Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Panggung Jalanan Probolinggo: Satu Dekade Juanda Menari Merajut Kebinekaan dan Regenerasi Seni

badge-check

Panggung Jalanan Probolinggo: Satu Dekade Juanda Menari Merajut Kebinekaan dan Regenerasi Seni Perbesar

KlikMojok – Di bawah temaram lampu kota Probolinggo, jalanan Kelurahan Tisnonegaran mendadak berdenyut, bertransformasi menjadi kanvas raksasa yang dilukis dengan spektrum warna-warni, gemuruh tarian, dan melodi musik yang memukau. Ribuan pasang mata, dari anak-anak hingga lansia, tumpah ruah di sepanjang trotoar, terpaku pada kemeriahan Juanda Menari Night Carnival ke-10 yang mengubah aspal menjadi panggung terbuka bagi para pelaku seni dari berbagai penjuru.

Memasuki satu dekade penyelenggaraan, Juanda Menari telah melampaui sekadar parade tahunan yang meriah. Gelaran akbar yang melibatkan 13 kelompok peserta ini bukan hanya ajang unjuk gigi, melainkan sebuah pembuktian nyata akan kreativitas tanpa batas masyarakat di tingkat kelurahan. Mereka mampu menghadirkan mozaik pertunjukan seni dan budaya yang kaya, menjadi etalase hidup bagi warisan leluhur. Dengan mengusung tema “Merajut Seni, Menyulam Budaya untuk Probolinggo Bersolek”, setiap kelompok peserta menyuguhkan perpaduan harmonis antara tarian tradisional yang anggun, musik modern yang enerjik, hingga kostum etnik yang dirancang dengan detail memukau, berhasil mencuri perhatian dan decak kagum warga yang berjejer memenuhi Jalan Arif Rahman Hakim, Jalan Juanda, hingga Jalan Letjen Sutoyo.

Namun, di balik gemerlap kostum dan irama yang menggema, Juanda Menari membawa misi yang jauh lebih mendalam: menjaga eksistensi kesenian lokal agar tidak tergerus arus modernisasi, sekaligus memastikan mata rantai regenerasi para pelaku seni tetap terjalin tanpa putus. Hariyanto, Ketua Pokmas Guyub Rukun Saklawase, sang motor penggerak di balik acara ini, dengan bangga mengungkapkan potensi besar yang tersimpan di Tisnonegaran. “Tujuan acara utama ini adalah mempromosikan budaya yang ada di Kelurahan Tisnonegaran. Di sini banyak sanggar seni yang memiliki potensi dan perlu kita promosikan melalui Juanda Menari,” ujarnya, menekankan pentingnya wadah ekspresi bagi para seniman.

Keberlangsungan karnaval ini, yang kini telah menginjak tahun kesepuluh, bukanlah sebuah kebetulan. Hariyanto menjelaskan bahwa ini adalah buah dari kolaborasi solid dan keterlibatan aktif dari berbagai elemen masyarakat. Mulai dari institusi pendidikan seperti sekolah, komunitas budaya yang berdedikasi, sanggar-sanggar seni yang menjadi kawah candradimuka bagi bibit-bibit baru, hingga partisipasi antusias dari warga setempat, semuanya bahu-membahu mewujudkan perhelatan ini. Ia berharap agar Juanda Menari tidak berhenti hanya sebagai tontonan semata. Lebih dari itu, ia memimpikan agar karnaval ini dapat berkembang menjadi sebuah wadah pembinaan yang efektif bagi generasi muda, memastikan kesenian lokal tetap hidup dan relevan di tengah pesatnya perkembangan zaman. “Bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk berkarya, melestarikan budaya, serta memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk meneruskan seni budaya yang ada,” tegasnya, menegaskan fungsi edukatif dan konservasi budaya yang diemban Juanda Menari.

Kemeriahan dan semangat Juanda Menari juga tak luput dari perhatian Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin. Ia secara terang-terangan mengaku terkesan dengan level kreativitas dan persiapan matang yang ditunjukkan oleh masyarakat, yang berhasil mempertahankan kegiatan budaya semegah ini selama satu dekade penuh. “Juanda Menari Night Carnival yang ke-10 ini luar biasa. Sepanjang mata memandang, saya melihat persiapan yang begitu besar dari seluruh warga,” ungkapnya dengan nada kagum.

Bagi Aminuddin, keberhasilan sejati sebuah kegiatan budaya tidak hanya diukur dari seberapa meriah pertunjukannya. Lebih esensial dari itu, adalah keberadaan generasi penerus yang memiliki kapasitas untuk tidak hanya menjaga, tetapi juga mengembangkan kesenian lokal agar terus berinovasi dan relevan. Aspek regenerasi ini, menurutnya, terlihat jelas dari partisipasi aktif anak-anak muda yang tampil berdampingan dengan para seniman senior dalam karnaval tersebut. “Ini bukan hanya menampilkan berbagai macam kesenian, tetapi juga bagaimana Tisnonegaran mampu mengangkat potensi-potensi asli yang dimiliki sehingga mampu menghadirkan dan melakukan regenerasi,” katanya, menyoroti peran Tisnonegaran sebagai inkubator seni.

Menariknya, Juanda Menari tidak hanya terpaku pada kekayaan kesenian Jawa. Karnaval ini juga menjadi panggung bagi keberagaman budaya Nusantara yang luar biasa, salah satunya ditandai dengan keterlibatan anak-anak asal Sorong, Papua, yang turut memeriahkan acara. “Ini menandakan bahwa kebinekaan betul-betul terjadi juga dalam lingkup yang kecil (kelurahan),” ujar Aminuddin, menggarisbawahi bagaimana sebuah acara seni di tingkat kelurahan mampu menjadi medium perekat kebangsaan. Keberagaman partisipan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana kegiatan seni di akar rumput dapat menjadi ruang pertemuan dan akulturasi bagi masyarakat dari berbagai latar belakang budaya, menumbuhkan pemahaman dan toleransi.

Setelah dibuka secara resmi dengan pemukulan gong yang khidmat oleh Wali Kota Aminuddin, 13 kelompok peserta mulai bergerak, menyusuri rute karnaval yang telah ditentukan. Deretan kostum mencolok yang memancarkan identitas budaya masing-masing, iringan musik yang memadukan ritme tradisional dan modern, serta koreografi para penari yang dinamis, secara bersama-sama menghidupkan suasana malam di kawasan Tisnonegaran menjadi sebuah perayaan budaya yang tak terlupakan.

Sebelum puncak karnaval dimulai, momen istimewa lainnya adalah pengumuman hasil lomba kebersihan lingkungan, sebuah inisiatif yang sejalan dengan semangat kebersamaan dan kepedulian. RT 3 RW 6 berhasil meraih juara pertama, sementara RT 2 RW 2 menempati posisi kedua, dengan penghargaan yang diserahkan langsung oleh Wali Kota Aminuddin. Kegiatan ini turut dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, termasuk Wakil Wali Kota Probolinggo Ina Dwi Lestari, Ketua TP PKK dr. Evariani Aminuddin, Sekretaris Daerah Budiono Wirawan, serta jajaran kepala perangkat daerah, Camat Kanigaran, dan Forkopimcam, menunjukkan dukungan penuh pemerintah daerah.

Satu dekade penyelenggaraan Juanda Menari adalah bukti nyata konsistensi dan komitmen masyarakat Tisnonegaran dalam menyediakan ruang yang subur bagi para pelaku seni untuk berkarya dan berekspresi. Kini, tantangan yang membentang di hadapan mereka bukan lagi sekadar mempertahankan kemeriahan karnaval setiap tahunnya. Lebih jauh, tantangannya adalah memastikan bahwa potensi seni dan budaya yang telah diangkat dan ditampilkan dapat terus berkembang, beradaptasi, dan yang terpenting, memiliki generasi penerus yang siap memikul obor pelestarian dan inovasi, menjadikan Juanda Menari tak hanya sebuah festival, tetapi sebuah institusi pendidikan budaya informal yang berkelanjutan bagi Probolinggo.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Luka Tak Terlihat di Embung Miring: Ketika Razia Prostitusi Menguak Ancaman HIV di Probolinggo

28 Sep 2026 - 12:41 WIB

Luka Tak Terlihat di Embung Miring: Ketika Razia Prostitusi Menguak Ancaman HIV di Probolinggo

Mengukir Prestasi: Sembilan Murid SD Muhammadiyah Siap Berlaga di IMSO 23 sebagai Delegasi Indonesia

28 Sep 2026 - 12:38 WIB

Mengukir Prestasi: Sembilan Murid SD Muhammadiyah Siap Berlaga di IMSO 23 sebagai Delegasi Indonesia

Mengintip Dapur Barista: Siswa Smamdela Asah Keterampilan Kopi untuk Peluang Usaha Mandiri

28 Sep 2026 - 12:37 WIB

Mengintip Dapur Barista: Siswa Smamdela Asah Keterampilan Kopi untuk Peluang Usaha Mandiri

Ketika Ular Piton Menjelajah Atap Kelas: Kisah Kesiapsiagaan di SMPN 4 Gresik

28 Sep 2026 - 09:45 WIB

Ketika Ular Piton Menjelajah Atap Kelas: Kisah Kesiapsiagaan di SMPN 4 Gresik

Dari Meri, Mojokerto Bercerita: Semangat Swakarsa Warga Merajut Keamanan Lingkungan Melalui Pos Satkamling

28 Sep 2026 - 09:44 WIB

Dari Meri, Mojokerto Bercerita: Semangat Swakarsa Warga Merajut Keamanan Lingkungan Melalui Pos Satkamling
Trending di Pendidikan