KlikMojok – Di lereng-lereng curam Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), di antara kepulan asap pekat dan jilatan api yang tak kenal lelah, ratusan petugas gabungan berjibaku. Mereka adalah para pejuang tanpa tanda jasa yang mempertaruhkan fisik dan kesehatan demi memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, di balik keberanian mereka, ada satu tim yang tak kalah penting, bergerak senyap memastikan para pahlawan ini tetap prima: Tim Dokkes Polres Malang, yang hadir membawa nafas di tengah bara.
Penanganan karhutla di wilayah Pos Jemplang, Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, bukanlah tugas yang ringan. Medan yang berat, paparan asap terus-menerus, serta intensitas kerja yang tinggi menjadi tantangan sehari-hari. Api tak hanya melahap vegetasi, tetapi juga menguras tenaga dan membahayakan kesehatan mereka yang berada di garis depan. Inilah mengapa dukungan kesehatan menjadi pilar penting yang tak bisa diabaikan dalam upaya pemadaman.
Menyadari beratnya tugas tersebut, Tim Dokkes Polres Malang segera turun tangan. Mereka bukan hanya bagian dari penanganan karhutla, melainkan sebuah jaring pengaman bagi para petugas. Tim medis ini secara proaktif memberikan pemeriksaan dan pengobatan kepada sejumlah petugas yang mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan atau mengalami luka ringan akibat gesekan dengan medan yang sulit. Lebih dari itu, mereka juga membekali setiap petugas dengan masker, sebuah alat pelindung diri esensial untuk meminimalisir dampak buruk asap dan debu pada saluran pernapasan.
Kasihumas Polres Malang, AKP M Budiono, menekankan vitalnya peran ini. “Petugas di lapangan bekerja cukup berat, sehingga kondisi kesehatan mereka juga harus diperhatikan. Dokkes Polres Malang turun langsung untuk memberikan pemeriksaan, pengobatan bagi petugas yang mengalami keluhan maupun luka, serta membagikan masker,” kata Budiono. Ia menambahkan bahwa dukungan medis ini adalah bagian integral dari strategi penanganan karhutla, memastikan bahwa setiap petugas dapat menjalankan tugasnya dalam kondisi yang terpantau optimal.
Keberadaan tim medis memungkinkan respons cepat terhadap masalah kesehatan. “Kalau ada petugas yang kelelahan atau mengalami luka saat bertugas, bisa langsung mendapat penanganan. Kami juga mengingatkan petugas agar tetap memperhatikan kondisi tubuh dan tidak memaksakan diri ketika membutuhkan istirahat,” ujarnya. Ini bukan sekadar tindakan kuratif, melainkan juga preventif, menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga diri di tengah tekanan tugas yang berat. Upaya dukungan kesehatan ini terus berjalan seiring dengan operasi pemadaman dan pendinginan yang masih berlangsung intensif di berbagai titik kawasan TNBTS.
Pada Minggu siang, misalnya, petugas gabungan masih berjibaku memadamkan api secara manual menggunakan water sprayer dan hydran portable. Tantangannya adalah medan yang hanya bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua atau bahkan berjalan kaki. Sementara itu, beberapa area krusial seperti Blok Batengan, Blok Painem, dan Blok Kentongan, masih dalam tahap pembasahan atau pendinginan. Di Blok Painem sendiri, titik api masih muncul di lereng curam yang sangat sulit dijangkau dari jalur darat, menandakan bahwa perjuangan belum usai.
Melihat kondisi ini, Budiono juga mengimbau agar baik petugas maupun masyarakat yang berada di sekitar area terdampak karhutla untuk selalu waspada terhadap kondisi kesehatan mereka, terutama saat asap mulai menebal. “Jika mengalami sesak, pusing, mual, kelelahan berlebihan atau keluhan kesehatan lainnya, jangan dipaksakan. Segera beristirahat dan mendapatkan pemeriksaan,” pungkasnya. Kisah perjuangan di TNBTS ini bukan hanya tentang memadamkan api, tetapi juga tentang bagaimana sebuah sistem bekerja untuk melindungi para pelindungnya, sebuah pelajaran berharga tentang pentingnya solidaritas dan perhatian terhadap kesejahteraan sesama dalam menghadapi bencana.












