SURABAYA – Di tengah derasnya arus globalisasi yang kian mengaburkan batas budaya dan jati diri bangsa, sekolah tetap menjadi benteng terakhir dalam menjaga identitas nasional. Salah satu instrumen penting yang kerap dipandang sekadar rutinitas, namun sesungguhnya sarat makna, adalah Upacara Bendera setiap hari Senin.
Upacara bendera bukan hanya tentang baris-berbaris atau berdiri di bawah terik matahari. Di balik setiap aba-aba dan prosesi, tersimpan nilai disiplin, kepemimpinan, serta nasionalisme yang membentuk karakter peserta didik. Saat seorang siswa memberi hormat kepada Sang Merah Putih, sesungguhnya ia sedang meneguhkan ikatan batin dengan tanah airnya.

Melalui kepatuhan terhadap tata upacara dan ketepatan waktu, siswa dilatih untuk hidup disiplin. Sementara itu, petugas upacara belajar memikul tanggung jawab di hadapan publik, mengasah kepercayaan diri, kepemimpinan, dan kontrol diri.
Nasionalisme juga tidak cukup dipelajari sebatas teori di ruang kelas. Ia harus dihidupkan dan dirasakan. Ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan dan dinyanyikan secara serempak, muncul getaran kolektif yang menumbuhkan kesadaran bahwa setiap siswa adalah bagian dari bangsa yang besar.
Nilai patriotisme pun disemai melalui amanat pembina upacara. Kisah perjuangan para pahlawan dan pesan kebangsaan menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini adalah hasil dari pengorbanan panjang para pendahulu bangsa.
Dalam rangka penguatan karakter, nasionalisme, dan jiwa patriotisme, SMP PGRI 6 Surabaya yang berlokasi di Jalan Bulak Rukem III No. 7–9, Kelurahan Wonokusumo, Kecamatan Semampir, kembali menggelar upacara bendera rutin pada Senin (26/1/2026). Upacara tersebut diikuti seluruh warga sekolah dengan penuh khidmat.
Upacara kali ini terasa berbeda dari sebelumnya. Seluruh peserta mengikuti pembacaan Teks Ikrar Pelajar Indonesia yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan. Ikrar tersebut menjadi simbol komitmen pelajar untuk menjunjung nilai Pancasila, menjaga persatuan, serta berkontribusi positif bagi bangsa dan negara.
Bertindak sebagai pembina upacara, Rohmatia Nadila, S.Pd, guru Matematika dan TIK SMP PGRI 6 Surabaya, menyampaikan pesan moral yang menyentuh. Ia mengajak para siswa untuk senantiasa menghormati orang tua dan guru.
Setinggi apa pun ilmu yang kalian miliki, hargailah orang tua dan guru. Dari merekalah kesuksesan dunia dan akhirat akan kalian raih. Ia juga mengingatkan pentingnya hidup rukun dan saling menghargai antarteman.
Penulis yang juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara menegaskan bahwa menggiatkan upacara bendera merupakan investasi jangka panjang dalam dunia pendidikan.
Dengan menghayati setiap prosesi upacara, sekolah tidak hanya mencetak siswa yang unggul secara akademik, tetapi juga melahirkan generasi berkarakter Pancasila, berdedikasi tinggi, dan memiliki jiwa patriot yang tidak luntur oleh zaman.
Karakter Unggul, Nasionalisme Mengakar, Indonesia Bersinar.













