Menu

Mode Gelap
Semarak HUT ke-81 RI di Park Royal Regency Sidoarjo: Kreativitas Warga Memukau Madiun Menari: Transformasi Kota Pendekar Jadi Magnet Budaya, Pukau Wakil Wali Kota Pekalongan Unesa Medic Run 2026: Mengukuhkan Lari sebagai Gaya Hidup Sehat Masyarakat Jawa Timur Dari Jombang, Asa Kepemimpinan Teduh di Pusaran Muktamar: Gus Kikin dan Spirit Kewirausahaan Nahdliyin Di Balik Tirai Dalem Kasepuhan: Sembilan Kiai Menentukan Arah Nahdlatul Ulama Ubah Mindset Takmir Masjid: Dana Umat Ada di Kantong Jemaah, Bukan Ditabung

Pendidikan

Keracunan Siswa Marak: KPAI Desak Evaluasi Program Makanan Bergizi

badge-check


					Keracunan Siswa Marak: KPAI Desak Evaluasi Program Makanan Bergizi Perbesar

KlikMojok.com – Kabar keracunan makanan lagi jadi perhatian serius, nih. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti peningkatan kasus keracunan makanan yang terjadi, dan salah satu penyebab yang disinyalir adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bagi Jasra Putra, Wakil Ketua KPAI, satu kasus keracunan pada anak saja sudah terbilang banyak. “Satu kasus anak yang mengalami keracunan bagi KPAI sudah cukup banyak. Artinya pemerintah perlu evaluasi menyeluruh program MBG,” tegas Jasra dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (20/9/2025). Ia menekankan bahwa ini adalah sinyal penting bagi pemerintah untuk segera mengevaluasi program MBG secara menyeluruh.

Baca juga: Prabowo Setuju Guru Dapat MBG, Tidak Hanya Murid

Gak cuma evaluasi, KPAI lewat Jasra, juga mengusulkan agar program MBG ini di-pause dulu sementara. Kenapa? Sampai panduan dan sistem pengawasannya bener-bener siap dan dijalankan oke oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

Jasra sendiri mengakui kalau KPAI enggak sepenuhnya tahu apa yang terjadi di ‘dapur’ program MBG. Tapi, melihat banyaknya kasus keracunan yang menimpa siswa, ia yakin banget ada sesuatu yang enggak beres alias ‘tidak terkendali’. “Mungkin kita tidak terlalu tahu, apa yang terjadi didalam. Tetapi dari jumlah korban, data, dan peristiwa kita tahu ada yang tidak terkontrol,” katanya.

Ia menganalogikan, ini seperti kita mengemudi mobil: “Ibarat mobil, punya target ingin cepat sampai, tetapi pandangan kita ke kaca depan mobil, tidak bisa mengawasi apa yang ada di depan, karena kecepatan yang terlalu tinggi.” Intinya, ada yang luput dari pantauan karena terlalu ngebut ngejar target.

Atas dasar itu, Jasra menegaskan pentingnya program MBG untuk mengerem sejenak, melakukan penghentian sementara. Tujuannya jelas: evaluasi menyeluruh pencapaian program, melihat kembali kondisi di lapangan, mengantisipasi risiko, dan memperketat pengawasan.

Selain itu, KPAI juga menggarisbawahi perlunya petugas khusus yang bertugas memonitor kesadaran dan kepekaan terhadap masalah kesehatan anak. Ini penting banget, apalagi menyangkut keselamatan mereka.

Baca juga: DPR: Biaya Keracunan Akibat MBG Harus Ditanggung Pemerintah, Bukan Orangtua

Dengan begitu, kasus keracunan makanan yang menimpa anak-anak, terutama di usia PAUD, bisa ditangani lebih cepat dan mendapatkan perhatian ekstra. Jasra juga menambahkan, kalau terjadi situasi darurat, “perlu alat alat terstandarisasi baik. Agar dapat di selamatkan, karena pertahanan mereka tidak sekuat kita.” Intinya, jangan sampai ada lagi anak-anak yang jadi korban karena kelalaian atau kurangnya pengawasan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Jombang, Asa Kepemimpinan Teduh di Pusaran Muktamar: Gus Kikin dan Spirit Kewirausahaan Nahdliyin

30 Agustus 2026 - 21:53 WIB

Di Balik Tirai Dalem Kasepuhan: Sembilan Kiai Menentukan Arah Nahdlatul Ulama

30 Agustus 2026 - 21:53 WIB

Ubah Mindset Takmir Masjid: Dana Umat Ada di Kantong Jemaah, Bukan Ditabung

30 Agustus 2026 - 21:52 WIB

Wagos Archery Cup 2: Ajang Panahan Pelajar Nasional Padukan Prestasi & Wisata di Gresik

30 Agustus 2026 - 21:51 WIB

Muktamar NU dan Riak Demokrasi: Saat Tata Tertib Menjadi Medan Uji Kedaulatan Peserta

30 Agustus 2026 - 18:51 WIB

Trending di Pendidikan