KlikMojok – Di tengah hiruk-pikuk inovasi digital yang terus merombak lanskap kehidupan, sebuah kegelisahan laten perlahan menguat di benak warga Amerika Serikat. Kecerdasan buatan (AI), yang selama ini digaungkan sebagai lokomotif kemajuan, kini mulai dipandang dengan tatapan waspada, bahkan cemas. Fenomena ini terungkap jelas dalam survei terbaru Pew Research Center, yang menunjukkan bahwa kekhawatiran publik terhadap meluasnya pemanfaatan AI kini melampaui antusiasme.
Angka-angka berbicara lugas: 52 persen warga dewasa AS menyatakan lebih khawatir ketimbang antusias terhadap penggunaan AI yang kian meresap dalam aktivitas sehari-hari. Sebuah lonjakan signifikan dibandingkan hanya 37 persen pada tahun 2021. Sebaliknya, optimisme tampak surut; “hanya 9 persen responden yang menyatakan lebih antusias daripada khawatir. Sementara itu, 37 persen lainnya menilai rasa khawatir dan antusiasme mereka terhadap AI berada pada tingkat yang sama,” demikian laporan Pew Research Center.
Inti dari kecemasan ini tak lain adalah bayang-bayang algoritma yang mengancam meja kerja. Mayoritas responden, sebanyak 71 persen, memperkirakan bahwa AI akan memangkas jumlah pekerjaan di Amerika Serikat dalam dua dekade mendatang. Prediksi ini semakin menguat, naik dari 64 persen dalam survei Pew pada tahun 2024. Persepsi publik jelas: AI lebih sering dilihat sebagai ancaman eksistensial bagi keberlangsungan pekerjaan, ketimbang sebagai pembuka gerbang peluang ekonomi baru. Hanya 5 persen responden yang optimistis bahwa AI justru akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja.
Yang menarik, kegelisahan ini tidak hanya merasuki kelompok usia yang lebih tua, yang mungkin secara stereotip dianggap kurang adaptif terhadap teknologi baru. Pew mencatat bahwa bahkan warga Amerika berusia di bawah 30 tahun, yang tumbuh dan bernapas dalam ekosistem digital, kini juga semakin waswas. Sebanyak 55 persen responden muda mengaku lebih khawatir daripada antusias terhadap peningkatan penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ini menunjukkan pergeseran sikap yang mencolok pada kelompok yang selama ini menjadi garda terdepan adopsi teknologi. Dalam isu ketenagakerjaan, data bahkan lebih menohok: 73 persen responden berusia di bawah 30 tahun memperkirakan AI akan mengurangi jumlah pekerjaan di AS dalam 20 tahun ke depan.
Ironisnya, di tengah pusaran kekhawatiran ini, adopsi AI di AS terus melaju kencang. Pew mencatat peningkatan signifikan dalam penggunaan chatbot AI, ringkasan hasil pencarian berbasis AI, serta berbagai perangkat pintar yang mengandalkan teknologi tersebut. Sekitar separuh orang dewasa di AS kini mengakui pernah menggunakan chatbot AI untuk beragam keperluan, mulai dari mencari informasi, membantu menyelesaikan tugas, hingga mengakses berita. Namun, pertumbuhan pemanfaatan yang masif ini tidak serta-merta berbanding lurus dengan peningkatan optimisme publik terhadap dampak AI secara keseluruhan. Justru, banyak warga Amerika merasa bahwa kemajuan AI berlangsung terlalu cepat, memicu kekhawatiran mendalam tentang keamanan data pribadi, akurasi informasi yang dihasilkan, serta dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas.
Temuan ini menggarisbawahi tantangan besar yang kini dihadapi oleh pemerintah, perusahaan teknologi, dan lembaga pendidikan. Pengembangan AI tidak boleh semata-mata berorientasi pada efisiensi dan profit bisnis. Ada kebutuhan mendesak untuk memperkuat perlindungan data, memastikan transparansi dalam penggunaan AI, meningkatkan keterampilan tenaga kerja agar relevan di era baru, serta merumuskan kebijakan transisi yang adil bagi pekerjaan-pekerjaan yang tak terhindarkan akan terdampak. Survei Pew Research Center ini bukan sekadar statistik; ini adalah cerminan bahwa AI telah bertransformasi dari sekadar isu teknologi menjadi persoalan ekonomi dan sosial yang fundamental, langsung menyentuh sendi-sendi rasa aman masyarakat terhadap masa depan pekerjaan mereka.












