SURABAYA – Kreativitas siswa SMP PGRI 6 Surabaya diasah melalui pembelajaran seni mewarnai batik dengan teknik asam (colet) dan teknik basah (celup), Rabu (11/2/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya yang bertujuan melatih ketelitian, kesabaran, sekaligus imajinasi siswa.
Dalam praktiknya, siswa dikenalkan dua teknik pewarnaan batik yang berbeda karakter. Teknik asam atau colet dilakukan dengan mengaplikasikan warna secara manual menggunakan kuas. Teknik ini menuntut ketelitian saat mengisi ruang-ruang di antara garis malam (lilin) serta memberi kebebasan bereksplorasi warna dan gradasi.

Sementara itu, teknik basah atau celup dilakukan dengan merendam kain ke dalam larutan pewarna. Melalui teknik ini, siswa belajar tentang harmoni warna dan proses pelapisan (layering). Mereka juga memahami bagaimana efek retakan lilin dapat menghasilkan motif unik yang artistik.
Guru Seni Budaya, Nidya Verawati, S.Sos., menjelaskan bahwa sebelum praktik, siswa diminta membawa bahan dari rumah, seperti kunyit dan deterjen bubuk, untuk digunakan dalam proses pewarnaan alami maupun campuran.
“Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar teknik membatik, tetapi juga memahami proses, kesabaran, dan keberanian bereksperimen,” ujarnya.
Kepala SMP PGRI 6 Surabaya, H. Banu Atmoko, menambahkan bahwa kegiatan membatik juga memiliki nilai terapi seni (art therapy). Proses mencampur warna, menunggu hasil reaksi pada kain, hingga melihat perubahan motif memberikan pengalaman reflektif dan menenangkan bagi siswa.
Menurutnya, kreativitas tidak lahir dari rasa takut salah, tetapi dari keberanian mencoba. Dalam membatik, kesalahan justru kerap melahirkan motif baru yang orisinal dan bernilai seni.
Melalui pembelajaran ini, sekolah berharap siswa mampu mengembangkan kreativitas sekaligus menghargai warisan budaya bangsa dalam bentuk karya nyata.













