KlikMojok – Di Dusun Joso Kidul, Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, di antara rimbunan pohon kakao yang menjulang, berdiri sebuah struktur sederhana berukuran sekitar 3×4 meter. Dari kejauhan, bangunan berdinding bambu, beratap genteng, dan berlantai kayu ini mungkin tampak seperti kandang ternak biasa. Namun, bagi Pawito, seorang pria lajang berusia 58 tahun, gubuk sederhana ini adalah rumahnya, tempat ia menjalani hidup bersama kawanan kambing dan ayam peliharaannya selama belasan tahun.
Pawito, warga RT 01, RW 08, Desa Tokawi, telah memilih untuk kembali ke tanah kelahirannya dan membangun kehidupan yang tak biasa ini sejak tahun 2012. “Kalau kelahiran memang di sini. Cuman dulu merantau, habis itu mulai tahun 2012 saya ke sini, pulang,” tuturnya, menjelaskan perjalanan hidupnya yang membawanya kembali ke kebun kakao miliknya.
Setiap sudut gubuk Pawito adalah cerminan dari adaptasi dan kesederhanaan. Bagian bawah bangunan secara fungsional difungsikan sebagai tempat tinggal bagi sekitar sembilan hingga sepuluh ekor kambing. Sementara itu, di lantai atas, hanya sebuah kasur tipis beralaskan bambu dan terpal menjadi alas tidur bagi Pawito. Di sinilah ia menemukan ketenangan di tengah kesibukan mengurus ternaknya. Bahkan, tak jarang ia ditemani oleh seekor ayam betina yang tengah mengerami telurnya. “Sedang angkrem (mengerami telur). Mau dipindah kan masih angkrem. Enggak tahu dulunya aku di situ, jadi nggak bisa mindah,” ujarnya, menunjukkan kedekatan yang unik dengan hewan-hewannya.
Rutinitas harian Pawito berputar pada perawatan ternak. Pagi menjelang, kambing-kambingnya dilepas untuk mencari makan di sekitar kebun, lalu kembali ke gubuk menjelang senja. Untuk kebutuhan pangan pribadinya, sebuah dapur sederhana dengan kompor gas tersedia, meski tak selalu terlihat ada masakan yang mengepul. Kondisi tempat tinggalnya jauh dari kata layak; tak ada kamar mandi, dan listrik pun bergantung pada sambungan dari rumah tetangga. Saat musim penghujan atau angin kencang menerpa, tantangan hidup Pawito semakin nyata. “Bocor kalau ada angin juga,” ungkapnya, menggambarkan bagaimana air hujan dan hembusan angin dengan mudah menembus dinding dan atap gubuknya.
Meski menghadapi keterbatasan yang ekstrem, Pawito tak pernah menyerah. Belasan tahun ia lalui seorang diri, bekerja dan mengurus ternaknya dengan ketegaran yang luar biasa. Kisah hidupnya yang tersembunyi ini akhirnya sampai ke telinga para relawan. Petarung Kehidupan Pacitan, bersama komunitas RAPI, menyambangi gubuknya di tengah kebun kakao untuk melihat langsung kondisi Pawito dan menyerahkan bantuan yang terkumpul dari para donatur. Susilo Dwi Santoso, salah satu relawan Petarung Kehidupan Pacitan, mengungkapkan kesan mendalamnya. “Kami mendapatkan informasi kondisi Mbah Pawito. Ternyata benar adanya, hidupnya memprihatinkan. Namun, dia sosok yang tegar dan pantang menyerah,” ujarnya, menggarisbawahi semangat juang Pawito.
Kisah Pawito adalah sebuah pengingat akan realitas hidup di sudut-sudut terpencil Indonesia, di mana ketegaran dan adaptasi menjadi kunci bertahan. Para relawan berharap, kisah Pawito ini dapat mengetuk lebih banyak hati, mendorong kepedulian bersama agar Pawito dapat memiliki hunian dan kehidupan yang lebih layak. Sebab, di balik setiap rimbun kakao, di setiap gubuk sederhana, ada kisah manusia yang menunggu untuk didengar, sebuah pelajaran tentang arti ketahanan dan solidaritas sosial yang tak pernah padam.












