KlikMojok – Setiap narasi dalam Al-Qur’an mengandung hikmah kehidupan yang abadi, melintasi zaman. Sebagai contoh, kisah baju gamis Nabi Yusuf ‘alaihis salam menawarkan pesan moral Al-Qur’an mendalam tentang kebohongan, pembuktian kebenaran, dan pertolongan Ilahi. Hikmah-hikmah ini dibahas secara komprehensif oleh Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, H. Yusuf Diachmad Sabri, S.T., M.B.A., dalam sebuah kajian yang diselenggarakan pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Acara tersebut dihadiri oleh guru dan karyawan SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) di kelas 1 Kapuas, Kebomas, Gresik, di mana H. Yusuf Diachmad Sabri mengajak para pendidik untuk menggali kesabaran dan kepemimpinan dari kisah para nabi.
Mengawali pengajian, Sabri mengibaratkan para murid sebagai bongkahan emas yang menyimpan potensi tak terbatas. “Bagaikan bongkahan emas, seorang murid memiliki potensi dan bakat yang harus dimunculkan seorang guru,” ujarnya.
Menurut pria yang lahir pada 19 November 1971 ini, peran guru sangat krusial dalam menggali serta mengembangkan potensi unik yang ada pada setiap anak. Oleh karena itu, tugas seorang pendidik tidak sekadar menyampaikan materi pelajaran, melainkan juga menemukan keistimewaan tersembunyi dalam diri setiap individu murid.
Lulusan Teknik Mesin ITS tahun 1993 tersebut kemudian memaparkan tiga episode penting yang melibatkan baju gamis Nabi Yusuf. Menariknya, setiap episode ini menyajikan pelajaran berbeda mengenai cara menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan.
Episode pertama menceritakan ketika saudara-saudara Nabi Yusuf membawa baju gamis yang telah dilumuri darah palsu. Mereka menggunakan baju tersebut untuk meyakinkan Nabi Ya’qub bahwa Yusuf telah tewas diterkam serigala buas. Namun, Nabi Ya’qub tidak langsung mempercayai cerita yang disampaikan. Surah Yusuf ayat 18 menggambarkan keteguhan beliau dalam menghadapi kebohongan yang disodorkan.
Sabri menjelaskan bahwa terkadang seseorang mungkin mengetahui adanya kebohongan, tetapi belum memiliki bukti yang cukup untuk mengungkapkannya. Dalam situasi seperti ini, kesabaran menjadi pilihan terbaik. “Ketika tidak memiliki alat untuk memvalidasi suatu kebohongan, yang bisa dilakukan adalah bersabar,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya membangun budaya bertanya dalam suatu organisasi. Ketika seseorang tidak memiliki informasi yang jelas, sebaiknya ia mencari penjelasan yang akurat. Sebaliknya, sangat tidak dianjurkan untuk menambahkan bumbu cerita atau menyebarkan kabar yang belum terverifikasi kebenarannya.
Episode kedua berfokus pada baju gamis Nabi Yusuf yang menjadi bukti kebenaran saat beliau menghadapi tuduhan dari istri seorang pejabat tinggi Mesir, Qithfir. Dalam Surah Yusuf ayat 28, Allah mengisahkan bahwa baju Nabi Yusuf robek di bagian belakang. Bukti fisik ini secara jelas menunjukkan bahwa Yusuf tidak bersalah.
Melalui episode ini, Sabri mengajak para peserta untuk memahami betapa krusialnya bukti ketika seseorang dihadapkan pada tuduhan. Sebab, pengakuan saja seringkali tidak cukup untuk mengungkap kebenaran seutuhnya. Fakta yang konkret menjadi landasan penting dalam menyelesaikan berbagai permasalahan.
Episode ketiga memperlihatkan bagaimana baju gamis Nabi Yusuf menjadi perantara kesembuhan bagi ayahnya, Nabi Ya’qub. Peristiwa mukjizat ini tercatat dalam Surah Yusuf ayat 93 dan 96.
Sabri, yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Tapak Suci Putera Muhammadiyah periode 2004–2015, kemudian menekankan pentingnya keteguhan hati dalam menghadapi setiap ujian hidup. “Jangan cepat menyerah. Mungkin kita masih berada dalam fase pertama dan kedua. Namun, jika terus berupaya, kita bisa sampai pada tahap ketiga yang membawa kesembuhan dan kemuliaan,” tuturnya.
Pria yang juga pernah menjabat sebagai Bendahara Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kabupaten Gresik ini selanjutnya mengajak peserta untuk mengambil pelajaran berharga dari kisah Jalut dan Thalut.
Kisah yang termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 246–252 ini menggambarkan perjuangan heroik Bani Israil dalam mencari seorang pemimpin yang mampu menghadapi musuh mereka. Namun, tidak semua individu mampu bertahan dan menunjukkan keteguhan ketika ujian yang sesungguhnya datang menghampiri mereka.
Allah kemudian menunjukkan keteguhan iman Thalut dan para pengikutnya. Salah satu ujian penting yang mereka hadapi adalah ujian sungai, yang menguji kekuatan iman dan kesungguhan hati mereka. Pada akhirnya, pasukan Thalut berhasil meraih kemenangan gemilang atas Jalut. Peristiwa bersejarah ini juga menjadi bagian krusial dalam perjalanan Nabi Daud ‘alaihis salam.
Dari kisah inspiratif tersebut, Sabri menyampaikan empat pelajaran penting yang berkaitan dengan kepemimpinan.
Pertama, seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan, mampu memahami persoalan yang ada, dan cakap dalam menjalankan tugasnya. Popularitas semata bukanlah satu-satunya tolok ukur kelayakan seseorang. Oleh karena itu, uji kompetensi menjadi penting untuk membuktikan kapabilitas dan kemampuannya.
Kedua, setiap individu perlu memiliki kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu dan berani keluar dari zona nyaman. Sebab, kepuasan terhadap pencapaian yang telah diraih seringkali dapat melemahkan semangat untuk terus melakukan perbaikan. Padahal, peningkatan kemampuan secara berkelanjutan merupakan kunci utama untuk bertahan dan beradaptasi menghadapi perubahan zaman.
Ketiga, setiap orang wajib menghadapi kesulitan dengan bekal kesabaran, persiapan matang, dan doa yang tulus. Selain itu, manusia juga harus mengoptimalkan seluruh potensinya agar mampu mengambil langkah terbaik dalam setiap situasi. “Tidak ada kegagalan kecuali kita berhenti berusaha,” pesannya.
Keempat, pertolongan Allah Subhanallahu wa Ta’ala dapat datang melalui jalan yang tidak pernah manusia duga sebelumnya.
Melalui kisah-kisah Nabi Yusuf, Jalut, dan Thalut, Sabri mengingatkan bahwa kehidupan ini senantiasa menyuguhkan berbagai ujian. Namun, dengan berbekal kesabaran, ikhtiar, iman yang teguh, dan doa, setiap individu akan mampu melewatinya. Bagi para pendidik, pesan ini menjadi pengingat yang sangat penting: setiap murid menyimpan potensi berharga layaknya emas yang menunggu untuk ditemukan. Oleh karena itu, tugas seorang guru bukan hanya sekadar mengajar, melainkan lebih dari itu, guru harus membantu setiap anak untuk menemukan dan mengembangkan cahaya terbaik yang ada dalam dirinya.












