Menu

Mode Gelap
JSIT Bojonegoro Audiensi dengan Bupati, Perkuat Sinergi Pendidikan Hari Kedua TKA, Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Tersenyum Usai Ujian Bahasa Indonesia Menaklukkan Matematika di Hari Pertama TKA, Ini Perjuangan Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Asah Kreativitas Lewat Teknik Mewarnai Batik Persaingan Makin Ketat, SD Swasta Sidoarjo Siapkan Strategi Penerimaan Murid Baru Tebar Kurma dan Imsakiyah, Yayasan Bina Insan Muslim Gaungkan Syiar Ramadan

Tokoh

Kesan Mendalam Ustadz Salim A Fillah tentang Sosok Ustadz Jazir: Guru Dakwah, Cinta Indonesia

badge-check


					Kesan Mendalam Ustadz Salim A Fillah tentang Sosok Ustadz Jazir: Guru Dakwah, Cinta Indonesia Perbesar

YOGYAKARTA – Kabar wafatnya Ustadz Jazir, Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokaryan Yogyakarta, meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam dan para aktivis dakwah di Tanah Air. Salah satu yang merasakan kehilangan besar adalah dai dan penulis nasional, Ustadz Salim A Fillah, yang telah lama membersamai almarhum dalam perjalanan dakwah.

Dalam ungkapan kesannya, Ustadz Salim A Fillah menyampaikan bahwa kepergian Ustadz Jazir merupakan kehilangan yang sangat besar, khususnya bagi mereka yang merasakan langsung asuhan dan tempaan dakwah beliau sejak awal tahun 2000-an. Sejak 2001, Ustadz Salim mengaku banyak menemani almarhum dalam berbagai perjalanan dakwah, baik di darat, udara, maupun perairan.

“Waktu-waktu bersama beliau adalah bagian paling berharga dalam hidup kami, saat keteladanan, ilmu, dan pengalaman penuh hikmah tumpah ruah disiramkan kepada jiwa yang dahaga,” ungkap Ustadz Salim.

Menurutnya, Ustadz Jazir dikenal publik sebagai sosok yang kritis dan vokal dalam menyuarakan kebenaran. Namun di balik itu, kecintaan beliau terhadap Indonesia tidak perlu diragukan. Almarhum dikenal memiliki wawasan kebangsaan yang luas, menguasai sejarah nasional, memahami dinamika Kebangkitan Nasional, pidato-pidato Bung Karno, hingga kebijakan pemerintahan di berbagai era.

“Beliau adalah pengasuh kajian kebangsaan, perpustakaan berjalan yang menyimpan begitu banyak referensi sejarah dan pemikiran,” lanjutnya.

Ustadz Jazir juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan besar dalam penguatan dakwah berbasis masjid. Gagasan metode cepat belajar membaca Al-Qur’an, Iqra’, disebut Ustadz Salim sebagai salah satu buah pemikiran Ustadz Jazir yang kemudian disusun dan dikembangkan oleh KH As’ad Humam. Metode tersebut menjadi ikhtiar besar dalam membentengi akidah umat, khususnya di wilayah pedesaan.

Selain itu, konsep Manajemen Masjid yang selama ini dikenal luas dan diterapkan di berbagai daerah juga tidak lepas dari peran dan pemikiran Ustadz Jazir. Masjid Jogokaryan di Yogyakarta kemudian menjadi model atau rintisan peradaban masjid modern yang aktif, mandiri, dan berorientasi pada pelayanan umat.

Masjid Jogokaryan sendiri dikenal sebagai salah satu masjid percontohan di Indonesia. Berlokasi di kawasan Mantrijeron, Yogyakarta, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan umat, dakwah, pendidikan, sosial, dan kebangsaan. Program-programnya kerap menjadi inspirasi bagi pengelolaan masjid di berbagai daerah, mulai dari transparansi keuangan, pelayanan jamaah, hingga penguatan peran masjid di tengah masyarakat.

Di bawah bimbingan Ustadz Jazir, Masjid Jogokaryan berkembang menjadi simbol masjid yang hidup, dekat dengan umat, dan responsif terhadap persoalan sosial. Kepemimpinan beliau dikenal tegas, visioner, dan penuh keberanian dalam menyuarakan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.

Bagi Ustadz Salim A Fillah, Ustadz Jazir bukan sekadar tokoh atau aktivis dakwah, melainkan seorang guru dalam makna yang utuh. Sosok pendidik yang mengajarkan keteladanan melalui laku hidup, keberanian berpikir, dan kesungguhan mengabdi untuk umat dan bangsa.

“Takkan cukup kata untuk menggambarkan beliau. Ustadz Jazir adalah guru, dalam segala makna yang dikandung oleh kata itu,” tuturnya.

Ustadz Salim menutup kesannya dengan doa dan salam perpisahan penuh haru, “Sugeng tindak, Ustadz,” sebagai ungkapan hormat dan cinta atas jasa besar almarhum dalam perjalanan dakwah Islam di Indonesia.

Kepergian Ustadz Jazir menjadi pengingat bahwa estafet dakwah dan pengabdian umat harus terus dilanjutkan, dengan semangat keteladanan, keberanian, dan kecintaan kepada Islam serta Indonesia, sebagaimana yang telah dicontohkan almarhum semasa hidupnya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Nadiem Makarim, Anak Aktivis Antikorupsi yang Kini Duduk di Kursi Terdakwa

9 Januari 2026 - 09:27 WIB

Di Balik Gonjang-Ganjing PBNU: Kesaksian Ufi Ulfiah soal Kiprah Perbaikan Tata Kelola ala Gus Yahya

26 November 2025 - 10:44 WIB

Sepak Terjang Ketua PBNU KH Yahya Cholil Staquf yang dimakzulkan

Lepas Jabatan Rektor ITB, Arif Satria Siap Menakhodai BRIN dengan Semangat Ilmu dan Etika

11 November 2025 - 10:39 WIB

Suripto Wafat, Ini Profil Lengkap Sang Master Intelijen yang Dikenang sebagai Pejuang Kemanusiaan

6 November 2025 - 16:06 WIB

Usia 23 Tahun Sudah Jadi Raja, Begini Perjalanan Pendidikan Paku Buwono XIV

5 November 2025 - 17:03 WIB

Trending di Tokoh