Pagi yang cerah di Surabaya Utara, Sabtu (8/11/2025), menjadi saksi betapa eratnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua di SMP PGRI 6 Surabaya. Sejak pukul 07.30, para wali murid berbondong-bondong memasuki Aula sekolah yang berlokasi di Jalan Bulak Rukem III No. 7–9, Wonokusumo, Semampir. Mereka hadir bukan sekadar untuk menerima laporan nilai anak, melainkan untuk memahami arah besar pendidikan di sekolah yang dikenal sebagai “Sekolah Inspirasi” ini.
Kepala SMP PGRI 6 Surabaya, Banu Atmoko, yang juga Mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan UNESA RPL Kelas E sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara, menjadi pembicara utama. Dengan penuh semangat, ia memaparkan berbagai program akademik dan non-akademik sekolah—mulai dari STS, SAS, ANBK, Try Out TKA, hingga agenda kenaikan kelas yang dijadwalkan pada Juni 2026 mendatang.

Menurut Banu, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh fasilitas atau kurikulum, melainkan oleh kekuatan sinergi antara dua pihak penting: sekolah dan orang tua.
“Sekolah menyediakan fondasi akademik dan pembentukan karakter terstruktur. Sementara orang tua memberikan dukungan emosional, nilai, dan kesinambungan belajar di rumah. Ketika keduanya berkoordinasi dengan baik, hasilnya luar biasa,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa komunikasi aktif antara guru dan wali murid adalah kunci. Melalui pertemuan rutin, komunikasi digital, maupun sesi konseling, guru dapat memahami sisi personal siswa dengan lebih baik, sedangkan orang tua bisa memberi dukungan sesuai kebutuhan anak.
“Dengan koordinasi yang kuat, anak merasa lebih percaya diri, termotivasi, dan tumbuh dengan karakter yang utuh,” tambahnya.
Acara yang berlangsung hangat ini juga menjadi ajang refleksi bagi para orang tua. Setelah sesi paparan, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian rapor sisipan di masing-masing kelas. Wali kelas memaparkan perkembangan akademik dan karakter siswa selama lima bulan terakhir, menciptakan ruang dialog terbuka antara sekolah dan orang tua.
Banu menutup kegiatan dengan pesan penuh makna: “Kesuksesan sekolah bukan hasil kerja keras sepihak. Ia lahir dari ekosistem pendidikan yang hidup—tempat sekolah, guru, dan orang tua berjalan seirama demi masa depan anak bangsa.”
Kolaborasi seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan sejati tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di ruang komunikasi antara hati guru dan hati orang tua.













