Menu

Mode Gelap
TK Alam Yaa Bunayya Gresik Wujudkan Pendidikan Lingkungan Berkelanjutan Melalui Rumah Daur Ulang MBS Porong Dorong Pendidikan Merdeka: Ajak Siswa Jadi Cahaya dan Teladan Merdeka Belajar, Merdeka Berjiwa: Refleksi Kemerdekaan Sejati di Muhammadiyah Boarding School Porong Pawon Mbah Man: Oase Rasa Rumahan, Menjelajah Kuliner Menganti Gresik yang Tak Lekang Waktu Jejak Kepeng dan Aroma Nusantara: Menjelajahi Pasar Tiban Kong Java, Oase Kuliner di Ambarawa Jejak Hijau di Usia Dini: Kisah Rumah Daur Ulang TK Alam Yaa Bunayya Gresik Menjelajahi Pendidikan Lingkungan

Review

Pawon Mbah Man: Oase Rasa Rumahan, Menjelajah Kuliner Menganti Gresik yang Tak Lekang Waktu

badge-check


					Pawon Mbah Man: Oase Rasa Rumahan, Menjelajah Kuliner Menganti Gresik yang Tak Lekang Waktu Perbesar

KlikMojok – Jalan Raya Menganti, Gresik, Jawa Timur, di kala senja Ramadan mulai menyapa, bukan hanya dipenuhi lengkingan azan magrib yang dinanti, namun juga aroma harum aneka masakan rumahan yang menguar dari sebuah warung sederhana. Di sinilah, Pawon Mbah Man, sebuah nama yang kini menjadi primadona kuliner, membuka pintunya tepat pukul 15.00 WIB. Namun, jam itu hanyalah formalitas, sebab antrean pembeli sudah mengular jauh sebelum waktu buka, siap menyerbu puluhan menu lezat nan murah meriah yang dijanjikan.

Fenomena Pawon Mbah Man di Menganti, Gresik, bukan sekadar tentang makanan, melainkan sebuah kisah tentang kehangatan tradisi dan semangat berbagi. Warung yang berlokasi persis di depan Warung Nasi Uduk Mbah Man ini, seolah menjadi oase bagi para pencari takjil dan hidangan berbuka puasa yang tak hanya mengenyangkan, tapi juga menghangatkan hati. Saking tak sabarnya, tak jarang ada pelanggan yang “nyelonong” ke dapur, berupaya menjadi yang pertama dalam memilih hidangan favorit mereka. “Kadang jam dua siang sudah ada yang datang ke rumah, minta ini minta itu,” ujar Wahyu Utaminingsih, pengelola Pawon Mbah Man, diselingi tawa renyah, menggambarkan antusiasme pelanggannya.

Wahyu, yang bahu-membahu mengelola dapur ini bersama ibu, adik, dan para pegawainya, memegang teguh filosofi resep rumahan dan harga yang sangat bersahabat. Prinsip ini menjadi magnet utama yang tak pernah gagal memikat hati pelanggan. “Harga mulai dari lima ribu rupiah sampai lima puluh ribu. Pokoknya kami ingin semua orang bisa menikmati masakan enak tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam,” tuturnya dengan senyum sumringah, sebuah janji yang selalu ditepati. Di tengah gempuran harga kebutuhan pokok yang kian merangkak, Pawon Mbah Man menjadi bukti bahwa kelezatan dan keterjangkauan bisa berjalan beriringan.

Setiap sore, meja-meja di Pawon Mbah Man menjelma menjadi pameran kuliner yang menggugah selera. Di sisi kiri, deretan lauk pauk yang akrab di lidah seperti dadar jagung renyah, oseng cecek kenyal, urap-urap segar, sambel terong pedas, pepes pindang gurih, pepes jeroan, hingga sayur asem dan sambel goreng manisa, semuanya dibanderol hanya seharga Rp5.000 per porsi. Sebuah harga yang sulit dipercaya untuk kelezatan otentik.

Menjelajah sedikit lebih jauh, ada pepes patin, pepes bandeng, lele goreng garing, ricebox ayam kremes, hingga kepala ceker yang siap memanjakan lidah, semuanya hanya Rp8.000. Bagi yang menginginkan sentuhan khas Jawa Timur, pilihan seperti sate kepel ayam, krawu, dan es pisang ijo yang manis bisa dibawa pulang dengan harga Rp12.000. Setiap hidangan disiapkan dengan cermat, seolah mengundang nostalgia akan masakan ibu di rumah.

Untuk selera yang lebih mantap dan porsi yang lebih besar, tersedia pilihan lauk seperti ayam panggang yang meresap bumbunya, ayam geprek pedas, ayam rica-rica yang menggigit, krengsengan yang kaya rempah, rendang yang empuk, kothokan ikan pe, hingga bandeng presto, semuanya hanya Rp15.000. Puncak kenikmatan kuliner khas Jawa Timur juga hadir dalam semangkuk soto daging dan rawon yang hangat seharga Rp20.000. Atau, jika ingin memanjakan diri lebih, gurami bakar dan ayam kampung krispi tersedia dengan harga antara Rp35.000 hingga Rp50.000, menawarkan pengalaman bersantap yang tak terlupakan.

“Ramadan ini kami buka sampai H-2 Lebaran. Harapannya, semua yang datang bisa pulang dengan perut kenyang dan hati senang,” ungkap Wahyu, menegaskan komitmen Pawon Mbah Man untuk terus melayani hingga penghujung bulan suci. Lebih dari sekadar transaksi jual beli, Pawon Mbah Man adalah sebuah ruang di mana cita rasa, keramahan, dan semangat berbagi berpadu dalam setiap sendok masakan. Ia adalah potret nyata bagaimana sebuah warung sederhana mampu menjadi denyut nadi komunitas, tempat orang mencari tak hanya makanan, tetapi juga kehangatan dan kebahagiaan.

Jadi, bagi Anda yang melintas di sekitar Menganti, Gresik, jangan lewatkan kesempatan untuk singgah dan berburu takjil atau hidangan berbuka puasa di Pawon Mbah Man. Rasakan pengalaman kuliner yang otentik dan ramah di kantong. “Semoga tahun depan para pelanggan kembali lagi. Kami tunggu di depan Warung Nasi Uduk Mbah Man, Jalan Raya Menganti Sidowungu RT 1, Menganti, Gresik,” pungkas Wahyu, dengan harapan yang tulus, seolah mengundang setiap pelanggan untuk kembali merasakan keajaiban rasa di warungnya yang sederhana namun penuh makna.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jejak Kepeng dan Aroma Nusantara: Menjelajahi Pasar Tiban Kong Java, Oase Kuliner di Ambarawa

23 Agustus 2026 - 04:57 WIB

Ponsel POCO C81 Pro Hadir di Indonesia dengan Layar Lebar dan Baterai Jumbo

27 Mei 2026 - 10:11 WIB

Eksplorasi Surabaya: Rekomendasi Wisata Kuliner dan Hotel Terbaik

26 Mei 2026 - 21:37 WIB

Wajib Dibaca Guru dan Orang Tua, Ini 20 Buku Pendidikan Best Seller di Gramedia dan Shopee

31 Desember 2025 - 16:19 WIB

Cari SMP Terbaik di Surabaya? Ini Profil Sekolah Unggulan Berdasarkan Data Terbaru

30 Desember 2025 - 11:42 WIB

Trending di Review