KlikMojok – Ratusan wali murid KB-TK IT Handayani memadati Mushola Roudhotul Jannah, Wisma Sidojangkung Indah (WSI) Blok I 36, Menganti, Gresik, pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Kedatangan mereka memiliki tujuan ganda, yakni mengikuti kegiatan parenting yang inspiratif sekaligus menerima pembagian asesmen formatif untuk periode Juli – Oktober 2026.
Sesi parenting KB-TK IT Handayani kali ini mengangkat tema krusial, “Menerapkan Disiplin Positif tanpa Bentakan”. Acara ini menghadirkan Evi Rohmawati, A.Md., seorang praktisi pendidikan berpengalaman dari Sekolah Islam Terpadu (SIT) Permata, Surabaya, yang berbagi wawasan mendalam mengenai cara menanamkan disiplin efektif pada anak.
Dalam paparannya, Evi Rohmawati menjelaskan secara rinci bagaimana orang tua dapat menerapkan disiplin positif kepada anak-anak tanpa perlu menggunakan bentakan, kekerasan, atau tindakan negatif lainnya. Ia menekankan bahwa pendekatan ini menuntut kesabaran dan konsistensi yang tinggi dari para orang tua.
Evi menyarankan sebuah langkah sederhana namun powerful ketika emosi mulai memuncak: berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu beristigfar sebelum melanjutkan interaksi dengan anak. Metode ini tidak hanya membantu orang tua mengelola emosinya sendiri, tetapi juga menjadi teladan nyata bagi anak dalam menghadapi kemarahan dan menyelesaikan masalah tanpa melukai orang lain.
Selain itu, komunikasi yang efektif juga menjadi kunci. Orang tua dianjurkan untuk duduk sejajar dengan anak saat berbicara dan menggunakan kalimat-kalimat singkat yang mudah dipahami oleh anak. Dengan suasana komunikasi yang tenang dan terbuka, anak akan merasa lebih nyaman untuk mendengarkan arahan sekaligus menyampaikan perasaan mereka.
Evi Rohmawati juga mengingatkan para peserta tentang pentingnya memberikan pujian yang tulus ketika anak menunjukkan perilaku positif. “Apresiasi yang tulus membantu anak mengenali usahanya dan mendorongnya mengulangi kebiasaan baik,” ujarnya, menekankan bahwa pengakuan atas usaha anak sangat berarti.
Oleh karena itu, orang tua perlu lebih mendengarkan perasaan anak, bukan sekadar menuntut kepatuhan. Melalui empati, anak akan belajar bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk berbagi cerita dan mencari pertolongan atau solusi atas persoalan yang mereka hadapi.
Lebih lanjut, Evi menegaskan betapa pentingnya membangun kedekatan emosional sejak anak berusia dini. Ketika orang tua menyediakan waktu berkualitas untuk berbincang-bincang, anak akan memiliki ruang yang aman untuk menyampaikan pengalaman dan persoalan mereka. Sebaliknya, komunikasi yang renggang dapat menyebabkan anak enggan berbagi cerita dan menutup diri.
Untuk itu, orang tua perlu menciptakan suasana rumah yang nyaman dan penuh rasa aman, menghindari penggunaan rasa takut sebagai dasar kepatuhan. Selain mendengarkan, orang tua juga harus memberikan teladan melalui perilaku sehari-hari. Anak-anak akan mengamati cara ayah dan ibu berbicara, bagaimana mereka menghormati orang tua mereka sendiri, serta bagaimana mereka menyelesaikan persoalan keluarga.
Melalui kebiasaan positif tersebut, anak akan belajar menghargai orang lain bukan hanya dari nasihat verbal, melainkan juga dari tindakan nyata yang mereka lihat. Keteladanan ini menjadi elemen krusial dalam membentuk karakter anak sejak usia dini, menumbuhkan nilai-nilai luhur dalam diri mereka.
Dalam pandangan Evi, tujuan utama dari disiplin bukanlah semata-mata mencetak anak yang selalu menurut tanpa pertanyaan. Sebaliknya, orang tua diharapkan dapat membantu anak-anak mengenali tanggung jawab mereka, mengelola emosi dengan baik, dan mampu memilih tindakan yang tepat dalam berbagai situasi.
Ia juga mengingatkan seluruh peserta parenting untuk selalu menjaga ucapan, terutama saat sedang marah atau emosi. Doa dan perkataan orang tua, menurut Evi, memiliki kekuatan besar untuk menguatkan harapan baik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak di masa depan.
Pada akhirnya, pengasuhan bukanlah sebuah perlombaan untuk membuat anak segera patuh dalam waktu singkat. Pengasuhan adalah sebuah perjalanan panjang yang bertujuan menumbuhkan pribadi yang bertanggung jawab, melalui kombinasi kasih sayang, batasan yang jelas, dan keteladanan yang konsisten. KB-TK IT Handayani berharap, melalui kegiatan parenting ini, orang tua membawa pulang lebih dari sekadar catatan materi. Mereka diharapkan dapat memulai perubahan positif dari rumah, dengan satu percakapan yang lebih tenang dan satu bentakan yang berhasil ditahan. Sebab, disiplin yang tumbuh dari kasih sayang tidak hanya mengatur perilaku anak hari ini, melainkan juga membekali mereka dengan kebaikan dan karakter kuat saat kelak melangkah menuju dunia yang lebih luas.












