Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Pelajaran dari Lereng yang Bergeser: Refleksi Bencana Longsor di Malang Selatan

badge-check

Pelajaran dari Lereng yang Bergeser: Refleksi Bencana Longsor di Malang Selatan Perbesar

KlikMojok – Pada Sabtu (31/10/2026) siang, langit di Kabupaten Malang bagian selatan seolah meluruhkan seluruh bebannya. Hujan deras tak henti mengguyur, mengikis kesabaran tanah yang selama ini diam. Di tengah deru air yang memekakkan, sebuah peristiwa terjadi yang menjadi pengingat pahit akan kekuatan alam: tebing di belakang Polsek Tirtoyudo ambrol, material longsor di Malang itu meluncur deras menghantam bagian belakang markas kepolisian tersebut.

Material tanah yang tebal itu bergerak dengan kekuatan yang tak bisa diremehkan, meninggalkan jejak kerusakan di bangunan Polsek. Beruntung, insiden ini tidak menelan korban jiwa. Kasi Humas Polres Malang, AKP M. Budiono, segera mengonfirmasi kejadian tersebut, memberikan sedikit kelegaan di tengah kekhawatiran. “Tidak ada korban jiwa. Kondisi cukup aman. Personel sudah melakukan pembersihan,” ungkap AKP M. Budiono pada Sabtu (31/10/2026).

Meski demikian, dampak kerusakan fisik pada bangunan masih dalam tahap pendataan. AKP Budiono menjelaskan bahwa jajaran Polres Malang saat itu tengah fokus mengamankan pertandingan sepak bola Arema, sehingga tim utama belum bisa sepenuhnya turun tangan. Namun, respons cepat tetap ditunjukkan dengan kehadiran Kapolres Malang dan Kabaglog yang segera meluncur ke lokasi bencana. “Kami masih PAM sepakbola Arema. Belum tahu kondisi kerusakannya. Namun begitu situasi Polsek tetap kondusif. Pak Kapolres dan Kabaglog sudah ke lokasi,” tuturnya, menggambarkan prioritas dan kesigapan aparat di tengah situasi yang mendesak.

Kisah longsor tak berhenti di Tirtoyudo. Tak jauh dari sana, di Dusun Kampungselang, Desa Baturetno, Kecamatan Dampit, bumi juga menunjukkan kekuatannya. Curah hujan tinggi yang mengguyur sejak Jumat (30/10/2026) malam pukul 19.00 WIB hingga dini hari memicu longsor lain. Di Dampit, bahu jalan desa ambrol sepanjang 15 meter, disertai retakan tanah sepanjang 20 meter. Sama seperti di Tirtoyudo, peristiwa ini juga dipastikan nihil korban jiwa, sebuah anugerah di tengah ancaman yang nyata.

Kedua insiden ini, baik di Tirtoyudo maupun Dampit, menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Masuknya musim penghujan di penghujung Oktober ini bukan sekadar pergantian kalender, melainkan penanda bahwa kawasan Malang Selatan kini dipetakan sebagai area rawan bencana. Ini menuntut kewaspadaan ekstra, bukan hanya dari warga, tetapi juga petugas lapangan dan pemangku kebijakan. Pendidikan tentang mitigasi bencana, pemahaman akan karakteristik tanah, serta kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan menjadi krusial. Setiap retakan di tanah, setiap lereng yang longsor, adalah pengingat bahwa kita hidup berdampingan dengan alam yang memiliki kekuatan tak terduga. Mempelajari dan memahami tanda-tanda alam, serta mempersiapkan diri, adalah bentuk edukasi paling mendasar untuk menjaga keselamatan dan keberlangsungan hidup di daerah rawan bencana.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Merajut Kebinekaan di Tanah Suci: Gagasan Petugas Haji Lintas Iman untuk Toleransi Indonesia

31 Okt 2026 - 18:47 WIB

Merajut Kebinekaan di Tanah Suci: Gagasan Petugas Haji Lintas Iman untuk Toleransi Indonesia

Komite SD Mugres Gerakkan Wali Murid Berbagi Makanan untuk Keluarga Pasien RSMG

31 Okt 2026 - 18:45 WIB

Komite SD Mugres Gerakkan Wali Murid Berbagi Makanan untuk Keluarga Pasien RSMG

SD Mugres Perkuat Sinergi Pendidikan dengan Wali Murid Melalui Acara Sambung Rasa

31 Okt 2026 - 18:44 WIB

SD Mugres Perkuat Sinergi Pendidikan dengan Wali Murid Melalui Acara Sambung Rasa

Harmoni Irama Dug-Dug dan Gerak Tari Sekar Bayuangga: Merajut Identitas Probolinggo

31 Okt 2026 - 15:18 WIB

Harmoni Irama Dug-Dug dan Gerak Tari Sekar Bayuangga: Merajut Identitas Probolinggo

Penjaga Sumber Hidup di Kaki Pandan: Suara Warga Bojonegoro Tolak Survei Geotermal

31 Okt 2026 - 15:17 WIB

Penjaga Sumber Hidup di Kaki Pandan: Suara Warga Bojonegoro Tolak Survei Geotermal
Trending di Pendidikan