Nama Nadiem Makarim sudah lama melampaui jabatannya sebagai menteri. Bahkan jauh sebelum masuk kabinet, namanya telah dikenal luas, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia internasional. Nadiem lebih sering disebut sebagai teknopreneur ketimbang pejabat negara.
Di tengah citra teknopreneur yang identik dengan teknologi tingkat tinggi, Nadiem justru memilih sesuatu yang sangat membumi: sepeda motor. Kendaraan yang selama ini identik dengan masyarakat kelas bawah. Pilihan itu sempat menuai cibiran. Ia dicap sebagai teknopreneur kelas sepeda motor, bahkan kelas ojek.

Namun dari situlah Nadiem membaca realitas. Di banyak sudut kota, transportasi umum tak tersedia. Orang sudah terlanjur malas berjalan kaki. Sementara sepeda motor ada di mana-mana. Ojek pun hadir mengisi kekosongan. Meski awalnya canggung dibonceng orang asing, lama-kelamaan masyarakat terbiasa karena kebutuhan.
Lubang lain yang dilihat Nadiem adalah soal waktu. Kota-kota besar seperti Jakarta macet, mobil tak lagi efektif. Ojek menjadi solusi paling masuk akal bagi mereka yang dikejar waktu. Fleksibilitas sepeda motor tak tertandingi.
Dari situlah lahir Go-Jek. Ojek berubah menjadi Go-Jek, pangkalan dipindah dari bawah pohon ke layar ponsel. Dampaknya luar biasa. Go-Jek bukan hanya menjadi gaya hidup, tetapi juga mesin ekonomi baru. Kelas atas memesan, kelas bawah mengantar. Dari Go-Food hingga berbagai layanan lain, roda ekonomi berputar.
Nadiem pun menjelma simbol kesuksesan anak muda. Kaya raya, mendunia, dan tetap membumi. Ia seperti anak panah yang melesat jauh dari busur orang tuanya, Nono Anwar Makarim.
Nono bukan sosok sembarangan. Ia aktivis demokrasi, antikorupsi, dan pembela keadilan. Ia pernah menjadi tokoh penting Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan pemimpin redaksi Harian Kami, koran mahasiswa yang terkenal lantang mengkritik kekuasaan.
Istri Nono, Tika, juga aktivis antikorupsi. Keduanya mendirikan LP3ES, lembaga riset dan pendidikan yang berperan sebagai pressure group intelektual. Dari lingkungan idealisme itulah Nadiem dibesarkan.
Dahlan Iskan mengaku tak mengenal Nadiem secara pribadi. Ia justru sempat heran ketika Nadiem mau masuk kabinet. Sebab, meritokrasi di Indonesia belum sepenuhnya berjalan. Namun godaan kekuasaan sering kali datang dengan bahasa idealisme: demi bangsa dan negara.
Jabatan menteri juga membawa gengsi. Dari ratusan juta penduduk, hanya segelintir yang bisa duduk di kursi tersebut. Dahlan mengakui, ia pun pernah mengalami rayuan serupa saat masuk pemerintahan. Ada idealisme, ada ego, ada keinginan membuktikan diri.
Namun tak semua berakhir indah. Dahlan mengibaratkan nasib itu seperti penyakit prostat: sebagian jinak, sebagian berubah menjadi kanker. Nadiem, menurut Dahlan, termasuk yang bernasib buruk. Ia kini harus menghadapi status tersangka, seperti beberapa tokoh lain sebelumnya.
Yang paling menyayat adalah posisi orang tuanya. Nono dan Tika, aktivis antikorupsi dengan nama harum, harus duduk di pengadilan menyaksikan anak kebanggaannya berhadapan dengan hukum. Praperadilan Nadiem ditolak, dan proses hukum berlanjut.
Dalam eksepsinya, Nadiem menegaskan tidak menerima uang sepeser pun. Ia menjelaskan alur dana yang dituduhkan kepadanya dan menyatakan keputusan penggunaan Chromebook bukan keputusan pribadi, melainkan hasil kajian tim, disertai pendapat hukum dan audit.
Ia juga mempertanyakan penetapan dirinya sebagai tersangka yang disebut terjadi sebelum adanya audit kerugian negara. Menurutnya, audit justru dilakukan setelah status tersangka ditetapkan.
Nadiem menilai akar persoalan bukan politik, melainkan persaingan bisnis dan perubahan sistem lama yang selama ini memberi “kenyamanan” bagi banyak pihak. Perubahan teknologi, kata dia, menghilangkan banyak kepentingan lama. Termasuk rasa sakit hati di internal kementerian akibat masuknya anak-anak muda dari luar yang bekerja cepat dan tanpa basa-basi.
Itu versi Nadiem. Dahlan mengaku mencoba bertanya ke banyak pihak, termasuk aktivis antikorupsi. Jawaban mereka nyaris sama: sulit membayangkan Nadiem menerima uang. Selebihnya, mereka tak tahu.
Di akhir tulisannya, Dahlan menutup dengan kalimat getir: bersih itu baik, tetapi bersih sambil membersihkan bisa menjadi salah. Kalimat yang seolah merangkum ironi panjang perjalanan seorang Nadiem Makarim.













