Di tengah riuhnya wacana peningkatan mutu pendidikan nasional yang kerap berpusat pada angka dan capaian akademik, muncul satu gagasan segar dari seorang mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan UNESA, Banu Atmoko. Kepala SMP PGRI 6 Surabaya sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara itu menulis buku berjudul “Pendidikan yang Membahagiakan: Transformasi Manajemen Sekolah Menuju Ekosistem Belajar yang Merdeka dan Bermakna.”
Buku ini bukan sekadar teori manajemen sekolah, melainkan refleksi mendalam tentang bagaimana keputusan seorang pemimpin sekolah dapat memengaruhi kesejahteraan dan kebahagiaan warga sekolah — dari guru hingga siswa.

Pada Selasa, 4 November 2025, Banu datang langsung ke Universitas Negeri Surabaya (UNESA) untuk menyerahkan karya tulisnya kepada tiga dosen pembimbing: Prof. Dr. Suryanti, M.Pd., Dr. Mohammad Syahidul Haq, S.Pd., M.Pd., dan Dr. Kaniati Amalia, M.Pd. Penyerahan buku tersebut berlangsung hangat dan simbolis, seakan menandai lahirnya sebuah pemikiran baru dalam dunia pendidikan.
Dalam bukunya, Banu menyoroti dua pilar utama manajemen pendidikan yang sering terabaikan: manajemen organisasi sekolah dan manajemen kurikulum serta evaluasi. Menurutnya, sekolah yang membahagiakan harus memiliki struktur manajemen yang fleksibel dan berorientasi pada kolaborasi, bukan sekadar kepatuhan administratif. Kepala sekolah, katanya, seharusnya berperan sebagai coach yang menuntun guru tumbuh, bukan sekadar pengawas yang menilai.
Lebih jauh, Banu mengkritisi sistem evaluasi yang selama ini menjadi sumber tekanan bagi siswa. Ia menegaskan perlunya perubahan paradigma — dari assessment of learning menjadi assessment as learning, di mana penilaian bukan alat vonis, melainkan proses pembelajaran yang menumbuhkan rasa percaya diri dan kebahagiaan belajar.
Konsep ini, menurut Banu, sejalan dengan semangat Merdeka Belajar yang dicanangkan pemerintah. Dalam konteks tersebut, ia menekankan tiga hal penting: manajemen otonomi guru, pembentukan budaya positif di sekolah, dan penerapan filosofi Jawa dalam kepemimpinan, sebagaimana diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara — bahwa tugas pendidik sejati adalah menuntun, bukan memaksa.
“Mutu dan kebahagiaan bukan dua hal yang bertentangan, tapi justru dua sisi dari mata uang yang sama,” ujar Banu. “Pendidikan seharusnya menjadi sumber kebahagiaan, bukan beban. Ketika guru bahagia mengajar, siswa pun akan bahagia belajar.”
Melalui buku ini, Banu Atmoko berharap lahir lebih banyak pemimpin sekolah yang tidak hanya mengejar akreditasi dan peringkat, tetapi juga menciptakan ruang belajar yang menumbuhkan semangat, kebersamaan, dan makna. Sebab pada akhirnya, pendidikan yang sejati bukan hanya soal pengetahuan — tapi tentang kebahagiaan manusia yang belajar di dalamnya.













