Menu

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Nadi Terakhir yang Melambat: Ketika Ambulans Jenazah PMI Ponorogo Mencapai Usia Senja

badge-check

Nadi Terakhir yang Melambat: Ketika Ambulans Jenazah PMI Ponorogo Mencapai Usia Senja Perbesar

KlikMojok – Di balik dinding markas Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Ponorogo, sebuah kendaraan tua berdiri tegak, menyimpan segudang kisah perjalanan terakhir. Bukan sekadar mobil, ia adalah nadi kemanusiaan yang telah mengantarkan ribuan jiwa menuju peristirahatan abadi. Namun, kini, nadi itu mulai melambat, seiring usianya yang kian senja. Ambulans jenazah satu-satunya milik PMI Kabupaten Ponorogo telah menapaki usia dua dekade, memicu kondisi darurat yang mendesak perhatian serius dari berbagai pihak.

Kondisi ini bukan sekadar masalah teknis kendaraan, melainkan cerminan tantangan besar dalam menyediakan layanan kemanusiaan yang esensial. Ketua Harian PMI Ponorogo, Sumani, dengan nada prihatin mengungkapkan urgensi situasi ini. “Pengadaan ambulans jenazah baru kini menjadi kebutuhan mendesak di PMI Ponorogo,” kata Sumani saat ditemui usai acara HUT PMI di Pendopo Agung Pemkab Ponorogo, Rabu (23/9/2026).

Sumani menjelaskan bahwa satu-satunya ambulans jenazah yang mereka miliki adalah armada lama, yang mulai dioperasikan sejak tahun 2006. Dengan usia kendaraan yang sudah mencapai dua puluh tahun, kapasitas operasionalnya dinilai tidak lagi memadai, terutama untuk menempuh perjalanan jauh. “Mobil ambulans jenazah cuma satu, tahun 2006. Berarti sudah 20 tahun, sehingga apabila ada permintaan luar kota, kami mohon maaf belum mampu,” ungkap Sumani, menggambarkan keterbatasan yang mereka hadapi.

Untuk pelayanan pengantaran jenazah di dalam wilayah Ponorogo, armada tersebut masih diupayakan untuk melayani masyarakat. Namun, situasi berubah drastis ketika ada permintaan menuju daerah lain yang jaraknya cukup jauh. PMI terpaksa harus mempertimbangkan kondisi kendaraan secara matang sebelum menerima layanan tersebut, demi keamanan dan kelancaran proses. “Kalau dalam kota saya kira masih cukup. Untuk itu, kita sudah mengajukan ke daerah,” tambah Sumani, mengisyaratkan langkah-langkah yang telah diambil.

Keterbatasan anggaran menjadi kendala utama bagi PMI Ponorogo untuk secara mandiri melakukan pengadaan ambulans jenazah baru. PMI selama ini sangat bergantung pada dana kemanusiaan yang bersifat umum untuk menjalankan berbagai pelayanan kepada masyarakat, termasuk layanan gratis dan penanganan bencana. Dana ini, menurut Sumani, berbeda dengan alokasi hibah yang diterima oleh PMI di kota-kota besar. “Jadi di Jakarta, di Solo, di daerah lain itu memang tinggi hibahnya,” jelasnya, menyoroti disparitas dukungan finansial yang ada.

Menyadari keterbatasan tersebut, PMI Ponorogo tidak tinggal diam. Sumani mengatakan pihaknya telah mengajukan kebutuhan armada baru ini melalui beberapa jalur pemerintahan, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat. Harapan besar disematkan agar kebutuhan mendesak ini dapat terealisasi pada tahun depan, demi kelancaran pelayanan kepada masyarakat. “Pokoknya kita mengajukan beberapa tempat, yakni di Pemda, Pemprov, dan Pusat. Harapannya tahun depan dapat, katanya dapat,” jelas Sumani, menunjukkan optimisme di tengah tantangan.

Sumani juga menegaskan pentingnya memiliki ambulans jenazah khusus. Ambulans biasa tidak bisa begitu saja digunakan untuk mengangkut jenazah karena adanya ketentuan dan standar khusus yang harus dipenuhi. Kendaraan yang digunakan untuk layanan ini harus memiliki penanda dan spesifikasi sebagai ambulans jenazah. “Dan ambulans yang lain itu tidak boleh untuk jenazah, harus ada bertuliskan ambulans jenazah. Harus gitu, itu ketentuan,” tegasnya. Ini berarti, kebutuhan PMI Ponorogo bukan sekadar menambah kendaraan operasional, tetapi secara spesifik membutuhkan satu unit ambulans jenazah yang memenuhi regulasi.

Kisah ambulans berusia senja ini menjadi pengingat akan pentingnya dukungan kolektif terhadap lembaga kemanusiaan seperti PMI. Pelayanan pengantaran jenazah bukan hanya soal logistik, tetapi juga tentang menghormati martabat terakhir seseorang dan memberikan ketenangan bagi keluarga yang berduka. Kondisi ini mendidik kita semua tentang urgensi menguatkan infrastruktur pelayanan publik, memastikan bahwa nadi kemanusiaan di setiap daerah tetap berdenyut kuat, tak peduli seberapa terpencil lokasinya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Dua Mahkota, Satu Jalan Berliku: Dilema Elim Tyu Samba Pimpin KONI Kota Blitar di Tengah Sorotan Rangkap Jabatan

23 Sep 2026 - 15:19 WIB

Dua Mahkota, Satu Jalan Berliku: Dilema Elim Tyu Samba Pimpin KONI Kota Blitar di Tengah Sorotan Rangkap Jabatan

Titik Terang di Ujung Samudra: Jejak Ilmiah DVI Polri dalam Identifikasi ABK Arupadhatu

23 Sep 2026 - 15:18 WIB

Titik Terang di Ujung Samudra: Jejak Ilmiah DVI Polri dalam Identifikasi ABK Arupadhatu

Membangun Lingkungan Aman: Seminar Pencegahan Perundungan di SMPM 8 Tanggulangin Tekankan Peran Aktif Siswa

23 Sep 2026 - 15:17 WIB

Membangun Lingkungan Aman: Seminar Pencegahan Perundungan di SMPM 8 Tanggulangin Tekankan Peran Aktif Siswa

Science Camp Spemdalas: Membangun Karakter dan Keterampilan Lewat Sains di Hutan Cempaka

23 Sep 2026 - 15:17 WIB

Science Camp Spemdalas: Membangun Karakter dan Keterampilan Lewat Sains di Hutan Cempaka

Pertama di Dunia: Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah Klang Lama Dilantik Langsung PP di Malaysia

23 Sep 2026 - 12:40 WIB

Pertama di Dunia: Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah Klang Lama Dilantik Langsung PP di Malaysia
Trending di Pendidikan