Ponorogo — Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Daerah Ponorogo menggelar kegiatan upgrading guru bertema “Profil Guru SIT” di Pondok Pesantren Darut Taqwa, Ponorogo. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 400 guru dari 24 Sekolah Islam Terpadu (SIT) se-Kabupaten Ponorogo.
Kegiatan upgrading ini merupakan bagian dari rangkaian Musyawarah Daerah (Musda) ke-3 JSIT Ponorogo. Selain menjadi penutup masa kepengurusan JSIT Daerah Ponorogo periode 2022–2025, kegiatan ini juga menjadi pembuka bagi kepengurusan baru periode 2025–2029.

Ketua JSIT Daerah Ponorogo terpilih periode 2025–2029, Ustadz Widodo, S.Pd., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap forum upgrading dapat menjadi sarana silaturahmi sekaligus wadah berbagi pengetahuan dan pengalaman antar guru SIT di Ponorogo.
“Alhamdulillah kita bisa bertemu bersama di sini. Semoga keberkahan berlimpah untuk kita semua. Kami berharap para guru SIT di Ponorogo dapat terus menjaga silaturahmi dan saling berbagi pengetahuan demi peningkatan kualitas pendidikan,” ujarnya.
Pimpinan Pondok Pesantren Darut Taqwa dalam sambutannya menegaskan peran strategis guru dalam dunia pendidikan. Menurutnya, guru merupakan tiang utama pendidikan sekaligus investor terbaik dalam membangun peradaban.
“Guru adalah tiangnya pendidikan dan investor terkaya. Ilmu yang dikembangkan guru akan terus tumbuh dan menjadi investasi yang pahalanya tidak terputus hingga hari kiamat,” tuturnya.
Sebagai pemateri utama, Coach Feri Dwi Sampurno, S.P., M.M., CEO INALEAD, mengajak para guru untuk mengambil peran penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewujudkan Indonesia yang maju. Ia menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam memanfaatkan bonus demografi yang dimiliki Indonesia.
Menurutnya, kepemimpinan yang sehat dan suasana kerja yang bahagia menjadi kunci kemajuan lembaga pendidikan. “Kepala sekolah yang bahagia akan mampu menciptakan teamwork yang lebih baik. Sebaliknya, stres yang tidak terkelola dapat menurunkan kinerja lembaga. Karena itu, guru dan pimpinan sekolah wajib bahagia agar lembaga terus berkembang,” jelasnya.
Coach Feri juga menyinggung pentingnya proses healing dan realising dalam pengembangan diri pendidik. Ia menjelaskan bahwa lembaga yang mengalami persoalan membutuhkan kesadaran bersama untuk menyembuhkan luka serta memahami akar permasalahan agar dapat tumbuh dan bergerak maju.
Dalam konteks pengembangan personal, proses healing kerap berjalan beriringan dengan realising, yakni kesadaran untuk melepaskan pola lama yang tidak lagi relevan, sehingga individu maupun lembaga dapat berkembang secara lebih sehat dan berkelanjutan.
Kegiatan upgrading guru SIT Ponorogo ini diharapkan mampu memperkuat kompetensi, karakter, dan kesejahteraan emosional para pendidik, sekaligus menjadi langkah awal kepengurusan baru JSIT Daerah Ponorogo dalam meningkatkan mutu pendidikan Islam terpadu di daerah tersebut.









