Menu

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Muhammadiyah Harus Kompak, Kreatif, Konsisten, Kata Abdul Mu’ti

badge-check

Muhammadiyah Harus Kompak, Kreatif, Konsisten, Kata Abdul Mu’ti Perbesar

KlikMojok – Abdul Mu’ti, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, baru-baru ini membuka Regional Meeting LPCRPM PWM Jawa Timur Cluster Malang Raya di Perguruan Muhammadiyah Batu pada Ahad, 20 September 2026. Dalam kesempatan penting tersebut, ia menyampaikan pesan-pesan kunci mengenai arah dan semangat gerakan Muhammadiyah ke depan, menekankan pentingnya kekompakan, kreativitas, dan konsistensi.

Abdul Mu’ti secara khusus mendorong Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) untuk terus mengembangkan inisiatif yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Menurutnya, konsep tajdid atau pembaharuan dalam Muhammadiyah tidak cukup hanya diartikan sebagai “bergerak”. Ia menambahkan, “Tajdid itu bergerak, tetapi harus kreatif.”

Lebih lanjut, ia mengingatkan tentang ajaran Rasulullah SAW yang menekankan perlunya menyesuaikan urusan duniawi dengan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki manusia.

Oleh karena itu, Abdul Mu’ti menyoroti bahwa pengelolaan masjid, sebagai salah satu pilar penting gerakan, memerlukan sentuhan kreativitas agar dapat semakin mendekatkan diri dengan kebutuhan dan aspirasi jamaah. “Bangun masjid modelnya sekreatif mungkin, bentuk bangunan seperti apa boleh, tapi harus menghadap kiblat,” ujarnya menegaskan.

Pada momen pertemuan regional itu, Abdul Mu’ti memaparkan tiga prinsip fundamental yang harus menjadi pedoman dalam menggerakkan organisasi Muhammadiyah, yaitu kompak, kreatif, dan konsisten.

Sebaliknya, ia juga meminta seluruh warga Muhammadiyah untuk menjauhi tiga hal yang dapat menghambat kemajuan: konflik internal, praktik korupsi, dan sikap kolot atau tidak mau beradaptasi.

Abdul Mu’ti meyakini bahwa Muhammadiyah memiliki modal sosial yang sangat kuat di tengah masyarakat.

Selain itu, publik mengenal Muhammadiyah sebagai organisasi yang memiliki tata kelola yang tertib dan akuntabel, sebuah reputasi yang telah terbangun kokoh.

Ia menggambarkan kekuatan organisasi ini melalui sebuah perumpamaan sederhana. Gerakan Muhammadiyah, katanya, mampu berkembang lebih besar ketika mendapatkan dukungan atau bantuan. Namun, yang lebih penting, gerakan ini tetap harus berjalan dan berdaya sekalipun tanpa uluran bantuan.

“Kalau dibantu tiga jadi empat, kalau dibantu empat jadi enam. Tidak dibantu juga tidak apa-apa. Itu modal,” tuturnya, menggarisbawahi kemandirian dan kekuatan internal Muhammadiyah.

Oleh karena itu, Abdul Mu’ti sangat menekankan pentingnya mewujudkan karya nyata. Ia menyatakan bahwa Muhammadiyah akan lebih efektif berkomunikasi melalui tindakan dan hasil kerja, bukan sekadar melalui kata-kata.

Sebagai contoh, ia menyebutkan pelayanan bakso sepuluh ribu yang disajikan dalam acara Muktamar Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya, inisiatif pelayanan semacam itu menjadi teladan konkret dari karya yang berbicara lebih keras daripada ucapan.

Abdul Mu’ti juga menyinggung respons sigap Muhammadiyah terhadap bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT). Gerakan ini bergerak cepat untuk memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak dan membangun rumah-rumah darurat.

“Kalau punya karya, banyak yang mau bekerja sama,” katanya, menyoroti bagaimana karya nyata membuka pintu kolaborasi.

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa gerakan-gerakan nyata seperti ini tentu melibatkan partisipasi aktif dari tingkat ranting, cabang, dan juga masjid-masjid.

Ranting dan cabang Muhammadiyah, lanjutnya, memiliki tugas untuk mengembangkan berbagai inisiatif dan program yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik masyarakat di wilayah kerja masing-masing.

Ia kemudian memberikan contoh gerakan sederhana yang bisa diterapkan di lingkungan jamaah masjid. Jamaah dapat memulai dengan merintis kegiatan tahajud, tadarus Al-Qur’an, salat Subuh berjamaah, dan sarapan bersama.

Setelah kegiatan keagamaan, jamaah bisa melanjutkan dengan aktivitas fisik seperti olahraga, senam, atau jalan sehat. Saat berjalan, ia menyarankan agar jamaah membawa kantong plastik untuk memungut sampah yang ditemui di sepanjang jalan.

Menurut Abdul Mu’ti, rangkaian kegiatan sederhana tersebut merupakan bentuk dakwah riil yang sangat efektif. Gerakan semacam itu dapat dilaksanakan oleh ranting, cabang, maupun jamaah masjid Muhammadiyah.

“Sederhana, tetapi konsisten akan mampu menjadi gerakan dan syiar Muhammadiyah di masyarakat,” pesannya, mengakhiri pembicaraannya dengan penekanan pada kekuatan konsistensi dalam aksi nyata.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Napas Sejarah yang Kembali: Arca Durga Kediri, Sebuah Pengingat Tanggung Jawab Pelestarian Budaya

20 Sep 2026 - 15:19 WIB

Napas Sejarah yang Kembali: Arca Durga Kediri, Sebuah Pengingat Tanggung Jawab Pelestarian Budaya

Ketika Abu Membawa Petaka: Pelajaran Penting dari Terbakarnya Gudang Rosok Magetan

20 Sep 2026 - 15:19 WIB

Ketika Abu Membawa Petaka: Pelajaran Penting dari Terbakarnya Gudang Rosok Magetan

Makna Mendalam Peresmian Kantor Baru Lazismu Bojonegoro: Berawal dari Hibah Keluarga untuk Umat

20 Sep 2026 - 15:18 WIB

Makna Mendalam Peresmian Kantor Baru Lazismu Bojonegoro: Berawal dari Hibah Keluarga untuk Umat

Pembekalan Intensif SD Almadany Antarkan 27 Siswa Berprestasi ke Semifinal KSNR Ke-8

20 Sep 2026 - 15:17 WIB

Pembekalan Intensif SD Almadany Antarkan 27 Siswa Berprestasi ke Semifinal KSNR Ke-8

Semangat Juang di Tanah Blambangan: Soekarno Run dan BIG Downhill 2026 Banyuwangi, Merajut Prestasi dan Edukasi

20 Sep 2026 - 12:39 WIB

Semangat Juang di Tanah Blambangan: Soekarno Run dan BIG Downhill 2026 Banyuwangi, Merajut Prestasi dan Edukasi
Trending di Pendidikan