KlikMojok – Pernahkah Anda membayangkan seorang manajer bukan hanya sekadar atasan, melainkan ‘mata elang’ yang jeli mengamati kondisi fisik dan psikis timnya? Atau, bagaimana jika perintah di tempat kerja tak lagi otoriter, tapi justru mengedepankan kemitraan? Ini bukan isapan jempol belaka. Brian Tracy pernah mengingatkan, “Modal Utama Anda adalah Kemampuan Anda untuk menghasilkan Sumber Daya terbesar Anda adalah Waktu”. Filosofi ini sangat relevan dengan upaya pengembangan organisasi, terutama di lingkungan sekolah, yang membutuhkan manajemen efektif dan efisien. Artikel ini akan mengupas tuntas tiga prinsip manajemen krusial dari Henry Fayol yang akan mengubah cara pandang Anda terhadap kepemimpinan, melanjutkan sembilan prinsip yang telah dibahas sebelumnya.
Memahami manajemen adalah kunci utama. Menurut Robins dan Coulter (2012:36), “Manajemen adalah proses mengkoordinasikan dan pengintegrasian aktivitas kerja agar terlaksana dengan lancar dan efektif, efisien, dengan dan oleh orang lain.” Senada dengan itu, George Robert Terry mendefinisikan manajemen sebagai suatu proses khas yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian untuk mencapai tujuan melalui sumber daya manusia dan lainnya. Lalu, bagaimana prinsip-prinsip ini diterapkan Fayol untuk menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan produktif?
Salah satu pilar penting adalah prinsip Perintah. Ini bukan tentang otoritas mutlak, melainkan asas ketertiban yang memastikan setiap pegawai melaksanakan pekerjaannya dengan tertib dan sistematis. Prinsip ini erat kaitannya dengan kedisiplinan, dua sikap fundamental yang harus dimiliki setiap karyawan untuk mewujudkan ekosistem kerja yang tertib, damai, dan tenteram demi kemajuan organisasi atau perusahaan. Uniknya, manajemen perintah ala Fayol menekankan jenis perintah yang tidak otoriter, kasar, apalagi merendahkan bawahan. Perintah harus didasarkan pada mindset bahwa karyawan atau bawahan adalah mitra dan kolega yang berkontribusi pada kesuksesan, di samping mereka juga belajar dan dihargai. Ini adalah esensi dari perintah yang efektif dan memberdayakan.
Selanjutnya, ada prinsip Keadilan yang menyoroti pentingnya keadilan, kejujuran, dan kesetaraan. Prinsip ini sangat vital karena secara langsung memengaruhi semangat kerja karyawan. Karyawan diharapkan jujur dalam melaporkan dan melaksanakan pekerjaannya, sementara manajer dituntut untuk bersikap adil terhadap bawahannya. Keadilan dan kejujuran ibarat dua sisi mata uang yang menyatu dan tak terpisahkan: keadilan memengaruhi kejujuran, dan kejujuran mewujudkan keadilan. Ini mengingatkan kita pada sila kelima Pancasila, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Jika para pejabat dan pengusaha di Indonesia jujur dan berintegritas, maka keadilan sosial akan terwujud, dan semua akan merasakan kesejahteraan sosialnya.
Terakhir, namun tak kalah penting, adalah Prinsip Stabilitas Hubungan Kerja Tim. Prinsip ke-12 ini mengacu pada kondisi fisik dan psikis setiap karyawan. Manusia adalah makhluk yang rentan dan rapuh, mudah terguncang secara fisik maupun psikologis di tempat kerja. Di sinilah peran manajer sebagai ‘mata elang’ menjadi krusial. Seorang manajer atau pimpinan harus jeli melihat situasi dan kondisi karyawan atau anak buahnya. Mereka adalah ‘CCTV’ yang mengamati keadaan semua anggota dan karyawannya, bukan untuk mengawasi berlebihan, melainkan untuk memastikan kesejahteraan. Dengan demikian, tindakan kuratif dapat segera diambil jika diperlukan, memastikan lingkungan kerja yang suportif dan produktif. Ini adalah fondasi penting untuk menjaga tim tetap solid dan fokus pada tujuan organisasi sekolah.












