KlikMojok – Pagi masih merangkak pelan di Desa Setren, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, pada Rabu (4/11/2026) itu. Namun, ketenangan subuh Ladimin (72), warga Dukuh Setren RT 012 RW 005, seketika buyar oleh penemuan mengejutkan: sapi kesayangannya, aset berharga keluarga, terperosok ke dalam sumur. Bukan sumur biasa, melainkan lubang menganga sedalam sekitar 25 meter yang menjanjikan bahaya tak terduga. Insiden ini memicu serangkaian upaya penyelamatan yang dramatis, melibatkan kerja sama lintas sektor demi sebuah misi evakuasi sapi yang genting.
Kepanikan Ladimin segera berubah menjadi harapan ketika informasi mengenai sapi yang terperosok ke dalam sumur sekitar pukul 05.30 WIB itu sampai ke layanan call center Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Magetan. Tak menunggu lama, personel BPBD Magetan bersama unsur TNI dan Polri langsung bergerak cepat menuju lokasi. Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Magetan, Eka Radityo, menjelaskan bahwa tim tiba di lokasi sekitar pukul 06.30 WIB, siap menghadapi tantangan yang menanti di kedalaman.
Kedalaman sumur yang mencapai puluhan meter itu bukan sekadar angka. Ia mewakili jurang yang memisahkan sapi malang itu dari keselamatan, sekaligus menuntut pendekatan penyelamatan yang tak biasa. Tim memutuskan untuk menerapkan teknik vertical rescue, sebuah metode penyelamatan yang sangat spesifik. Ini adalah metode penyelamatan melalui jalur vertikal menggunakan peralatan dan sistem pengamanan khusus untuk menjangkau serta mengangkat objek dari lokasi berketinggian atau berkedalaman ekstrem. Teknik ini membutuhkan perhitungan presisi dan koordinasi yang matang, mengingat ruang gerak yang terbatas di dalam sumur menjadi tantangan tersendiri bagi para petugas.
Penanganan darurat ini melibatkan Tim 4 BPBD Magetan, dengan personel Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) seperti Wiji dan Bella, serta Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) yang beranggotakan Sunardi, Rangga, Heri, Zainudin, Rendy, Baharudin, dan Sujianto. Mereka bahu-membahu dengan anggota TNI, Polri, dan masyarakat sekitar, merangkai tali, mengatur strategi, dan memastikan setiap langkah pengangkatan berlangsung aman, baik bagi petugas maupun hewan yang dievakuasi.
Setelah sekitar dua jam perjuangan yang mendebarkan, upaya penyelamatan akhirnya membuahkan hasil. Tepat pukul 08.30 WIB, sapi milik Ladimin berhasil dikeluarkan dari dalam sumur dalam keadaan hidup. Sebuah napas lega terembus dari semua pihak yang terlibat, menandai keberhasilan misi heroik ini. Yang terpenting, tidak ada korban jiwa maupun laporan korban luka dalam kejadian tersebut, sapi pun segera diserahkan kembali kepada pemiliknya.
Keberhasilan evakuasi ini bukan sekadar kisah penyelamatan hewan. Ia adalah cerminan dari pentingnya sinergi antarlembaga dan partisipasi masyarakat dalam penanganan keadaan darurat. Bagi Ladimin dan banyak warga pedesaan lainnya, ternak seperti sapi memiliki nilai ekonomi yang krusial, berfungsi sebagai aset keluarga sekaligus sumber penghidupan utama. Oleh karena itu, upaya penyelamatan ini menegaskan bahwa penanganan keadaan darurat tidak hanya terbatas pada keselamatan manusia, tetapi juga mencakup perlindungan terhadap aset penting masyarakat.
Insiden ini juga menjadi pengingat yang kuat tentang potensi bahaya tersembunyi di lingkungan sekitar kita, khususnya sumur terbuka di area permukiman. Keberadaan sumur tanpa penutup atau pagar pengaman dapat meningkatkan risiko kecelakaan, tidak hanya bagi hewan ternak yang mungkin berkeliaran di dekat kandang, tetapi juga bagi manusia, terutama anak-anak, yang beraktivitas di sekitar lokasi. BPBD Magetan pun tak henti mengingatkan masyarakat akan hal ini.
“Warga diminta memasang penutup atau pagar pelindung untuk mencegah manusia maupun hewan terperosok ke dalamnya,” demikian imbauan yang disampaikan BPBD Magetan. Langkah pencegahan sederhana ini sangat vital, mengingat kecelakaan akibat sumur terbuka dapat menimbulkan risiko serius dan proses evakuasi dari kedalaman puluhan meter membutuhkan tenaga, peralatan khusus, serta koordinasi yang kompleks dari berbagai unsur. Ke depan, BPBD Magetan berharap masyarakat lebih proaktif dalam memeriksa fasilitas berisiko di sekitar rumah dan kandang ternak. Dengan memastikan sumur tertutup rapat dan memiliki pembatas yang kokoh, diharapkan kejadian serupa dapat dihindari, mengurangi potensi keadaan darurat yang tidak diinginkan di lingkungan permukiman.












