KlikMojok – Pada Sabtu, 19 September 2026, sebanyak 54 kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) SMA Muhammadiyah 1 Gresik (Smamsatu) mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) di SMK Muhammadiyah 1 Batu. Dalam kegiatan ini, para kader IPM tersebut tidak hanya diajak untuk mengenali berbagai tipe anggota organisasi, mulai dari konseptor hingga yang disebut ‘kartu mati’, tetapi juga dibekali dengan pemahaman mendalam tentang empat karakter esensial yang wajib dimiliki oleh setiap kader.
Kegiatan LDKS ini merupakan kelanjutan dari rangkaian acara yang telah dimulai sehari sebelumnya, di mana 54 kader PR IPM SMA Muhammadiyah 1 Gresik (Smamsatu) telah terlibat dalam sesi adu gagasan melalui debat dan analisis program kerja. Mereka kemudian melanjutkan pelatihan kepemimpinan ini di fasilitas SMK Muhammadiyah 1 Batu pada hari Sabtu, 19 September 2026.
Dalam sesi kali ini, fokus utama pelatihan adalah mengajak para peserta untuk memahami mekanisme kerja sebuah organisasi secara menyeluruh, termasuk mengidentifikasi berbagai karakter anggotanya. Wiwit Dwi Wahyu, S.Hum., M.Pd., selaku pemateri dalam sesi Manajemen Organisasi, mengelompokkan anggota organisasi menjadi empat tipe utama: konseptor, eksekutor, konseptor sekaligus eksekutor, dan tipe yang digambarkannya sebagai “kartu mati”.
Sebelum memulai sesi materi inti, seluruh peserta dan panitia LDKS mengawali pagi dengan melaksanakan salat Subuh berjemaah. Imam Barry memimpin pelaksanaan salat tersebut. Setelahnya, kegiatan dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an, khusus membaca Surah Al-Bayyinah hingga At-Takasur, sebagai bagian dari pembinaan spiritual.
Meskipun suasana pagi masih cukup gelap, hal tersebut tidak menyurutkan semangat para peserta. Mereka telah berkumpul dengan antusias di lokasi acara, siap untuk mengikuti materi Manajemen Organisasi yang akan disampaikan.
Wiwit Dwi Wahyu menjelaskan lebih lanjut mengenai pembagian peran ini. Ia menguraikan bahwa anggota dengan tipe konseptor adalah mereka yang dominan dalam merancang gagasan serta menyusun perencanaan strategis. Di sisi lain, tipe eksekutor memiliki fokus utama pada implementasi atau pelaksanaan berbagai rencana yang telah disusun di lapangan.
Selain kedua tipe tersebut, terdapat juga anggota yang memiliki kemampuan ganda, yaitu sanggup menyusun konsep sekaligus mengeksekusikannya. Sementara itu, istilah “kartu mati” digunakan oleh Wiwit untuk mengilustrasikan anggota yang cenderung pasif, kurang proaktif, dan minim dalam mengambil peran serta kontribusi signifikan dalam dinamika organisasi.
Melalui penjelasan tentang pembagian tipe anggota ini, para peserta dibimbing untuk memahami bahwa setiap individu dalam sebuah organisasi dapat memiliki kecenderungan peran yang beragam. Meskipun demikian, Wiwit menekankan pentingnya pembagian tugas yang jelas dan keterlibatan aktif dari seluruh anggota agar setiap rencana dan program kerja dapat berjalan dengan efektif dan mencapai tujuannya.
Dalam kesempatan tersebut, Wiwit juga menyentil kebiasaan rapat yang sering terjadi dalam lingkungan organisasi. Ia berpendapat bahwa kualitas sebuah organisasi yang baik tidak semata-mata diukur dari frekuensi rapat yang diadakan, melainkan dari kapasitas organisasi tersebut untuk mentransformasi setiap hasil pembahasan rapat menjadi aksi dan kerja nyata yang konkret.
Lebih lanjut, Wiwit menegaskan urgensi untuk menyelaraskan setiap strategi yang dirumuskan. Penyelarasan ini krusial agar organisasi dapat bergerak secara terpadu dan berhasil mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Setelah sesi materi mengenai Manajemen Organisasi berakhir, para peserta diberikan waktu untuk sarapan dan membersihkan diri. Setelah itu, mereka kembali berkumpul di aula untuk melanjutkan agenda LDKS berikutnya.
Agenda selanjutnya dalam LDKS adalah sesi interaktif tanya jawab dan berbagi pengalaman. Untuk memfasilitasi diskusi yang lebih intensif, peserta dibagi menjadi lima kelompok kecil, dengan metode penghitungan satu hingga lima.
Setiap kelompok kecil tersebut didampingi oleh dua orang panitia. Panitia pendamping ini terdiri dari Ipmwan (aktivis IPM putra) dan Ipmwati (aktivis IPM putri), yang merupakan julukan bagi para aktivis putra dan putri di IPM.
Adapun daftar pendamping untuk masing-masing kelompok adalah sebagai berikut: Kelompok 1 didampingi oleh M. Zamir Labib Maulidy dan Austrin Aqila Aurelia. Kelompok 2 dibersamai oleh M. Afi Ahsan dan Farah Auliya Rahma. Sementara itu, Kelompok 3 mendapatkan pendampingan dari Aurelia Azarine Nakhwah dan Aufa Nur Adhia.
Selanjutnya, Kelompok 4 didampingi oleh Nailah Putri Pratama dan Zada Kanza Makhfiya Mohammad. Sedangkan untuk Kelompok 5, pendampingnya adalah Aisyah Nabilla Amini dan Istianah.
Melalui format kelompok-kelompok kecil ini, para peserta mendapatkan ruang yang lebih intim dan aman untuk mengajukan pertanyaan serta berbagi pengalaman pribadi mereka terkait berbagai persoalan atau tantangan yang mungkin mereka hadapi dalam aktivitas berorganisasi.
Usai sesi diskusi kelompok, materi LDKS berlanjut dengan pembahasan mengenai Kemuhammadiyahan. Sesi ini disampaikan oleh Muhammad Damar, yang menjabat sebagai Ketua Bidang Perkaderan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Jawa Timur.
Dalam pemaparannya, Damar mengajak para peserta untuk menilik kembali perjalanan panjang Muhammadiyah yang telah eksis selama lebih dari satu abad. Ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah mampu terus bergerak dan berkembang karena ditopang oleh landasan ideologi yang kokoh, sekaligus memiliki kapasitas untuk beradaptasi secara dinamis dengan perubahan dan perkembangan zaman.
Menurut Muhammad Damar, dua ruh penting yang menjadi penggerak utama gerakan Muhammadiyah adalah tajdid atau pembaharuan, serta semangat amar makruf nahi mungkar, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Secara spesifik dalam konteks Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Damar menggarisbawahi empat karakter esensial yang harus tertanam dalam diri setiap kader. Karakter-karakter tersebut meliputi sifat religius, semangat gemar belajar, sikap humanis, dan keberanian.
Damar menjelaskan bahwa keempat karakter ini akan menjadi bekal berharga bagi para pelajar, membekali mereka untuk aktif mengambil peran dan memberikan kontribusi nyata, baik di dalam lingkungan organisasi maupun dalam kehidupan bermasyarakat di sekitar mereka.
Pesan penting mengenai karakter kader ini mendapatkan respons positif dari salah satu peserta, Qarsafah Al Zahliyah R. Z. yang berasal dari Bidang Umum. “Siap menjadi pelajar pelopor, pelangsung, dan penyempurna amanah,” ujarnya, menunjukkan komitmennya terhadap nilai-nilai yang disampaikan.
Berbeda dengan rangkaian sebelumnya yang menguji peserta melalui debat dan penyusunan program kerja, sesi LDKS kali ini memberikan perspektif yang berbeda. Para kader diajak untuk menyelami seluk-beluk organisasi dari sudut pandang yang lebih mendalam, mulai dari mengenali peran beragam anggota, berbagi pengalaman praktis, hingga memahami karakter fundamental yang perlu dibangun sebagai seorang kader IPM yang berintegritas.












