Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Menggeser Paradigma Asesmen: Guru Dilatih Pahami Proses Berpikir Siswa Lewat TKA

badge-check

Menggeser Paradigma Asesmen: Guru Dilatih Pahami Proses Berpikir Siswa Lewat TKA Perbesar

KlikMojok – Memahami bagaimana siswa memperoleh sebuah jawaban merupakan kunci bagi para guru untuk mendalami kemampuan pemahaman bacaan anak didiknya. Hal ini menjadi fokus utama dalam sebuah pelatihan penyusunan asesmen berbasis Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang diselenggarakan oleh Forum Silaturahmi Kepala Sekolah dan Madrasah Muhammadiyah (Foskam) Jawa Timur pada Jumat, 11 September 2026, di SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya. Kegiatan ini bertujuan untuk menggeser paradigma asesmen dari sekadar hasil akhir menuju pemahaman mendalam tentang proses berpikir siswa, seperti yang diceritakan oleh Kazue Salzabella Rachelinda, S.Pd., seorang guru SD Muhammadiyah Manyar Gresik yang menjadi salah satu fasilitator.

Pada hari Jumat, 11 September 2026, Kazue Salzabella Rachelinda, bersama dengan Ria Pusvita Sari, M.Pd., seorang Fasilitator Nasional Tes Kemampuan Akademik (TKA) sekaligus mentornya dalam pengembangan asesmen literasi, memulai perjalanan dari Gresik menuju SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya. Meskipun sempat diwarnai kemacetan lalu lintas di pagi hari, perjalanan tersebut lebih dari sekadar perpindahan antar kota. Mereka membawa amanah penting untuk berbagi pengetahuan dalam Pelatihan Penyusunan Asesmen Berbasis TKA (Tes Kemampuan Akademik) yang ditujukan bagi jenjang Sekolah Dasar Muhammadiyah se-Jawa Timur.

Acara pelatihan yang signifikan ini diselenggarakan oleh Forum Silaturahmi Kepala Sekolah dan Madrasah Muhammadiyah (Foskam) Jawa Timur. Sebanyak sekitar 68 peserta, terdiri dari para guru dan kepala sekolah, turut hadir dari berbagai penjuru Jawa Timur. Mereka datang dari kota-kota seperti Surabaya, Gresik, Lamongan, Madura, Kediri, Malang, Mojokerto, Pasuruan, serta sejumlah daerah lain, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pengembangan kompetensi asesmen.

Kazue menyadari sejak awal bahwa ia berada di tengah para pendidik yang telah memiliki pengalaman panjang di dunia pendidikan. Namun, justru fakta inilah yang membuat perjalanannya menjadi sangat bermakna, sebagai ajang pertukaran ilmu dan pengalaman.

Ketika Usia Bukan Lagi Ukuran Sebuah Pengalaman

Ketika memperkenalkan diri sebagai seorang guru dari SD Muhammadiyah Manyar sekaligus praktisi literasi, Kazue menyebutkan tahun kelahirannya. Hal ini sontak membuat beberapa pasang mata peserta terbelalak, menampilkan ekspresi keterkejutan yang sulit disembunyikan. Para peserta seolah-olah sedang menghitung ulang usia dan pengalaman yang dibawa oleh Kazue ke dalam ruangan pelatihan tersebut.

Beberapa peserta bahkan mendekat untuk menyalami dan mendoakan agar ilmu yang dimiliki Kazue senantiasa diberkahi. Kazue memahami betul keterkejutan yang ditunjukkan oleh para peserta tersebut. Namun, dari momen itu, ia belajar bahwa ilmu dan pengetahuan tidak selalu berbanding lurus dengan usia. Pengalaman berharga dapat terakumulasi dari perjalanan panjang, keberanian untuk mencoba hal baru, kegagalan yang berulang kali dihadapi, serta melalui kegiatan membaca, menulis, menyusun soal, mengamati perilaku siswa, dan secara terus-menerus merenungkan pertanyaan fundamental: ‘apakah cara kita mengajar sudah benar-benar membuat anak belajar?’

Dengan demikian, hari itu bukanlah tentang siapa yang lebih unggul dari siapa. Sebaliknya, pelatihan tersebut menjadi wadah di mana berbagai pengalaman dipertemukan dan pengetahuan dapat dipertukarkan secara kolaboratif.

Menggeser Cara Pandang: TKA Bukan Sekadar Hasil

Sesi pertama pelatihan ini dipandu oleh Ria Pusvita Sari, M.Pd., yang secara lugas mengajak para peserta untuk memahami bahwa Tes Kemampuan Akademik (TKA) bukanlah semata-mata produk akhir. Justru, ada serangkaian proses panjang yang harus dibangun dan dipersiapkan jauh sebelum mencapai tahap asesmen tersebut.

Untuk mencapai pemahaman TKA yang komprehensif, siswa perlu dibiasakan dengan berbagai aktivitas. Mereka harus dibiasakan membaca, dibiasakan memahami teks secara mendalam, dibiasakan untuk bernalar, serta dibiasakan menghadapi berbagai persoalan yang tidak selalu dapat dijawab hanya dengan mengandalkan hafalan.

Oleh karena itu, pembiasaan asesmen berbasis TKA sangat dianjurkan untuk dimulai sejak kelas-kelas awal. Tentunya, bentuk dan tingkat kognitif asesmen harus disesuaikan dengan usia serta tujuan pembelajaran yang relevan. Siswa kelas 1 tidak perlu dipaksa untuk berpikir layaknya siswa kelas 6. Namun, sejak usia dini, mereka sudah dapat dibiasakan untuk tidak hanya fokus pada menemukan jawaban yang benar, melainkan juga memahami secara mendalam bagaimana sebuah jawaban itu diperoleh.

Membaca Cepat Tidak Selalu Berarti Memahami

Dalam sesi penguatan literasi, Kazue mengajak para peserta untuk bercermin pada realitas yang sangat erat kaitannya dengan keseharian mereka sebagai seorang guru. Ia membuka diskusi dengan sebuah pertanyaan reflektif: “Mari bercermin dari siswa kita, apakah semua siswa yang lancar dan cepat membacanya sudah pasti bisa memahami isi bacaannya?”

Jawaban atas pertanyaan reflektif tersebut terlontar hampir bersamaan dari seluruh peserta pelatihan. Meskipun terdengar sederhana, jawaban itu sesungguhnya menyimpan persoalan besar dalam konteks pembelajaran literasi. Seringkali, para pendidik terjebak pada anggapan bahwa kemampuan membaca dianggap tuntas ketika seorang anak mampu melafalkan kata dengan lancar dan menyelesaikan pembacaan sebuah teks dalam waktu singkat.

Padahal, esensi membaca jauh melampaui sekadar pergerakan mata dari satu kata ke kata berikutnya. Membaca adalah sebuah proses aktif dalam membangun makna dari teks yang dibaca.

Seorang siswa mungkin mahir dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya secara eksplisit tertulis di dalam teks. Akan tetapi, ketika mereka diminta untuk menafsirkan informasi yang tersirat, menarik kesimpulan, atau menghubungkan isi bacaan dengan berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit siswa yang justru mulai kehilangan arah dan kesulitan dalam menemukan jawaban.

Pada titik inilah asesmen memegang peran yang jauh lebih dalam. Asesmen bukan lagi sekadar alat untuk menentukan jawaban yang benar atau salah, melainkan berfungsi sebagai jendela untuk mengintip dan memahami bagaimana seorang anak berpikir serta memproses informasi.

Dari L1 hingga L3: Mengajak Guru Membaca Cara Berpikir Siswa

Dalam sesi selanjutnya, para peserta membedah bagaimana sebuah pertanyaan asesmen dapat dirancang berdasarkan tingkat kognitifnya. Pertanyaan level L1 berfokus pada informasi yang tersurat dalam teks. Level L2 membawa siswa untuk menggali informasi tersirat, menafsirkan, dan menarik kesimpulan. Sementara itu, pertanyaan level L3 menantang siswa untuk menghubungkan pemahaman mereka dengan situasi atau persoalan yang relevan dalam kehidupan nyata.

Bagian ini memicu diskusi yang semakin hidup dan interaktif di antara peserta. Beberapa di antaranya menyadari bahwa soal-soal yang sebelumnya mereka yakini sebagai soal berpikir tingkat tinggi, ternyata masih tergolong pada level kognitif L1. Namun, hal ini bukanlah suatu kesalahan yang perlu disesali, melainkan justru merupakan bagian esensial dari proses belajar itu sendiri.

Ternyata, menyusun soal asesmen yang efektif bukan hanya sekadar membuat pertanyaan yang sulit. Bahkan, pertanyaan yang panjang sekalipun belum tentu menuntut proses berpikir tingkat tinggi dari siswa. Aspek yang jauh lebih penting adalah mengidentifikasi: ‘proses kognitif apa yang sebenarnya sedang diharapkan dari siswa melalui pertanyaan tersebut?’

Sebuah pertanyaan yang sederhana dapat menjadi sangat bermakna apabila dirancang dengan tepat sasaran. Sebaliknya, pertanyaan yang terlihat rumit sekalipun dapat tetap berada pada level berpikir yang rendah jika jawabannya masih dapat ditemukan secara eksplisit atau tersurat di dalam teks.

Ketika Guru Tidak Lagi Sekadar Membuat Soal

Pelatihan ini tidak hanya berhenti pada pemaparan materi secara teoritis. Para peserta langsung diajak untuk berlatih menyusun soal asesmen berbasis TKA. Setelah menyusun, mereka kemudian mempresentasikan hasil pekerjaan mereka dalam dua kelompok, yaitu kelompok pembelajaran numerasi dan literasi.

Dalam kelompok literasi, pembahasan yang terjadi tidak hanya terbatas pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Diskusi meluas hingga mencakup bagaimana prinsip-prinsip literasi dapat diintegrasikan dan diterapkan dalam mata pelajaran lainnya, menunjukkan pendekatan holistik.

Kazue dan Vita berkeliling untuk mendampingi seluruh proses pelatihan tersebut. Saat sesi presentasi, Kazue tidak langsung bertindak sebagai satu-satunya penilai. Sebaliknya, peserta lain terlebih dahulu diajak untuk memberikan pandangan dan masukan apakah soal yang telah disusun benar-benar sesuai dengan level kognitif yang menjadi target.

Dalam sesi tersebut, terjadi beragam interaksi. Ada peserta yang mempertahankan argumen di balik soal yang mereka susun, ada pula yang berhasil menemukan kekurangan dalam soal buatan mereka sendiri, serta banyak yang aktif memberikan masukan konstruktif kepada rekan peserta lainnya.

Salah satu momen yang paling membahagiakan bagi Kazue adalah ketika seorang peserta berhasil membedakan dengan tepat antara soal level L2 dan L3, kemudian mampu memberikan masukan yang konstruktif kepada peserta lain untuk memperbaiki soal yang telah mereka susun.

Pada momen tersebut, Kazue melihat sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kesuksesan sebuah pelatihan. Meskipun pelatihan satu hari itu berakhir tepat pukul 15.00, harapan akan perubahan tidak berhenti saat pintu ruang pelatihan ditutup.

Sebanyak 68 peserta diharapkan dapat membawa pulang pengetahuan yang telah mereka peroleh ke sekolah masing-masing. Mereka diharapkan dapat mengimbaskan ilmu tersebut kepada rekan-rekan sejawat, mencoba menyusun asesmen yang lebih bermakna, dan secara bertahap membangun pembiasaan yang dimulai dari kelas 1 hingga kelas 6.

Perubahan dalam dunia pendidikan jarang sekali lahir dari satu pelatihan yang selesai dalam waktu sehari. Sebaliknya, perubahan tersebut tumbuh dari serangkaian kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus. Dimulai dari satu guru yang berani mencoba, kemudian berbagi pengalamannya kepada guru lain. Satu kelas mulai terbiasa membaca dengan pemahaman yang mendalam, lalu kelas lain mulai terbiasa menarik kesimpulan. Hingga pada akhirnya, siswa tidak hanya sekadar belajar menjawab soal, tetapi juga belajar untuk memahami inti dari suatu persoalan.

Melalui proses berkelanjutan inilah, Kazue melihat sebuah harapan besar. Harapan bahwa asesmen tidak lagi dipandang sebagai tujuan akhir dari pembelajaran, melainkan sebagai bagian integral dari proses untuk memahami secara mendalam bagaimana setiap siswa belajar dan mengembangkan cara berpikirnya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Menghidupkan Pancasila di Era Digital: Refleksi Hari Kesaktian, Melampaui Ritual Menuju Teladan Nyata

1 Okt 2026 - 12:40 WIB

Menghidupkan Pancasila di Era Digital: Refleksi Hari Kesaktian, Melampaui Ritual Menuju Teladan Nyata

Belanja Negara APBN 2027 Capai Rp4.106 Triliun: Badan Gizi Nasional Pimpin Alokasi Terbesar, Anggaran Pendidikan Rp824 T

1 Okt 2026 - 12:39 WIB

Belanja Negara APBN 2027 Capai Rp4.106 Triliun: Badan Gizi Nasional Pimpin Alokasi Terbesar, Anggaran Pendidikan Rp824 T

Perjalanan Emas Nurisa Dian: Unggulan Kedelapan Panahan Indonesia Taklukkan Asia di Asian Games 2026

1 Okt 2026 - 12:38 WIB

Perjalanan Emas Nurisa Dian: Unggulan Kedelapan Panahan Indonesia Taklukkan Asia di Asian Games 2026

Merajut Asa di Ujung Laut: Bandara Masalembu, Jembatan Udara untuk Pulau Terpencil Sumenep

30 Sep 2026 - 06:14 WIB

Merajut Asa di Ujung Laut: Bandara Masalembu, Jembatan Udara untuk Pulau Terpencil Sumenep

Senja yang Tergelincir di Bibir Sumur: Kisah Pilu Lansia Madiun dalam Perbaikan Pompa Air

30 Sep 2026 - 06:13 WIB

Senja yang Tergelincir di Bibir Sumur: Kisah Pilu Lansia Madiun dalam Perbaikan Pompa Air
Trending di Pendidikan