KlikMojok – Dalam rangka memperingati 98 Tahun Sumpah Pemuda, sebuah diskusi bersama yang melibatkan mahasiswa, organisasi pemuda, dan masyarakat umum telah diselenggarakan. Acara penting ini berlangsung pada hari Senin, 19 Oktober 2026, bertempat di Balai Karang Taruna, Kelurahan Lawas Blimbing, Kabupaten Lamongan. Forum ini menjadi wadah bagi para pemuda untuk secara aktif membahas berbagai persoalan sosial, ekonomi, pendidikan, lingkungan, dan pelayanan publik yang berkembang di masyarakat, dengan fokus khusus pada tantangan di kawasan Pantura Lamongan.
Semangat untuk menyongsong Satu Abad Sumpah Pemuda menjadi pendorong utama bagi sejumlah organisasi pelajar, mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan masyarakat umum di Kabupaten Lamongan. Mereka bertekad memperkuat persatuan melalui penyelenggaraan Dialog Pemuda. Kegiatan ini merupakan bagian integral dari rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Hukum Rakyat Simpul Kabupaten Lamongan yang juga dilaksanakan pada hari yang sama.
Dialog tersebut digelar di Balai Karang Taruna, Kelurahan Lawas Blimbing, Kabupaten Lamongan, dan berhasil menarik partisipasi dari 20 peserta. Mereka merupakan perwakilan dari beragam organisasi serta komunitas pemuda yang aktif di kawasan Pantura Lamongan, menunjukkan keberagaman latar belakang namun memiliki tujuan yang sama.
Para peserta berasal dari berbagai entitas, termasuk Karang Taruna Brondong, Karang Taruna Blimbing, Pelajar Islam Indonesia, IPPNU, HMI, Kohati, IMM, SEMMI, dan PMII. Tidak hanya itu, sejumlah pemuda dari Kecamatan Brondong dan Kecamatan Paciran juga turut serta memberikan kontribusi aktif dalam diskusi ini.
Melalui forum dialog ini, para pemuda berhasil menghimpun berbagai keresahan yang dirasakan oleh masyarakat. Diskusi tersebut mencakup isu-isu krusial di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, lingkungan, serta pelayanan publik. Secara lebih spesifik, pembahasan menyoroti berbagai persoalan yang menjadi perhatian utama di kawasan Pantura Lamongan.
Hasil dari diskusi yang intensif ini kemudian dikelompokkan oleh para peserta ke dalam enam kategori utama aspirasi. Kategori-kategori tersebut meliputi ekonomi dan ketenagakerjaan; pendidikan dan pelayanan publik; lingkungan dan keberlangsungan nelayan; agraria dan kepastian hukum; demokrasi dan kebebasan berpendapat; serta kepedulian sosial dan partisipasi pemuda.
Berbagai persoalan konkret ikut memperkaya jalannya pembahasan. Peserta menyoroti secara mendalam dampak dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap keberlangsungan usaha pedagang kecil. Selain itu, mereka juga membahas dugaan adanya pungutan liar di sekolah negeri serta isu kebebasan dalam menyampaikan kritik melalui platform media sosial.
Tidak hanya itu, peserta juga mengangkat isu dampak aktivitas industri terhadap kondisi lingkungan pesisir. Permasalahan pertanahan, implementasi program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL), serta kepastian mengenai penyerapan tenaga kerja lokal turut menjadi fokus perhatian penting dalam dialog tersebut.
Galih, yang merupakan PIC KTT Hukum Rakyat Simpul Kabupaten Lamongan sekaligus pemantik dialog, menggarisbawahi urgensi persatuan di kalangan pemuda. Menurutnya, perbedaan latar belakang, baik itu organisasi, jurusan, maupun profesi, sama sekali tidak boleh menjadi penghalang bagi kepedulian sosial.
“Meskipun kita berasal dari latar belakang organisasi, jurusan, ataupun profesi yang berbeda, kita harus tetap satu dan responsif terhadap polemik yang terjadi di lingkungan terdekat kita. Kalau bukan kita sebagai pemuda yang bersuara, lantas siapa lagi yang akan menyuarakan ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di Lamongan Pantura ini,” tegas Galih, menekankan peran vital pemuda dalam menyuarakan keadilan.
Lebih lanjut, Galih berpendapat bahwa ruang dialog antar sesama pemuda harus terus-menerus dibangun dan difasilitasi. Melalui ruang diskusi semacam ini, pemuda memiliki kesempatan untuk menghimpun, mendiskusikan, serta mengawal berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat secara berkelanjutan.
Dengan demikian, keberagaman latar belakang yang ada tidak seharusnya menjadi penghalang untuk berkolaborasi. Sebaliknya, keanekaragaman organisasi justru dapat dioptimalkan sebagai kekuatan kolektif yang solid untuk merespons berbagai persoalan sosial yang muncul di daerah.
Galih juga menaruh harapan besar agar dialog yang telah dilaksanakan ini dapat menghasilkan tindak lanjut yang konkret dan nyata. Ia menginginkan agar seluruh peserta mampu menerjemahkan berbagai aspirasi yang telah terkumpul menjadi sebuah gerakan bersama yang mampu memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat luas.
“Saya berharap setelah Dialog 1 Abad Sumpah Pemuda ini, berbagai keresahan yang telah terhimpun dari kawan-kawan muda dapat direalisasikan menjadi gerakan nyata ke depannya. Keresahan dan aspirasi ini juga akan kami susun dalam bentuk Risalah Pemuda se-Nasional,” kata Galih, mengakhiri pernyataannya dengan harapan akan aksi nyata.












