KlikMojok – Pada Sabtu, 26 September 2026, Alumni 1996 Karangasem Paciran melaksanakan kunjungan silaturahmi ke Yayasan Al-Husna Malang, Jawa Timur. Kunjungan ini bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan sekaligus menunjukkan kepedulian mereka terhadap anak-anak yatim di yayasan tersebut melalui pemberian bantuan dan motivasi.
Semangat menyambung persaudaraan dan kepedulian yang mendalam menjadi landasan bagi Alumni 96 Karangasem Paciran saat mengunjungi anak-anak Yayasan Al-Husna Malang. Rombongan alumni SMA/Aliyah 1996 dari Pondok Pesantren Karangasem Paciran hadir di lokasi dengan suasana yang penuh keakraban.
Pertemuan tersebut tidak sekadar menjadi ajang nostalgia bagi para alumni setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan masing-masing. Lebih dari itu, para alumni turut menunjukkan kepedulian nyata dengan menyerahkan berbagai bantuan kepada anak-anak yatim binaan Yayasan Al-Husna.
Bantuan yang diserahkan meliputi sembako, berbagai kebutuhan pokok, serta uang pembinaan. Semua ini merupakan wujud perhatian Alumni 96 Karangasem terhadap aspek pendidikan, pembinaan, dan masa depan generasi muda yang diasuh oleh yayasan.
Suasana pertemuan terasa sangat hangat sejak rombongan alumni tiba di lingkungan Yayasan Al-Husna. Kiai Karmuji, pengasuh Yayasan Al-Husna Malang, menyambut kedatangan mereka dengan penuh kekeluargaan dan apresiasi.
Kiai Karmuji menyatakan penghargaan atas perhatian yang diberikan oleh keluarga besar Alumni 96 Pondok Pesantren Karangasem Paciran. “Semoga pertemuan ini membawa keberkahan dan semakin mempererat persaudaraan,” tutur Karmuji.
Bagi para alumni, kegiatan silaturahmi ini merupakan kesempatan berharga untuk kembali menguatkan ikatan persaudaraan yang pernah terjalin di masa lalu. Namun, kali ini, ikatan tersebut menemukan makna baru melalui tindakan kepedulian terhadap anak-anak yang membutuhkan dukungan.
Dengan demikian, acara “sambung dulur” ini tidak hanya berfungsi untuk merawat kenangan lama, tetapi juga melahirkan tindakan nyata yang bermanfaat.
Dalam kunjungan tersebut, Alumni 96 Karangasem Paciran juga berkesempatan mendengarkan cerita perjalanan panjang Yayasan Al-Husna dalam mendampingi anak-anak. Kiai Karmuji menceritakan bahwa yayasan tersebut tidak langsung memiliki tempat sendiri sejak awal berdiri.
Pada masa-masa awal, kegiatan yayasan seringkali berlangsung secara berpindah-pindah dan masih harus menggunakan tempat sewaan. “Awal berdiri kami masih berpindah-pindah tempat dan masih sewa,” ungkap Karmuji.
Perjalanan panjang itu kemudian mencapai titik penting pada tahun 2018, ketika Yayasan Al-Husna berhasil memperoleh tempat sendiri. Hal ini terwujud berkat wakaf dari seorang pengusaha di Malang. “Alhamdulillah, pada tahun 2018, kami sudah memiliki tempat sendiri,” lanjutnya.
Kehadiran tempat tetap ini memberikan ruang yang lebih luas dan stabil bagi pelaksanaan berbagai kegiatan pendidikan serta pembinaan anak-anak binaan yayasan.
Sejak didirikan pada tahun 2001, Yayasan Al-Husna memang telah tumbuh melalui proses yang panjang dan bertahap. Pada awalnya, yayasan hanya membina sekitar dua anak. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya kegiatan, jumlah anak binaan pun bertambah.
Pada tahun 2007, kegiatan yayasan mulai berkembang di beberapa lokasi berbeda sebelum akhirnya berjalan secara lebih formal pada tahun 2010. Kini, sekitar 40 anak mendapatkan pendidikan dan pembinaan di Yayasan Al-Husna.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan sebuah lembaga membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan dukungan dari banyak pihak. Selain itu, keberadaan tempat sendiri memberikan fondasi penting bagi keberlanjutan proses pembinaan.
Seiring berjalannya waktu, hasil dari pembinaan yang dilakukan yayasan juga mulai terlihat melalui jejak para alumninya. Sebagian dari mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi setelah menyelesaikan program di yayasan.
Sementara itu, sebagian alumni lainnya memilih untuk mengabdikan diri sebagai ustaz, pengasuh, maupun pendiri lembaga pendidikan dan pesantren. Jejak positif ini menjadi bagian dari cerita panjang Yayasan Al-Husna dalam mendampingi dan membentuk generasi muda.
Selain membawa bantuan materi, Alumni 96 Karangasem Paciran juga membawa pesan penting agar anak-anak Al-Husna berani menatap masa depan dengan optimisme. Fajar Sodiq, salah satu perwakilan Alumni 96, memberikan motivasi agar anak-anak tidak merasa minder.
“Jangan minder. Terus belajar dan jangan pernah berhenti memiliki cita-cita,” pesannya kepada anak-anak. Menurut Fajar, banyak orang sukses memulai perjalanan mereka dari tempat yang sederhana. Oleh karena itu, keterbatasan keadaan tidak seharusnya memadamkan keberanian anak-anak untuk bermimpi besar.
Fajar juga mendorong anak-anak Al-Husna untuk melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Harapan ini muncul dari keinginan kuat agar persoalan biaya tidak menjadi penghalang bagi langkah mereka. “Kalau ada yang ingin kuliah tetapi terkendala biaya, insyaallah kita akan berusaha membantu,” ujarnya.
Pesan tersebut sekaligus membuka ruang bagi para alumni untuk mengambil bagian lebih jauh dalam mendukung masa depan anak-anak. Menurut Fajar, kontribusi tidak selalu harus hadir dalam bentuk materi semata. Ilmu, tenaga, pikiran, jaringan, doa, dan perhatian juga memiliki nilai yang sangat berarti.
Dengan demikian, setiap orang dapat mengambil peran sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Kepedulian pun tidak harus menunggu seseorang memiliki banyak hal untuk diberikan. Terkadang, perhatian dan dorongan sederhana sudah mampu menyalakan kembali keberanian seseorang dalam mengejar impiannya.
Setelah kunjungan, Alumni 96 Karangasem Paciran meninggalkan Yayasan Al-Husna dengan membawa kembali makna mendalam dari silaturahmi. Pertemuan tersebut berhasil mempertemukan kenangan masa lalu dengan kebutuhan generasi masa kini.
Para alumni datang untuk menyambung tali persaudaraan, sekaligus berbagi perhatian tulus kepada anak-anak yatim. Sembako dan kebutuhan pokok yang diserahkan membantu memenuhi sebagian kebutuhan dasar anak-anak binaan.
Sementara itu, uang pembinaan menjadi bentuk dukungan konkret bagi keberlangsungan pendidikan dan pembinaan mereka. Lebih dari itu, motivasi yang disampaikan para alumni menghadirkan bekal non-materi yang tidak kalah pentingnya.
Anak-anak mendapatkan pesan inspiratif untuk terus belajar, berani bermimpi, dan melangkah maju. Di sisi lain, perjalanan Yayasan Al-Husna sendiri memperlihatkan bagaimana sebuah perjuangan dapat tumbuh dan berkembang melalui kebersamaan.
Dari tempat sewaan yang berpindah-pindah, yayasan akhirnya memiliki tempat sendiri melalui wakaf pada tahun 2018. Perjalanan ini menjadi pengingat bahwa kebaikan seringkali tumbuh melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dan penuh ketekunan.
Kini, sekitar 40 anak menjalani pendidikan dan pembinaan di tempat tersebut. Bahkan, sebagian alumni Al-Husna telah melanjutkan kiprah mereka melalui pendidikan lebih lanjut dan pengabdian kepada masyarakat.
Oleh karena itu, kunjungan Alumni 96 Karangasem Paciran memiliki arti yang jauh lebih dari sekadar pertemuan biasa. Silaturahmi tersebut berhasil mempertemukan persaudaraan, kepedulian, dan harapan dalam satu ruang yang sama. Pada akhirnya, “sambung dulur” menemukan maknanya yang sejati ketika persaudaraan melahirkan kepedulian. Dari kepedulian itu, tumbuh dukungan nyata bagi anak-anak untuk terus belajar dan mengejar cita-cita mereka. Dengan begitu, sebuah pertemuan sederhana dapat meninggalkan jejak kebaikan yang panjang dan berkelanjutan.












