Jarang ada tokoh yang namanya begitu kuat di dunia intelijen sekaligus dikenal sebagai aktivis kemanusiaan dan politikus berintegritas. Suripto — sosok yang pernah menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakakin) — wafat pada Kamis, 6 November 2025. Ia bukan hanya dikenal sebagai “master intelijen” Indonesia, tetapi juga sebagai pendiri Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan pejuang kemanusiaan yang lantang membela Palestina hingga akhir hayatnya.
Kabar duka ini dikonfirmasi oleh kader PKS, Mabruri, kepada Republika. “Betul, beliau wafat,” ujarnya singkat. Meski telah sepuh dan lama berjuang melawan penyakit, semangat Suripto untuk berdakwah dan memperjuangkan keadilan tak pernah surut. Ia dikenal sering mendatangi berbagai media sebelum pandemi COVID-19 untuk menyerukan dukungan bagi rakyat Gaza, bahkan turun langsung dalam demonstrasi besar di Jakarta bersama massa pro-Palestina.

Nama Suripto tak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang sejarah intelijen Indonesia. Lahir di Bandung, 20 November 1936, Suripto menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan lulus pada tahun 1964. Ia memulai kariernya di dunia pertahanan pada masa-masa genting Indonesia modern: bergabung dengan Komando Mandala Siaga pada 1965, dilanjutkan di Komando Operasi Tertinggi (1966–1967), dan kemudian masuk ke Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) pada 1968.
Kariernya terus menanjak hingga dipercaya menjadi bagian penting dalam Lembaga Studi Strategis Dewan Pertahanan Keamanan Nasional. Puncaknya, Suripto menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Kehutanan dan Perkebunan pada 1999–2001. Dalam setiap posisi strategis, ia dikenal sebagai pejabat yang bersih, disiplin, dan visioner, dengan prinsip bahwa kekuasaan hanya bermakna jika digunakan untuk menjaga keutuhan bangsa.
Peran pentingnya tidak berhenti di ranah eksekutif. Setelah pensiun dari dunia pemerintahan, Suripto aktif di parlemen sebagai anggota DPR RI dari Fraksi PKS, mewakili Daerah Pemilihan Jawa Timur I dengan perolehan suara 27.444 — tertinggi di antara kandidat lainnya. Ia menjabat di Komisi I DPR RI yang membidangi pertahanan, luar negeri, dan informasi, serta dikenal aktif dalam pembahasan isu keamanan nasional.
Sebagai kader senior PKS, Suripto juga sempat menjadi Ketua Dewan Pakar partai pada 2004, memberi banyak saran strategis tentang kebijakan publik dan geopolitik. Selain itu, ia berperan sebagai dewan pembina di berbagai lembaga kajian strategis, termasuk Pengelola Sumber Daya Alam Watch dan Lembaga Studi Pertahanan dan Keamanan Nasional.
Dalam kehidupan pribadi, Suripto dikenal sederhana dan religius. Ia menikah dengan Nur Halimah Suripto dan dikaruniai tujuh orang anak. Meski telah menduduki berbagai jabatan penting, ia lebih dikenal sebagai sosok ayah yang hangat dan rendah hati. Rumahnya di Jl. Tampak Siring 24, Cipete Selatan, Jakarta Selatan, kerap menjadi tempat diskusi lintas generasi — mulai dari aktivis muda hingga pejabat negara yang mencari nasihat.
Bagi banyak orang, Suripto bukan sekadar tokoh sejarah, tapi cermin keteguhan dan integritas. Ia adalah sosok yang menjembatani dunia intelijen lama dengan semangat keterbukaan era reformasi, dan menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati seorang pejabat adalah kesetiaannya pada kebenaran.
Kini, Suripto telah pergi meninggalkan warisan besar — bukan hanya dalam bentuk kebijakan dan lembaga yang ia bangun, tetapi juga semangat pengabdian yang ia tanamkan. Dari Bandung hingga Senayan, dari ruang intelijen hingga jalanan pro-Palestina, Suripto telah menulis sejarahnya sendiri: perjalanan seorang abdi negara yang tak pernah berhenti mencintai bangsanya.













