Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Strategi Disiplin Positif Anak Usia Dini: Kunci Pengasuhan Berbasis Kasih Sayang Tanpa Bentakan

badge-check

Strategi Disiplin Positif Anak Usia Dini: Kunci Pengasuhan Berbasis Kasih Sayang Tanpa Bentakan Perbesar

KlikMojok – Dalam dinamika pengasuhan anak yang penuh tantangan, orang tua di KB-TK IT Handayani diajak untuk memahami pentingnya mengelola emosi, membangun komunikasi yang efektif, serta menanamkan disiplin positif pada anak-anak sejak usia dini dengan berlandaskan kasih sayang. Konsep bahwa disiplin sejatinya berakar dari kasih sayang menjadi pelajaran krusial yang diterima oleh para orang tua murid di KB-TK IT Handayani pada Sabtu, 24 Oktober 2026 lalu.

Bertempat di Mushola Roudhotul Jannah, Wisma Sidojangkung Indah (WSI) Blok I 36, Menganti, Gresik, para wali murid berkumpul dengan membawa sebuah pertanyaan fundamental terkait pengasuhan: bagaimana cara efektif menanamkan disiplin pada anak tanpa harus menimbulkan trauma atau luka emosional? Melalui sebuah kegiatan parenting yang mengangkat tema “Menerapkan Disiplin Positif tanpa Bentakan”, paguyuban KB-TK IT Handayani secara proaktif mengajak para orang tua untuk mengevaluasi dan meninjau kembali pendekatan mereka dalam mendampingi tumbuh kembang buah hati.

Dalam kesempatan ini, tujuan utama kegiatan tersebut bukan hanya sekadar mencari solusi atau jawaban, melainkan juga mendorong para peserta untuk benar-benar mengimplementasikan perubahan kebiasaan positif di lingkungan rumah. Umul Farida, S.Pd., selaku Kepala TK IT Handayani, membuka acara dengan menekankan betapa krusialnya tindak lanjut dan penerapan praktis setelah para orang tua mendapatkan materi. “Pendidikan keluarga tidak berhenti pada pengetahuan, melainkan perlu menghadirkan perubahan nyata dalam keseharian,” tutur Umul Farida, menegaskan bahwa ilmu yang didapat harus diterjemahkan menjadi tindakan konkret. Oleh karena itu, panitia penyelenggara secara khusus mendorong setiap peserta untuk mencatat poin-poin pelajaran utama yang paling ingin mereka aplikasikan di rumah, menggunakan sticky notes sebagai alat bantu. Dengan adanya catatan sederhana ini, diharapkan para orang tua dapat secara berkala mengevaluasi dan memantau kemajuan langkah-langkah pengasuhan mereka secara berkelanjutan.

Selanjutnya, Dyah Tri Wulandari, yang menjabat sebagai Ketua Paguyuban KB-TK IT Handayani, mengambil peran untuk memandu jalannya seluruh rangkaian kegiatan. Ia mendampingi para peserta selama menyimak materi yang disampaikan oleh Evi Rohmawati, A.Md., seorang praktisi pendidikan dari SIT Permata Surabaya. Evi Rohmawati, yang dikenal sebagai pembelajar, pendamping, dan penggerak di bidang pendidikan, juga aktif mendampingi berbagai keluarga melalui program Sekolah Keluarga Indonesia. Di samping itu, ia juga mengelola sebuah Rumah Tahfiz Anak dan secara pribadi menjalani peran sebagai seorang ibu dari tiga orang anak.

Menurut Evi, proses mengasuh anak adalah sebuah perjalanan belajar yang tidak pernah berakhir. Setiap hari, orang tua dihadapkan pada berbagai kejutan dan situasi tak terduga, mulai dari anak yang enggan mandi, hingga kondisi rumah yang mendadak berantakan. Tidak jarang, anak-anak juga menunjukkan perilaku seperti memilih-milih makanan atau meluapkan emosi mereka melalui tangisan serta amukan. Dalam menghadapi situasi-situasi semacam ini, orang tua seringkali merasa lelah yang teramat sangat, sehingga tanpa disadari suara meninggi dan bentakan pun terlontar.

Akan tetapi, Evi mengajak seluruh peserta untuk berhenti sejenak dan merenungkan kembali kebiasaan tersebut. Ia mempertanyakan apakah bentakan benar-benar efektif dalam mengajarkan disiplin kepada anak, ataukah hanya berfungsi untuk menghentikan perilaku anak sementara waktu saja. “Bentakan mungkin menghentikan perilaku, bukan mengajarkan,” tegas Evi, memberikan penekanan pada perbedaan fundamental antara kepatuhan sesaat dan pembelajaran sejati. Melalui pernyataan tersebut, Evi mengingatkan para orang tua bahwa ketaatan yang bersifat sementara tidak selalu berarti anak telah memahami esensi dari sebuah aturan. Sebaliknya, anak-anak membutuhkan pendampingan yang konsisten agar mereka dapat mengenali perilaku yang sesuai dan memahami alasan logis di balik setiap aturan yang ditetapkan.

Oleh karena itu, Evi menjelaskan bahwa disiplin positif bukanlah sebuah metode untuk membuat anak merasa takut terhadap orang tua mereka. Sebaliknya, disiplin positif bertujuan untuk membantu anak belajar bertanggung jawab atas tindakan mereka tanpa melibatkan kekerasan fisik, ancaman, atau pun bentakan. Selanjutnya, Evi menguraikan betapa krusialnya keberadaan aturan dan batasan yang jelas di dalam lingkungan keluarga. Ia menekankan bahwa orang tua tidak perlu melarang segala sesuatu, namun sangat penting untuk menyepakati kebiasaan-kebiasaan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak.

Sebagai contoh, penggunaan gawai dan televisi dapat diatur secara efektif melalui kesepakatan bersama antar anggota keluarga. Ayah, ibu, dan anak dapat secara terbuka mendiskusikan durasi serta waktu yang tepat untuk menggunakan perangkat-perangkat tersebut. Dengan pendekatan ini, aturan yang ditetapkan tidak lagi terasa sebagai larangan sepihak yang berpotensi memicu pertengkaran. Sebaliknya, proses kesepakatan bersama justru membantu anak untuk memahami batasan-batasan yang ada, sekaligus melatih mereka untuk menghormati keputusan yang telah disepakati bersama.

Di samping penetapan aturan, orang tua juga memiliki peran penting untuk menanamkan rasa tanggung jawab pada anak melalui berbagai kegiatan sehari-hari. Anak-anak dapat diajarkan untuk membereskan mainan mereka sendiri, mengikuti rutinitas mandi secara mandiri, dan menyelesaikan tugas atau kegiatan lain sesuai dengan kapasitas serta kemampuannya. Apabila anak melakukan sebuah kesalahan, orang tua disarankan untuk tidak langsung menjatuhkan hukuman. Sebaliknya, pendekatan yang lebih konstruktif adalah dengan mengajak anak untuk memperbaiki situasi yang telah terjadi dan membantu mereka memahami konsekuensi logis dari tindakan yang telah mereka lakukan.

Contohnya, jika seorang anak menghamburkan mainannya, orang tua dapat membimbingnya untuk membereskan mainan tersebut kembali. Melalui cara ini, anak akan belajar mengenai tanggung jawab tanpa perlu menghadapi ancaman verbal atau hukuman fisik yang menakutkan. Pada intinya, pertumbuhan disiplin pada anak bukanlah tentang seberapa cepat mereka mematuhi perintah orang tua, melainkan bagaimana mereka secara bertahap belajar memahami dan menginternalisasi rasa tanggung jawab. Dengan kesabaran yang tak terbatas, komunikasi dua arah yang efektif, serta keteladanan yang baik, orang tua dapat menanamkan nilai-nilai luhur yang akan tumbuh dan berkembang bersama anak sepanjang hidup mereka.

Karena sesungguhnya, rumah seharusnya menjadi lingkungan yang aman bagi anak untuk belajar mengenai batasan-batasan, tanpa harus kehilangan rasa aman dan nyaman. Di rumah pula, anak seharusnya dapat mengenal dan merasakan kasih sayang yang tulus, tanpa perlu diliputi oleh rasa takut.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Menguak Kembali Tirai Sejarah: Desakan Pengakuan KH Abbas dan KH Yusuf Hasyim sebagai Pahlawan Nasional

24 Okt 2026 - 12:39 WIB

Menguak Kembali Tirai Sejarah: Desakan Pengakuan KH Abbas dan KH Yusuf Hasyim sebagai Pahlawan Nasional

Di Balik ‘Madiun Kota Sejuta Parkir’: Edukasi Publik dan Tantangan Pengawasan Retribusi

24 Okt 2026 - 12:38 WIB

Di Balik ‘Madiun Kota Sejuta Parkir’: Edukasi Publik dan Tantangan Pengawasan Retribusi

Strategi Disiplin Positif Tanpa Bentakan: Kunci Pengasuhan Inspiratif di KB-TK IT Handayani

24 Okt 2026 - 12:36 WIB

Strategi Disiplin Positif Tanpa Bentakan: Kunci Pengasuhan Inspiratif di KB-TK IT Handayani

Mengurai Langit Malang Raya: Membaca Prakiraan Cuaca sebagai Panduan Kesiapan Komunitas

24 Okt 2026 - 09:45 WIB

Mengurai Langit Malang Raya: Membaca Prakiraan Cuaca sebagai Panduan Kesiapan Komunitas

Merajut Kembali Asa: Pelatihan Vokasi Kemnaker, Jembatan Bangkit Pekerja Terdampak PHK

24 Okt 2026 - 09:44 WIB

Merajut Kembali Asa: Pelatihan Vokasi Kemnaker, Jembatan Bangkit Pekerja Terdampak PHK
Trending di Pendidikan