru, sangat menantikan penyelenggaraan Pasar Raya Airlangga Volume 2. Kegiatan ini akan dikombinasikan dengan senam pagi, dan warga juga akan memperoleh kesempatan untuk membeli sembako dengan harga separuh dari harga normal.
Diharapkan, program tersebut dapat meringankan beban ekonomi keluarga, terutama karena kondisi laut yang tidak menentu seringkali menyebabkan sebagian nelayan kesulitan melaut.
Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini dirancang agar tidak hanya menjadi agenda seremonial semata. Program ini berupaya memberikan solusi nyata terhadap berbagai persoalan yang dihadapi warga dalam kehidupan sehari-hari.
Pada malam yang sama, Sabrina, seorang mahasiswi dari Fakultas Perikanan dan Kelautan, melanjutkan presentasinya. Ia memperkenalkan rencana untuk panggung “Lentera Rakyat” dan “Pojok Literasi”, yang keduanya akan menjadi bagian integral dari acara malam penutupan.
Namun, panggung ini bukan hanya sekadar tempat pertunjukan. “Lentera Rakyat” dirancang sebagai forum dialog terbuka di mana para nelayan dapat menyampaikan berbagai keresahan mereka kepada akademisi dan wakil rakyat.
Isu lingkungan juga menjadi fokus perhatian. Warga akan membahas permasalahan proyek strategis nasional yang menimbulkan dampak pada area muara. Selain itu, mereka akan menyampaikan kekhawatiran terkait perubahan hasil tangkapan ikan. Forum ini diharapkan menjadi wadah pertemuan antara suara masyarakat dan para pemangku kepentingan.
Dengan demikian, pengabdian yang dilakukan mahasiswa tidak hanya terbatas pada penyelenggaraan program-program. Mereka juga menciptakan ruang agar pengalaman dan aspirasi warga dapat terangkat serta mendapat perhatian dalam diskursus publik.
Proses merajut “kampung berdikari” memerlukan waktu dan kesabaran yang panjang. Setiap gagasan yang muncul harus bersinergi dengan pengalaman warga agar dapat berkembang menjadi sebuah gerakan kolektif.
Pertemuan rembuk pada malam itu menandai langkah awal. Mahasiswa membawa bekal pengetahuan dari lingkungan akademik, sementara warga menyumbangkan pengalaman berharga dari kehidupan pesisir mereka.
Pertemuan ini berhasil menyatukan dua latar belakang yang berbeda. Meskipun demikian, keduanya menemukan kesamaan tujuan dalam semangat untuk belajar dan mengabdi kepada masyarakat.
Para mahasiswa yang terlibat berasal dari berbagai latar belakang daerah, sebagian di antaranya datang dari sekitar Gunung Arjuno, sementara yang lain berasal dari luar Pulau Jawa.
Kini, pengetahuan yang mereka miliki dibawa ke Sukolilo Baru. Para mahasiswa tidak datang dengan tujuan mengubah kampung secara sepihak. Sebaliknya, mereka bertekad untuk merajut perubahan bersama dengan partisipasi aktif warga. Setiap program yang dilaksanakan dianggap sebagai sehelai benang yang akan memperkuat kemandirian kampung.
Oleh karena itu, rembuk final yang akan diadakan pada tanggal 3 September 2026 menjadi sangat krusial. Forum ini berfungsi untuk memastikan bahwa setiap program yang dirancang benar-benar selaras dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Meskipun malam semakin larut saat pertemuan berakhir, gagasan-gagasan yang muncul pada malam itu justru mulai menemukan arahnya. Dari sebuah ruang tamu yang sederhana, cita-cita untuk mewujudkan kampung berdikari mulai dirajut melalui “rembuk rasa” ini. Kolaborasi menjadi benang utamanya, dengan warga dan mahasiswa sebagai tangan yang merajutnya. Pada intinya, pengabdian bukanlah tentang siapa yang datang dengan bekal pengetahuan yang lebih banyak, melainkan tentang kesediaan untuk mendengarkan dan bertumbuh bersama.
Sukolilo Baru menjadi titik permulaan dari perjalanan ini. Dari lokasi tersebut, diharapkan langkah-langkah kecil yang diambil dapat berkembang menjadi keberdayaan yang berkelanjutan dan lebih luas.













