Menu

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Keteguhan Raihana Yasmin Hafal Quran: Peran Kakak dan Doa Orang Tua di Balik Tangisan Rindu

badge-check

Keteguhan Raihana Yasmin Hafal Quran: Peran Kakak dan Doa Orang Tua di Balik Tangisan Rindu Perbesar

KlikMojok – Pada hari Kamis, 24 September 2026, suasana di ruang Tasmi’ Hafalan Al-Qur’an juz 30 di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Tempeh Lor Lumajang mendadak diselimuti keheningan. Di sana, satu per satu siswa maju ke depan untuk menyetorkan hafalan mereka di hadapan penguji, Ustazah Novita Nur Alfiah, S.M. Di antara para siswa tersebut, tampak berdiri Raihana Yasmin Annida Ananda. Dengan suara yang terdengar pelan namun penuh kemantapan, ia mulai melafalkan ayat demi ayat Al-Qur’an yang telah ia hafal.

Tidak banyak yang menyadari bahwa di balik ketenangan raut wajahnya, tersimpan sebuah perjalanan panjang yang sarat dengan air mata, doa, dan perjuangan gigih. Perjalanan tersebut bahkan pernah membuatnya tertidur pulas sambil tetap menggenggam mushaf Al-Qur’an. Kakaknya, Halimatus Sadiyah, mengenang momen tersebut, “Pernah suatu hari Yasmin tertidur sambil memegang Al-Qur’an. Mungkin karena kecapekan dalam berjuang menghafal,” ujarnya.

Bagi Yasmin sendiri, tampil dalam acara tasmi’ ini bukan hanya sekadar menguji kelancaran hafalannya. Lebih dari itu, momen ini menjadi penanda penting dari proses panjang yang telah ia lalui bersama keluarganya. Setiap ayat yang berhasil ia hafal menyimpan cerita tersendiri mengenai kesabaran, kedisiplinan, serta semangat yang terus-menerus ia jaga, meskipun jalan yang harus ditempuh tidak selalu mudah.

Halimatus mengungkapkan bahwa adiknya pernah beberapa kali menangis saat menghafalkan Al-Qur’an. Terkadang, proses hafalan terasa begitu berat, bahkan sempat membuat Yasmin merasa hampir menyerah. Namun, secara perlahan, justru proses sulit itulah yang menempa dan membentuk keberanian serta keteguhan hatinya. “Tentu ada proses kesulitan. Sebagai keluarga, kami terus memberikan dukungan dan semangat agar adik saya terus berjuang,” tutur Halimatus.

Perjalanan Yasmin menjadi semakin istimewa mengingat kedua orang tuanya saat ini sedang bekerja di Malaysia. Meskipun jarak memisahkan mereka secara fisik, doa dan harapan tulus dari kedua orang tuanya senantiasa mengiringi setiap langkah sang putri. Selama kedua orang tuanya merantau, Yasmin tinggal bersama Mbah Uyut yang dengan setia mendampinginya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Dalam situasi tersebut, Halimatus secara sukarela mengambil peran yang lebih besar sebagai seorang kakak. Ia aktif membantu mengurus berbagai kebutuhan pendidikan adiknya, terutama karena Mbah Uyut memiliki keterbatasan dalam mengikuti perkembangan dunia digital yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari proses belajar-mengajar di sekolah. Bagi Halimatus, tanggung jawab yang ia emban ini bukan semata-mata kewajiban keluarga. Ia memiliki keinginan kuat untuk memastikan bahwa Yasmin tetap memperoleh pendampingan, perhatian, dan semangat yang penuh, meskipun kedua orang tuanya berada jauh di negeri seberang. Ia juga mengungkapkan, “Saya sebagai kakak merasa terharu dan bangga, sekaligus deg-degan melihat adik saya mengikuti tes.”

Seiring berjalannya waktu, Halimatus mulai menyaksikan perubahan besar dalam diri adiknya. Yasmin kini mulai memiliki target hafalan yang jelas ingin ia capai. Jadwal sehari-harinya menjadi lebih tertata, dan kebiasaan bermain gawai perlahan mulai tergantikan oleh rutinitas mengulang hafalan Al-Qur’an. “Sejak itu saya melihat adik saya mulai mempunyai target dalam hafalan Al-Qur’an. Bahkan sampai lupa bermain gadget,” tuturnya dengan bangga.

Bagi Halimatus, proses menghafal Al-Qur’an bukan hanya sekadar kemampuan untuk mengingat ayat demi ayat. Lebih dari itu, proses ini mengajarkan nilai-nilai kedisiplinan, kesabaran, dan kesungguhan, sekaligus membentuk karakter seorang anak agar menjadi lebih bertanggung jawab terhadap cita-citanya di masa depan. Ketika Yasmin akhirnya mampu menyelesaikan hafalan Juz 30 dan bersiap untuk melanjutkan ke juz berikutnya, rasa haru yang selama ini dipendam oleh Halimatus berubah menjadi kelegaan yang mendalam. “Alhamdulillah saya merasa lega. Seperti tidak ada beban lagi karena adik saya mampu menghafalkan juz Al-Qur’an selanjutnya,” katanya dengan suara bergetar. Ia bahkan mengaku tidak mampu merangkai kata-kata saat menyaksikan pencapaian luar biasa sang adik. Air mata kebahagiaan menjadi saksi bisu atas perjalanan panjang penuh perjuangan yang telah mereka lalui bersama. “Saya sangat terharu sampai tidak bisa berkata-kata karena adik saya mampu dan bisa,” ujarnya menambahkan.

Di penghujung acara tasmi’ tersebut, Halimatus dengan penuh kasih sayang menitipkan sebuah pesan sederhana kepada adiknya. Pesan itu lahir dari lubuk hati seorang kakak yang selama ini selalu membersamai setiap langkah perjuangan Yasmin. “Dek, ingatlah, kakak tegas dan disiplin bukan karena apa-apa. Ini demi masa depanmu yang lebih cemerlang. Kesuksesan dunia harus diimbangi dengan kesuksesan akhirat. Semangat terus, ya, Dek. Jangan lelah untuk belajar lebih giat, untuk dunia dan akhirat,” demikian pesan tulusnya.

Program tahfiz yang dikembangkan oleh MI Muhammadiyah Tempeh Lor terbukti tidak hanya melahirkan anak-anak yang mahir menghafal Al-Qur’an. Lebih jauh lagi, program ini menjadi sebuah ruang yang kondusif bagi tumbuhnya karakter kuat, kedisiplinan tinggi, serta mengukuhkan kebersamaan keluarga dalam mendampingi proses pendidikan anak. Kisah perjuangan Yasmin ini menjadi bukti nyata bahwa keberhasilan dalam hafalan Al-Qur’an tidak semata-mata lahir dari ruang kelas atau bangku madrasah saja. Di balik setiap ayat suci yang berhasil ia ingat, terdapat untaian doa tulus dari orang tua yang dipanjatkan dari jauh di Malaysia, ada curahan kasih sayang seorang kakak yang dengan ikhlas menggantikan sebagian peran keluarga, ada sosok Mbah Uyut yang setia mendampingi setiap hari, dan tentu saja, ada bimbingan sabar dari para guru.

Mungkin, bagian yang paling indah dan menyentuh dari seluruh perjalanan ini bukanlah ketika Yasmin berdiri dengan gagah menyetorkan hafalannya di hadapan penguji. Melainkan pada momen ketika seorang anak kecil seperti Yasmin tetap memeluk mushaf Al-Qur’an erat-erat hingga ia tertidur karena kelelahan. Dari situlah tergambar jelas bahwa mencintai Al-Qur’an bukan hanya sebatas menghafalnya, melainkan menjadikannya sebagai teman setia dalam perjalanan menuju masa depan yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ketika Laut Memuntahkan Beban: Kisah Nelayan Sumenep Terjebak Ratusan Kayu Gelondongan

24 Sep 2026 - 18:48 WIB

Ketika Laut Memuntahkan Beban: Kisah Nelayan Sumenep Terjebak Ratusan Kayu Gelondongan

Menyingkap Tirai Asap Cukai: Mahasiswa Desak Transparansi DBH-CHT 2026 di Lamongan

24 Sep 2026 - 18:47 WIB

Menyingkap Tirai Asap Cukai: Mahasiswa Desak Transparansi DBH-CHT 2026 di Lamongan

Menguak Potensi Agrowisata Kebun Babrik Raya: Pilar Ekonomi Muhammadiyah di Lamongan

24 Sep 2026 - 18:46 WIB

Menguak Potensi Agrowisata Kebun Babrik Raya: Pilar Ekonomi Muhammadiyah di Lamongan

Pengajian Akbar Milad Ke-77 SMA Muhi Perkuat Spiritualitas dan Prestasi

24 Sep 2026 - 15:21 WIB

Pengajian Akbar Milad Ke-77 SMA Muhi Perkuat Spiritualitas dan Prestasi

Satpol PP Goes to School: Pelajar Smamsatu Didorong Jadi Pelopor Ketenteraman dan Anti Narkoba

24 Sep 2026 - 15:18 WIB

Satpol PP Goes to School: Pelajar Smamsatu Didorong Jadi Pelopor Ketenteraman dan Anti Narkoba
Trending di Pendidikan