Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

STS Spemsaga: Inovasi Evaluasi dengan Dongeng Kreatif dan Sinopsis Film ‘Sang Pencerah’

badge-check

STS Spemsaga: Inovasi Evaluasi dengan Dongeng Kreatif dan Sinopsis Film ‘Sang Pencerah’ Perbesar

KlikMojok – Pada hari pertama pelaksanaan Sumatif Tengah Semester (STS) di Sekolah Kreatif SMP Muhammadiyah 15 Menganti (Spemsaga), para siswa diajak untuk mengolah materi pelajaran menjadi dongeng yang kreatif serta sinopsis film yang penuh makna. Pendekatan inovatif ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berkarya siswa.

Kegiatan STS yang diselenggarakan di Sekolah Kreatif SMP Muhammadiyah 15 Menganti (Spemsaga) pada Senin, 28 September 2026, berlangsung dengan suasana yang tertib, serius, namun tetap penuh semangat. Evaluasi ini menjadi momen penting bagi para pionir Spemsaga.

Para “pionir,” sebutan untuk siswa di Spemsaga, mengikuti evaluasi ini dengan pendekatan yang jauh berbeda dari metode konvensional. Khususnya pada hari pertama STS Ganjil, kurikulum Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Kemuhammadiyahan dipadukan secara harmonis.

Berbeda dengan ujian yang hanya mengandalkan hafalan, setiap materi pelajaran diolah menjadi sebuah karya yang secara langsung menuntut kreativitas dan pemahaman mendalam dari para siswa. Mereka tidak hanya menjawab pertanyaan, melainkan ditantang untuk menyusun gagasan-gagasan mereka menjadi sebuah bentuk tulisan yang utuh.

Melalui proses ini, para siswa juga didorong untuk menghubungkan pengetahuan yang telah mereka peroleh dengan pengalaman pribadi serta imajinasi mereka, menciptakan pembelajaran yang lebih relevan dan menarik.

Sesi pertama STS difokuskan pada integrasi mata pelajaran Bahasa Indonesia dan IPS. Dalam tugas terpadu ini, para pionir diberi tantangan untuk menciptakan sebuah dongeng yang bersumber dari materi-materi yang telah mereka pelajari sebelumnya.

Materi-materi pelajaran dari kedua bidang tersebut kemudian dirangkai menjadi sebuah cerita yang unik, sesuai dengan imajinasi masing-masing siswa. Oleh karena itu, kemampuan mereka dalam menyusun alur cerita menjadi krusial agar dongeng yang dihasilkan tetap menarik dan mudah dipahami oleh pembaca.

Shakila Azzahra, salah satu pionir dari kelas VII Olympus, membagikan pengalamannya terkait tugas pembuatan dongeng ini.

“Membuat dongeng dari pelajaran Bahasa Indonesia dan IPS bagus, walaupun sempat bingung,” ujar Shakila, menggambarkan perasaannya saat awal mengerjakan tugas.

Namun, ia melanjutkan, setelah mendapatkan penjelasan lebih lanjut, proses pengerjaannya menjadi lebih mudah. “Bahasa Indonesianya masuk dan IPS-nya juga dapat,” tutur Shakila, menunjukkan bahwa integrasi materi berhasil dipahami.

Meskipun tantangan terbesar baginya adalah menyusun alur cerita yang koheren, Shakila mengakui bahwa proses tersebut justru menjadikan kegiatan belajar terasa seru dan menyenangkan.

Setelah menyusun ide-ide pokok, para pionir kemudian mengembangkan cerita mereka menggunakan perangkat tablet. Proses pengetikan naskah ini juga melatih mereka untuk memperhatikan kaidah kebahasaan seperti ejaan, penggunaan tanda baca, huruf kapital, dan penyusunan paragraf yang benar.

Secara tidak langsung, kegiatan ini tidak hanya mengasah kreativitas tetapi juga melatih ketelitian siswa dalam menulis. Lebih lanjut, pemanfaatan tablet dalam proses ini turut memperkuat keterampilan literasi digital yang sangat penting bagi para pionir di era modern.

Menariknya, karya dongeng yang telah mereka buat tidak hanya berhenti sebagai naskah digital di layar tablet. Setelah tahap penulisan selesai, para pionir dijadwalkan untuk mempresentasikan dongeng mereka di depan kelas, lengkap dengan penggunaan properti yang relevan sesuai tema cerita.

Tahap presentasi ini secara efektif membuka ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi lisan mereka. Selain itu, mereka juga belajar bagaimana menyampaikan gagasan dan cerita dengan cara yang kreatif dan penuh percaya diri di hadapan audiens.

Setelah merampungkan tugas terpadu Bahasa Indonesia dan IPS, kegiatan STS dilanjutkan dengan sesi Kemuhammadiyahan. Dalam sesi ini, para pionir diberikan tugas untuk membuat sinopsis dari film inspiratif berjudul “Sang Pencerah.”

Ustaz Assidik Wibowo, S.T., selaku pengampu kegiatan Kemuhammadiyahan, menekankan pentingnya tugas ini. Ia meminta para pionir agar tidak sekadar mengingat alur cerita film, melainkan juga memahami secara mendalam pesan-pesan perjuangan yang terkandung di dalamnya.

Muhammad Fatih Al-Akbar, salah satu pionir yang telah menyaksikan film tersebut, mengungkapkan kesan-kesannya.

“Ketika melihat filmnya, rasanya campur aduk, seru, deg-degan, dan merinding,” ungkap Fatih, menggambarkan intensitas emosi yang ia rasakan.

Dari penayangan film tersebut, Fatih kemudian menemukan sosok K.H. Ahmad Dahlan sebagai salah satu sumber inspirasi pribadinya.

“Salah satu yang menjadi inspirasiku yaitu K.H. Ahmad Dahlan,” lanjut Fatih. Ia menambahkan bahwa “Beliau telah mengajarkan tentang ilmu yang sebenarnya,” merujuk pada nilai-nilai yang disampaikan dalam film.

Melalui penugasan sinopsis film ini, para pionir secara langsung diajak untuk mengenal lebih jauh perjalanan perjuangan K.H. Ahmad Dahlan. Beliau adalah sosok pendiri Muhammadiyah yang gigih memperjuangkan kemajuan pendidikan dan dakwah Islam di Indonesia.

Film “Sang Pencerah” juga secara gamblang memperlihatkan berbagai upaya K.H. Ahmad Dahlan dalam mengajak masyarakat untuk memahami ajaran Islam yang murni, dengan berpijak kuat pada nilai-nilai Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Oleh karena itu, tugas pembuatan sinopsis ini bukan sekadar latihan menulis biasa. Lebih dari itu, para pionir belajar untuk menangkap esensi pesan, memahami nilai-nilai perjuangan, dan kemudian merangkumnya secara runtut dan sistematis.

Sebagai hasilnya, rangkaian kegiatan STS pada hari pertama berhasil menghadirkan pengalaman belajar yang sangat beragam dan holistik. Aspek literasi, kreativitas, pemanfaatan teknologi, kemampuan komunikasi, serta pemahaman sejarah, semuanya berpadu harmonis dalam satu kegiatan evaluasi yang inovatif.

Melalui pendekatan pembelajaran yang unik ini, evaluasi tidak lagi hanya berfungsi untuk mengukur kemampuan siswa dalam mengingat materi pelajaran. Sebaliknya, para pionir juga dilatih untuk mengolah pengetahuan yang mereka miliki menjadi sebuah karya nyata yang memiliki makna dan relevansi.

Bagi Spemsaga, proses belajar semacam ini merupakan ruang yang sangat berharga bagi para pionir untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berkreasi, dan pada akhirnya, menemukan makna yang lebih dalam dari setiap pelajaran yang mereka ikuti.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ketika Calon Dokter Tumbang: Misteri Keracunan Makanan Landa Ratusan Peserta PPDS Unair di RSUD Dr Soetomo

29 Sep 2026 - 15:19 WIB

Ketika Calon Dokter Tumbang: Misteri Keracunan Makanan Landa Ratusan Peserta PPDS Unair di RSUD Dr Soetomo

Jeda Penantian Guru PPPK, Sekolah Rakyat Blitar Berdenyut Berkat Kesetiaan Para Pengajar Tamu

29 Sep 2026 - 15:18 WIB

Jeda Penantian Guru PPPK, Sekolah Rakyat Blitar Berdenyut Berkat Kesetiaan Para Pengajar Tamu

Tun Dr. Siti Hasmah Mohamad Ali: Mengenang Legasi Perintis Kesehatan Masyarakat Malaysia

29 Sep 2026 - 15:17 WIB

Tun Dr. Siti Hasmah Mohamad Ali: Mengenang Legasi Perintis Kesehatan Masyarakat Malaysia

Pagi yang Terenggut di Mojoagung: Tragedi Jalan Raya Jombang dan Panggilan Keselamatan

29 Sep 2026 - 12:37 WIB

Pagi yang Terenggut di Mojoagung: Tragedi Jalan Raya Jombang dan Panggilan Keselamatan

Di Balik Butiran Rastrada: Ketika Niat Baik Kualitas Beras Blitar Terganjal Batas Harga dan Ancaman Inflasi

29 Sep 2026 - 12:36 WIB

Di Balik Butiran Rastrada: Ketika Niat Baik Kualitas Beras Blitar Terganjal Batas Harga dan Ancaman Inflasi
Trending di Pendidikan