KlikMojok – Udara siang itu, Rabu (23/9/2026), terasa berat di Perumahan Made Great Residence, Kecamatan Lamongan. Ambulans yang perlahan memasuki gerbang seolah membawa beban tak kasat mata, mengiringi kepulangan seorang anak manusia yang telah berlayar jauh, terlalu jauh. Ketika peti jenazah almarhum Jumbrik (25) diturunkan dan dibawa masuk ke rumah duka, bendungan air mata keluarga dan kerabat pecah, mengalir membasahi bumi Lamongan yang kini kembali memeluk putranya.
Jumbrik adalah salah satu awak kapal (ABK) Kapal Virgo, sebuah nama yang kini terukir dalam memori tragis. Ia ditemukan terdampar di wilayah Pantai Seruyan, Kalimantan Tengah, dalam kondisi yang nyaris tak bisa dikenali. Proses identifikasi yang teliti akhirnya memastikan bahwa jasad yang ditemukan adalah Jumbrik, membawa kepastian yang pahit bagi keluarga. Setelah serangkaian prosedur, jenazah akhirnya dipulangkan ke Lamongan untuk disemayamkan dan dikebumikan oleh keluarga tercinta.
Di balik profesinya sebagai pelaut yang kerap menghabiskan bulan-bulan di tengah samudra, Jumbrik dikenal sebagai sosok yang tak pernah lupa daratan. Hanif Fakhrudin, Ketua Masjid Darush Shofa Perumahan Made Great Resident, mengenang Jumbrik sebagai pribadi yang hangat dan aktif dalam kehidupan sosial maupun keagamaan di lingkungannya. “Kalau sedang di rumah, beliau berbaur dengan masyarakat. Ketika ada warga sakit, beliau ikut menjenguk. Untuk kegiatan keagamaan juga aktif, seperti salat berjamaah dan kegiatan sedekah masjid,” tutur Hanif, menggambarkan sebuah potret pendidikan karakter yang terjalin erat dalam kehidupan bermasyarakat.
Kabar mengenai kecelakaan KM Virgo sempat menyelimuti lingkungan perumahan dengan kekhawatiran yang mendalam. Selama proses pencarian yang mendebarkan, para ibu di lingkungan perumahan secara rutin menggelar Yasinan dan istighosah setelah salat Magrib. Sebuah ritual kolektif yang bukan hanya memanjatkan doa agar Jumbrik segera ditemukan dalam kondisi selamat, tetapi juga menjadi manifestasi pendidikan empati dan solidaritas sosial yang kuat. Namun, takdir berkata lain, dan harapan itu harus berganti dengan kepasrahan.
Ada sebuah kisah pilu yang mengiringi kepergian Jumbrik. Sebelum musibah itu terjadi, Jumbrik sempat menghubungi istrinya. Dalam percakapan terakhir yang mengharukan, almarhum mengungkapkan kegelisahan hatinya. “Beliau sempat menelepon istrinya. Katanya tidak bisa tidur dan meminta doa. Setelah itu tidak ada kabar sampai akhirnya ditemukan dalam keadaan meninggal,” jelas Hanif, menyoroti firasat dan permohonan terakhir yang kini menjadi kenangan abadi.
Setelah disemayamkan sejenak di rumah duka, jenazah Jumbrik disalatkan di masjid Darush Shofa perumahan setempat, sebelum akhirnya diantar menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Dusun Sawu, Desa Sumberejo, Kecamatan Lamongan, sekitar pukul 14.00 WIB. Warga Perumahan Made Great Resident turut mengiringi prosesi pemakaman, memberikan penghormatan terakhir bagi sosok yang mereka kenal. Kepergian Jumbrik meninggalkan duka yang mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi tetangga yang selama ini merasakan kehadirannya sebagai bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan sosial dan keagamaan di lingkungan perumahan. Kisah Jumbrik menjadi pengingat tentang kerapuhan hidup, kekuatan doa, dan pentingnya sebuah komunitas yang saling mendukung, sebuah pelajaran berharga yang terus hidup di tengah masyarakat Lamongan.












