KlikMojok – Proses penuaan melampaui sekadar perubahan fisik semata. Di Graha Lansia Walidah, sebuah pusat pembelajaran di Sidoarjo, para lansia dibekali pengetahuan psikologi yang esensial untuk menerima diri, berdamai dengan pengalaman masa lalu, serta menjalani hari tua dengan kebahagiaan dan makna.
Graha Lansia Walidah, yang berlokasi di Kecamatan Sidoarjo, berfungsi sebagai wadah edukasi bagi 23 individu berusia antara 55 hingga 74 tahun. Pada hari Rabu, 21 Oktober 2026, Dra. Hj. Fifin Widyaprasti, seorang psikolog, berkesempatan untuk membagikan wawasan ilmu psikologi kepada para peserta tersebut.
Dra. Hj. Fifin Widyaprasti, Psikolog, mengungkapkan rasa syukurnya atas partisipasinya dalam kegiatan penting ini. Ia memandang pertemuan tersebut bukan sebagai sesi pengajaran formal di dalam kelas, melainkan sebagai sebuah kesempatan berharga untuk bertukar pengetahuan dengan teman-teman sebaya yang sedang melalui tahapan kehidupan serupa.
Menurutnya, penuaan adalah sebuah proses alamiah yang menuntut kesiapan baik secara fisik maupun psikologis. Oleh karena itu, keberadaan sekolah lansia seperti Graha Lansia Walidah dianggap sebagai inisiatif krusial guna mendampingi masyarakat agar dapat menjalani masa tua dengan lebih bermakna.
Graha Lansia Walidah sendiri merupakan gagasan dari Hj. Widiana Kartikasari, yang menjabat sebagai Ketua PRA Suko, Kecamatan Sidoarjo. Perempuan yang dikenal dengan panggilan akrab Didin ini berambisi untuk menciptakan program bagi lansia yang berbeda dari aktivitas konvensional yang biasa ditemukan di tempat penitipan atau layanan daycare lansia.
Selama ini, aktivitas yang ditawarkan untuk lansia cenderung terbatas pada pengajian, senam, dan pemeriksaan kesehatan, setelah itu para peserta akan kembali ke rumah masing-masing. Namun, Didin memiliki visi untuk menghadirkan sebuah program yang lebih terarah dan memiliki keberlanjutan.
Untuk mewujudkan visinya, pada bulan Juni 2026, Didin melakukan kunjungan ke Yogyakarta untuk mencari referensi. Kota Gudeg ini bukanlah tempat asing baginya, mengingat ia pernah menempuh pendidikan di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta dan melanjutkan studi di Universitas Gadjah Mada.
Di Yogyakarta, Didin berhasil menemukan model sekolah lansia yang sangat sesuai dengan ekspektasinya, yaitu yang diterapkan di Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Condong Catur. Setelah itu, ia mengadopsi secara menyeluruh konsep tersebut, mulai dari perancangan kurikulum, metode pelaksanaan kegiatan, hingga penyusunan materi pembelajaran.
Graha Lansia Walidah memanfaatkan gedung milik SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo (SMP Miosi) sebagai lokasi kegiatan belajar mengajar. Program perdana sekolah lansia ini telah dilaksanakan pada tanggal 7 Oktober 2026.
Salah satu aspek menarik dari program ini adalah bahwa pihak pengelola tidak mengenakan biaya pendidikan. Peserta hanya diwajibkan membayar iuran sebesar Rp100.000 setiap bulan, yang dialokasikan untuk menutupi biaya makanan ringan dan bahan-bahan yang digunakan dalam proses pembelajaran.
Seluruh program pembelajaran ini dirancang untuk berlangsung dalam 12 sesi pertemuan, yang diadakan setiap hari Rabu. Lebih lanjut, pihak pengelola juga telah merencanakan kegiatan outbound serta acara wisuda di akhir periode pembelajaran, yang akan melibatkan partisipasi aktif dari keluarga para peserta.
Sekolah lansia ini mengusung lima pilar kurikulum utama, meliputi akidah, akhlak, kesehatan, psikologi, dan keterampilan. Melalui kerangka kurikulum yang komprehensif ini, para peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman tentang ajaran agama dan aspek kesehatan, tetapi juga diberikan ruang dan kesempatan luas untuk mengembangkan potensi kreativitas mereka.
Dalam kegiatan keterampilan, peserta diajarkan berbagai aktivitas seperti merajut, menyulam, berkebun, dan berkesenian. Pengelola bahkan memiliki keinginan untuk memperkenalkan angklung sebagai salah satu pilihan kegiatan seni yang akan diajarkan. Namun, rencana ini masih terkendala oleh keterbatasan alokasi dana.
Pada sesi yang mengusung tema “Psikologi Lansia” yang diselenggarakan pada Rabu, 21 Oktober 2026, Dra. Hj. Fifin Widyaprasti mengajak para peserta untuk memahami bahwa proses penuaan merupakan bagian tak terpisahkan dari ketetapan Allah Swt.
Ia merujuk pada Surah Ar-Rum ayat 54, yang menggambarkan perjalanan hidup manusia dari kondisi lemah, kemudian menjadi kuat, dan pada akhirnya kembali melemah. Ayat suci ini berfungsi sebagai pengingat mendalam bahwa kehidupan senantiasa bergerak dalam siklus perubahan yang berkelanjutan.
Berdasarkan pemahaman tersebut, Fifin mendorong teman-teman sebaya untuk menerima proses penuaan dengan hati yang lapang. Meskipun pertambahan usia adalah keniscayaan yang tidak dapat dihentikan, ia menegaskan bahwa setiap individu masih memiliki kemampuan untuk mengupayakan kehidupan yang sehat, bermakna, dan penuh kebahagiaan.
Dalam kesempatan sesi tersebut, psikolog ini menguraikan tiga jenis perubahan psikologis fundamental yang penting untuk dipahami oleh para lansia, yaitu perubahan pada aspek emosi, kognisi, serta perilaku dan kehidupan sosial.
Beberapa lansia mungkin mengalami perasaan sedih, kecemasan, kesepian, atau kekhawatiran akan menjadi beban bagi keluarga mereka. Selain itu, mereka terkadang juga merasa takut untuk tersinggung saat berinteraksi dengan individu lain.
Kendati demikian, perubahan emosi ini tidak selalu termanifestasi secara seragam pada setiap individu. Ada sebagian lansia yang justru menjadi lebih tenang dan stabil secara emosional, sebab pengalaman hidup yang telah mereka lalui membantu mereka dalam menyikapi berbagai persoalan dengan lebih bijaksana.
Oleh karena itu, ia mengajak para peserta untuk secara aktif mengenali perubahan emosi yang terjadi pada diri mereka sendiri. Dengan pemahaman yang mendalam terhadap perasaan yang muncul, individu dapat belajar untuk meresponsnya dengan cara yang lebih sehat dan konstruktif.
Perubahan kognitif meliputi kemampuan dalam memperhatikan, mengingat, berbahasa, bernalar, serta mengambil keputusan. Seiring dengan pertambahan usia, beberapa individu mungkin memerlukan waktu yang lebih panjang untuk memproses informasi baru yang mereka terima.
Kejadian seperti sesekali lupa nama seseorang atau lupa meletakkan kacamata adalah hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kewaspadaan perlu ditingkatkan apabila kesulitan mengingat tersebut mulai berdampak pada terganggunya aktivitas rutin seseorang.
Contohnya, ketika seseorang mulai kesulitan mengenali tempat-tempat yang sudah akrab baginya atau tidak lagi mampu mengelola obat-obatan dan keuangan seperti biasa. Dalam situasi demikian, sangat penting bagi pihak keluarga untuk segera mengajak lansia berkonsultasi dengan tenaga medis profesional.
Fifin juga menegaskan bahwa demensia bukanlah bagian yang normal dari proses penuaan, dan tidak semua lansia akan mengalami kondisi ini. Oleh karena itu, keluarga memiliki peran penting untuk memahami perbedaan antara kelupaan ringan yang wajar dengan gangguan kognitif yang memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut.
Aspek ketiga yang dibahas adalah perubahan perilaku dan kehidupan sosial.
Masa pensiun, keterbatasan dalam bergerak, atau kehilangan pasangan hidup dapat secara signifikan mengubah rutinitas harian seseorang. Konsekuensinya, beberapa lansia mungkin menjadi lebih pasif, cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, atau semakin bergantung pada anggota keluarga.
Dalam menghadapi perubahan-perubahan ini, sangatlah penting untuk terus menjaga hubungan sosial dan mencari kegiatan yang selaras dengan kondisi fisik dan mental diri. Dukungan dari teman, keluarga, serta lingkungan yang suportif dapat berperan besar dalam membantu lansia agar tetap merasa dihargai dan memiliki nilai.
Menurut Dra. Hj. Fifin Widyaprasti, sekolah lansia seperti Graha Lansia Walidah dapat berfungsi sebagai salah satu wadah yang efektif untuk membangun dan memelihara hubungan sosial tersebut. Di sini, para peserta berkesempatan untuk bertemu, belajar, dan bertukar pengalaman dengan individu-individu lain yang juga memahami dan menjalani fase kehidupan yang sama.
Selain mengenali berbagai perubahan psikologis, ia juga mengajak peserta untuk memahami betapa krusialnya konsep penerimaan diri.
Penerimaan diri diartikan sebagai pengakuan yang jujur terhadap kondisi diri, meliputi baik kelebihan maupun keterbatasan yang dimiliki. Ini juga berarti menerima pengalaman masa lalu dan perubahan yang sedang berlangsung tanpa terus-menerus menyalahkan diri sendiri.
Guna membantu para peserta dalam menjalani proses penerimaan diri, Fifin menjelaskan lima langkah praktis untuk berdamai dengan diri sendiri.
Langkah pertama adalah menerima perubahan yang sifatnya tak terhindarkan.
Ia menjelaskan bahwa harga diri tidak seharusnya diukur berdasarkan standar kecantikan, kekuatan fisik, jabatan, tingkat penghasilan, atau kemampuan bekerja yang dimiliki saat usia muda. Sebaliknya, individu dapat menghargai diri berdasarkan akumulasi pengalaman hidup, kebijaksanaan yang telah diperoleh, dan kontribusi yang masih bisa diberikan kepada sesama.
Setiap individu pasti memiliki beragam pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Tidak jarang pula ada kesalahan-kesalahan di masa lalu yang mungkin masih membekas kuat dalam ingatan.
Meskipun demikian, penting untuk belajar mengakui kesalahan tanpa terus-menerus menghukum diri sendiri. Jika ada kesempatan, seseorang dapat berupaya memperbaiki hubungan, menyampaikan permohonan maaf, menunaikan tanggung jawab yang belum terselesaikan, dan kembali menjalin tali silaturahmi.
Bertambahnya usia sama sekali tidak menandakan berakhirnya peluang untuk berkontribusi. Meskipun seseorang mungkin tidak lagi memegang peran atau posisi yang sama seperti saat masih muda, ia tetap memiliki potensi besar untuk memberikan manfaat dan dampak positif bagi orang lain.
Para lansia dapat berperan sebagai penasihat bijak saat diminta, menjadi pendengar yang empatik, sukarelawan, pengajar, atau sekadar teman bagi sesama lansia. Melalui peran-peran ini, kehidupan akan senantiasa memiliki tujuan dan makna yang mendalam.
Meminta bantuan tidak boleh dianggap sebagai indikasi kegagalan. Setiap individu perlu menyadari bahwa setiap orang memiliki keterbatasan, yang bisa berubah seiring dengan bertambahnya usia.
Meskipun demikian, selama masih memiliki kemampuan, seseorang tetap didorong untuk melakukan aktivitas secara mandiri. Penting juga untuk diingat bahwa setiap individu berhak untuk terlibat aktif dalam setiap pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kehidupan pribadinya.
Langkah kelima adalah memelihara rasa syukur dan harapan.
Bersyukur tidak berarti menafikan perasaan sedih, rasa sakit, atau berbagai persoalan yang sedang dihadapi. Sebaliknya, rasa syukur mengajarkan kita untuk menghargai hal-hal yang masih kita miliki, sembari tetap menerima kenyataan yang mungkin tidak selalu sejalan dengan harapan.
Selain itu, penting juga untuk senantiasa menjaga harapan dengan merancang rencana untuk hari esok, betapa pun kecilnya rencana tersebut. Contohnya, merawat tanaman, bertemu dengan teman, membaca buku, mengikuti pengajian, atau bahkan mempelajari keterampilan baru.
Melalui serangkaian langkah-langkah tersebut, Dra. Hj. Fifin Widyaprasti berharap agar teman-teman sebaya dapat menjalani masa tua mereka dengan tingkat penerimaan diri yang lebih optimal.
Menurutnya, masa tua bukanlah sekadar periode menunggu berakhirnya kehidupan. Sebaliknya, fase ini tetap membuka lebar kesempatan untuk terus belajar, memperbaiki hubungan sosial dan spiritual, memperdalam ibadah, serta membagikan manfaat kepada sesama.
Oleh karena itu, ia sangat menyambut baik inisiatif Graha Lansia Walidah sebagai sebuah ruang pembelajaran yang secara khusus memperhatikan kebutuhan psikologis para pesertanya. Pendidikan bagi lansia ini tidak hanya membantu mereka dalam memahami perubahan yang terjadi pada diri sendiri, tetapi juga membuka peluang untuk membangun hubungan sosial yang lebih sehat dan konstruktif.
Fifin menyampaikan harapannya agar program Graha Lansia Walidah ini dapat terus berkembang dan mampu menjangkau lebih banyak lansia di masa mendatang. Ia menekankan bahwa para lansia membutuhkan dukungan yang kuat dari keluarga, masyarakat, dan berbagai pihak terkait agar kegiatan belajar ini dapat terus berjalan secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, setiap individu akan menghadapi proses penuaan. Dengan didasari penerimaan diri yang tulus, dukungan dari lingkungan sekitar, serta semangat untuk terus belajar, kita semua dapat berupaya mewujudkan masa tua yang bahagia, penuh makna, bermartabat, dan senantiasa bertakwa.
Artikel ini ditulis oleh Dra. Hj. Fifin Widyaprasti, Psikolog, dan disunting oleh Yekti Pitoyo.












