Menu

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Tiga Kunci ‘Mengetuk Pintu Langit’ dari Pengajian PCM Kebomas: Belajar dari Jenderal Soedirman

badge-check

Tiga Kunci ‘Mengetuk Pintu Langit’ dari Pengajian PCM Kebomas: Belajar dari Jenderal Soedirman Perbesar

KlikMojok – Dalam sebuah Pengajian Ahad Pagi yang diadakan oleh Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebomas, Gresik, jemaah diajak untuk mendalami pentingnya memperkuat hubungan dengan Allah serta sesama manusia, sebuah tema yang esensial dalam upaya ‘mengetuk pintu langit’.

Kegiatan keagamaan tersebut, yang diselenggarakan pada Ahad, 20 September 2026, secara spesifik mengangkat tema mendalam: “Mengetuk Pintu Langit, Memperbaiki Hubungan di Bumi”.

Bertempat di Masjid At-Taqwa Giri, Cabang Kebomas, pengajian ini menghadirkan sosok ulama terkemuka, K.H. Drs. Masyhad Bahri, S.H., M.Pd.I., sebagai narasumber utama.

K.H. Masyhad Bahri mengawali penjelasannya mengenai tema tersebut dengan merujuk pada ayat suci Al-Qur’an, yaitu Surah Ali Imran ayat 112, yang disampaikan kepada seluruh jemaah yang hadir.

Allah SWT berfirman dalam ayat tersebut, sebagai berikut: “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan.” Ayat ini melanjutkan, “Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.”

Sebagai Pembimbing jemaah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya, K.H. Masyhad Bahri kemudian menguraikan salah satu kekeliruan fundamental orang-orang Yahudi yang tersirat dalam ayat tersebut.

Beliau mengutip kembali bagian dari ayat tersebut, “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia.”

Menurut penjelasan K.H. Masyhad, kaum tersebut tidak akan meraih kemenangan secara mandiri tanpa adanya dukungan dari pihak lain, baik dari kalangan bangsa Arab maupun dari kelompok non-Arab.

Faktanya, sebelum kedatangan ajaran Islam, mereka bahkan terlibat dalam konflik dan peperangan di antara sesama kaumnya sendiri.

Namun, kehinaan mulai menyelimuti mereka ketika mereka menolak dan mendustakan Nabi Isa, meskipun beliau adalah utusan yang diutus kepada mereka.

K.H. Masyhad selanjutnya memaparkan bahwa meskipun kaum Yahudi dikenal memiliki persenjataan yang canggih dan modern, ada satu aspek krusial yang lenyap dari diri mereka, yaitu keteguhan iman dan pendirian.

“Mereka penuh dengan kehinaan di mana saja mereka berada,” ungkap K.H. Masyhad, mengutip kembali bagian dari ayat suci tersebut.

Beliau juga menambahkan bahwa kaum Yahudi, karena penolakan mereka, tidak akan memiliki akal yang sehat dan tidak akan memperoleh petunjuk yang dapat dijadikan pedoman hidup.

Berdasarkan pandangan K.H. Masyhad, strategi utama yang mereka gunakan hanya berkisar pada penyebaran fitnah, memicu peperangan, dan melakukan tindakan pengrusakan.

Meskipun demikian, mereka acap kali abai bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi dan mengintai setiap perbuatan yang mereka lakukan.

Namun, K.H. Masyhad menegaskan bahwa pengalaman yang sangat berbeda akan dirasakan oleh hamba-hamba Allah yang berupaya ‘mengetuk pintu langit’ dengan cara memperbaiki dan mempererat hubungan mereka di muka bumi.

Sebagai teladan, beliau mencontohkan sosok Jenderal Besar Soedirman, seorang pemimpin yang tak pernah lepas dari keadaan berwudu. Jenderal Soedirman dikenal luas sebagai pemimpin yang sangat disiplin dalam menjaga kesucian diri, senantiasa berwudu dalam berbagai situasi dan kondisi, bahkan di tengah kerasnya medan perang gerilya yang penuh tantangan.

Kebiasaan menjaga wudu ini diyakini menjadi semacam ‘jimat’ batiniah atau rahasia di balik keteguhan dan kekuatan spiritual beliau, di samping prinsip-prinsip utama lain yang ia pegang teguh.

Prinsip pertama yang diamalkan Jenderal Soedirman adalah menjaga wudu. Beliau senantiasa berupaya berada dalam keadaan suci atau berwudu sepanjang waktu, tanpa terkecuali, bahkan ketika dalam kondisi sakit parah atau saat harus berpindah-pindah tempat selama perjuangan.

Kedua, melaksanakan salat tepat waktu. Jenderal Soedirman menunjukkan kedisiplinan luar biasa dalam mendirikan salat fardu pada awal waktu, tidak peduli seberapa genting atau sulitnya situasi yang sedang dihadapinya.

Ketiga, berbakti kepada orang tua. Beliau sangat menjunjung tinggi nilai-nilai penghormatan dan pengabdian kepada kedua orang tuanya, serta senantiasa bertawakal penuh kepada Allah SWT dalam setiap langkah perjuangannya.

Keseluruhan prinsip dan kedisiplinan religius yang dipegang teguh oleh Jenderal Besar Soedirman ini tidak hanya membentuk karakter moral yang teladan, tetapi juga secara signifikan membakar semangat juang beliau dalam mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Republik Indonesia.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Napas Sejarah yang Kembali: Arca Durga Kediri, Sebuah Pengingat Tanggung Jawab Pelestarian Budaya

20 Sep 2026 - 15:19 WIB

Napas Sejarah yang Kembali: Arca Durga Kediri, Sebuah Pengingat Tanggung Jawab Pelestarian Budaya

Ketika Abu Membawa Petaka: Pelajaran Penting dari Terbakarnya Gudang Rosok Magetan

20 Sep 2026 - 15:19 WIB

Ketika Abu Membawa Petaka: Pelajaran Penting dari Terbakarnya Gudang Rosok Magetan

Makna Mendalam Peresmian Kantor Baru Lazismu Bojonegoro: Berawal dari Hibah Keluarga untuk Umat

20 Sep 2026 - 15:18 WIB

Makna Mendalam Peresmian Kantor Baru Lazismu Bojonegoro: Berawal dari Hibah Keluarga untuk Umat

Pembekalan Intensif SD Almadany Antarkan 27 Siswa Berprestasi ke Semifinal KSNR Ke-8

20 Sep 2026 - 15:17 WIB

Pembekalan Intensif SD Almadany Antarkan 27 Siswa Berprestasi ke Semifinal KSNR Ke-8

Semangat Juang di Tanah Blambangan: Soekarno Run dan BIG Downhill 2026 Banyuwangi, Merajut Prestasi dan Edukasi

20 Sep 2026 - 12:39 WIB

Semangat Juang di Tanah Blambangan: Soekarno Run dan BIG Downhill 2026 Banyuwangi, Merajut Prestasi dan Edukasi
Trending di Pendidikan