Menu

Otomatis
Breaking News

Review

Jejak Kepeng dan Aroma Nusantara: Menjelajahi Pasar Tiban Kong Java, Oase Kuliner di Ambarawa

badge-check

Jejak Kepeng dan Aroma Nusantara: Menjelajahi Pasar Tiban Kong Java, Oase Kuliner di Ambarawa Perbesar

KlikMojok – Pagi di Ambarawa selalu menawarkan pesona tersendiri. Udara sejuk yang membelai kulit, embun yang masih menempel di dedaunan, dan bentangan hijau persawahan yang seolah tak berujung, berlatar siluet pegunungan yang agung. Di tengah ketenangan inilah, sebuah magnet bernama Pasar Tiban Kong Java muncul sepekan sekali, menghadirkan denyut kehidupan yang berbeda, jauh dari hiruk pikuk kota.

Pasar dadakan ini, yang berlokasi di tengah persawahan Desa Ngablak, Pojoksari, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, bukan sekadar tempat bertransaksi. Ia adalah sebuah perayaan atas kearifan lokal, sebuah jeda dari modernitas, yang hanya berlangsung singkat: setiap Ahad pagi, tepat pukul 07.00 hingga 09.00 WIB. Meskipun durasinya hanya dua jam, daya pikatnya mampu menarik pengunjung dari berbagai penjuru, sebagian besar datang dengan semangat bersepeda, mencari keringat sekaligus berburu rasa.

Perjalanan menuju lokasi Pasar Tiban Kong Java sendiri sudah menjadi bagian dari pengalaman. Jika sepeda tak tersedia, berjalan kaki sejauh 1,8 kilometer menyusuri jalanan pedesaan yang tenang adalah pilihan yang tak kalah menyenangkan. Udara segar yang menusuk paru-paru, melodi alam yang menenangkan, hingga pemandangan kawanan bebek yang beriringan bersama penggembalanya, semuanya menyatu membentuk suasana yang menenteramkan jiwa. Rasa lelah seolah menguap, digantikan oleh antisipasi akan kejutan yang menanti di ujung jalan.

Begitu tiba di lokasi, keunikan Pasar Tiban Kong Java langsung terasa. Di sinilah tradisi bertemu dengan rekreasi, dan transaksi menjelma menjadi permainan. Sistem pembayarannya tidak menggunakan uang rupiah seperti pasar pada umumnya, melainkan “kepeng”—mata uang logam kuno berbentuk bundar dengan lubang di tengah. Pengunjung diwajibkan menukarkan uang rupiah di meja kasir terlebih dahulu. Nilai tukarnya pun sederhana dan mudah diingat: dua kepeng setara Rp2.000, tiga kepeng Rp3.000, dan lima kepeng senilai Rp5.000. Penggunaan kepeng ini tidak hanya menambah nuansa nostalgia, tetapi juga memberikan pengalaman berbelanja yang unik dan mengasyikkan, seolah kembali ke masa lampau.

Di sepanjang pematang sawah, lapak-lapak kuliner tradisional berjajar rapi di bawah naungan joglo, menawarkan beragam hidangan yang menggoda selera. Dari gorengan hangat yang renyah, soto Semarang yang kaya rempah, lontong sayur yang gurih, hingga gudangan, pecel, dan blendung jagung yang manis, semua siap memanjakan lidah. Aneka jajanan tradisional lainnya juga tak ketinggalan, melengkapi daftar kekayaan kuliner Jawa yang disajikan.

Harga yang ditawarkan pun sangat bersahabat. Selembar tempe mendoan cukup ditebus dengan sepotong kepeng, sementara pisang goreng dihargai dua kepeng. Untuk seporsi blendung jagung atau gudangan, pengunjung hanya perlu merogoh tiga kepeng. Hidangan utama seperti soto Semarang dan lontong sayur yang mengenyangkan dibanderol dengan harga lima kepeng saja. Kehangatan sapaan para penjual menambah kenikmatan berbelanja. “Monggo mampir beli soto Semarangnya,” sapa ramah Wiginarti, salah satu karyawan Kong Java yang hari itu menjaga stan soto dan lontong. Bersama keluarga, kami pun tak melewatkan kesempatan mencicipi soto hangat itu. Gigin, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa “soto Semarang adalah salah satu menu khas Kong Java Café yang dihadirkan dalam pasar tiban ini, bersanding dengan hidangan-hidangan yang disiapkan warga sekitar.” Ini menunjukkan kolaborasi apik antara kafe dan warga lokal dalam melestarikan dan menyajikan kuliner tradisional.

Lebih dari sekadar pasar kuliner, Pasar Tiban Kong Java adalah destinasi rekreasi keluarga yang komplit. Perpaduan antara kelezatan makanan tradisional, pemandangan alam yang menyejukkan mata, udara segar yang menyehatkan, dan cara belanja yang unik, menjadikannya tempat yang menghadirkan pengalaman tak terlupakan. Ia bukan hanya memenuhi kebutuhan perut, tetapi juga menyentuh hati, menawarkan jeda dari rutinitas, dan meninggalkan kerinduan untuk kembali menjelajahi pesonanya di liburan berikutnya. Ini adalah bukti bahwa kekayaan budaya dan alam Indonesia mampu bersatu menciptakan pengalaman yang autentik dan berkesan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Petualangan Budaya Tiongkok di Mid-Autumn Festival Park Shanghai 2026 Surabaya: Ada Mahjong Berhadiah Trip ke China

13 Sep 2026 - 09:44 WIB

Petualangan Budaya Tiongkok di Mid-Autumn Festival Park Shanghai 2026 Surabaya: Ada Mahjong Berhadiah Trip ke China

Bikin Heboh! Komunitas Buku Kota Kupang Gelar Lapak Baca Gratis di Tamnos, Ubah Membaca Jadi Ajang Kumpul Seru

12 Sep 2026 - 18:49 WIB

Bikin Heboh! Komunitas Buku Kota Kupang Gelar Lapak Baca Gratis di Tamnos, Ubah Membaca Jadi Ajang Kumpul Seru

Strategi Inovatif Swiss-Belinn Manyar Surabaya: Sulap Restoran Hotel Bintang Empat Jadi Kopitiam Otentik nan Terjangkau

12 Sep 2026 - 18:47 WIB

Strategi Inovatif Swiss-Belinn Manyar Surabaya: Sulap Restoran Hotel Bintang Empat Jadi Kopitiam Otentik nan Terjangkau

Wyndham Surabaya Angkat Derajat Kuliner Khas Lokal Lewat Suroboyoan Business Lunch Buffet

12 Sep 2026 - 18:46 WIB

Wyndham Surabaya Angkat Derajat Kuliner Khas Lokal Lewat Suroboyoan Business Lunch Buffet

Menguak Jejak Peradaban Bojonegoro: Pameran di Museum Rajekwesi Ajak Generasi Muda

12 Sep 2026 - 12:40 WIB

Menguak Jejak Peradaban Bojonegoro: Pameran di Museum Rajekwesi Ajak Generasi Muda
Trending di Review