KlikMojok – Di jantung Muncar, Banyuwangi, terhampar sebuah kisah tentang perjuangan tak berkesudahan melawan timbunan sampah. Sungai Kalimati, nadi kehidupan bagi sebagian warga Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, kembali menjadi sorotan. Muaranya, yang dulu sempat bersih setelah dibersihkan melalui aksi kolektif pemerintah daerah, komunitas Sungai Watch, dan masyarakat setempat, kini lagi-lagi dipenuhi gunungan sampah. Pemandangan ini bukan sekadar estetik; ia adalah cerminan dari tantangan lingkungan yang kompleks dan berulang, menuntut solusi yang lebih mendalam dan berkelanjutan.
Menyadari urgensi masalah ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi tak tinggal diam. Belum lama ini, ratusan warga yang bermukim di bantaran Sungai Kalimati, khususnya di kawasan TPI Pelabuhan Muncar, dikumpulkan dalam sebuah rembuk bersama. Pertemuan ini menjadi forum krusial untuk mencari akar masalah dan merumuskan langkah-langkah konkret. Hadir dalam pertemuan tersebut sejumlah pejabat penting, mulai dari Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Banyuwangi Suratno, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Nanien Oktaviantie, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas PU Pengairan, Dinas Tenaga Kerja, Camat Muncar, Kepala Desa Kedungrejo, hingga perwakilan dari komunitas lingkungan seperti Sungai Watch dan Banyuwangi Hijau.
Dalam dialog yang terbuka, warga menyampaikan beragam faktor yang mereka yakini menjadi penyebab utama penumpukan sampah. Kiriman sampah dari laut saat air pasang menjadi salah satu keluhan. Namun, tak dapat dimungkiri, kebiasaan sebagian warga sekitar yang masih membuang sampah ke sungai, serta sampah yang dibuang oleh orang-orang dari luar dusun, turut memperparah kondisi. Ini adalah potret nyata dari problem multidimensional yang membutuhkan pendekatan holistik.
Menariknya, dari pertemuan tersebut muncul sebuah komitmen kuat dari masyarakat. Kepala Dusun Kalimati, Muniradi, menegaskan kesiapan warganya untuk terlibat aktif menjaga kebersihan lingkungan. “Warga sepakat mulai untuk tidak membuang sampah ke sungai, dan sepakat ikut mengawasi serta memberikan sanksi kepada siapa saja yang membuang sampah ke Sungai Kalimati,” ujarnya, menandakan sebuah titik balik dalam kesadaran kolektif.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Banyuwangi, Suratno, menyambut baik komitmen tersebut. Ia menjelaskan bahwa hasil rembuk bersama warga ini menghasilkan perubahan signifikan dalam pola penanganan sampah. Warga yang sebelumnya terbiasa membuang sampah ke sungai kini akan diarahkan untuk mengikuti program Banyuwangi Hijau, sebuah inisiatif yang fokus pada pengelolaan sampah rumah tangga.
“Warga siap melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik dari rumah. Sampah tersebut nantinya diangkut oleh teman-teman dari Banyuwangi Hijau dari rumah ke rumah. Mekanismenya, termasuk berapa kali pengangkutan dalam seminggu, akan diatur lebih lanjut,” ucap Suratno, menggambarkan sistem baru yang akan diterapkan. Langkah ini diharapkan tidak hanya mengurangi volume sampah yang masuk ke sungai, tetapi juga menumbuhkan kebiasaan baru yang lebih bertanggung jawab di tingkat rumah tangga.
Tak hanya mengandalkan partisipasi warga, Pemkab Banyuwangi juga bergerak cepat dengan rencana normalisasi sungai. Alat berat akan segera diterjunkan untuk mengangkut sampah yang menumpuk, membersihkan kembali arteri kehidupan Kalimati. “DLH juga memasang amrol atau kontainer di sekitar sini, sehingga warga tidak bingung mau buang sampah ke mana. Setelah sampah penuh, langsung diangkut oleh petugas,” jelas Suratno, memastikan ketersediaan fasilitas yang memadai untuk penampungan sampah.
Lebih jauh, permasalahan lingkungan di Sungai Kalimati tidak hanya terbatas pada sampah rumah tangga. Pemkab Banyuwangi juga akan mengevaluasi dugaan pembuangan limbah industri di sekitar sungai. Suratno mengungkapkan bahwa Dinas Lingkungan Hidup bersama Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Perindustrian akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap aspek lingkungan dan pengelolaan limbah pabrik di kawasan tersebut. “Tentu kita cek laboratoriumnya nanti. Kalau tidak sesuai ketentuan, akan kami minta segera disesuaikan. Jika tidak mengindahkan, kita beri sanksi sesuai perundang-undangan,” tegasnya, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menegakkan aturan.
Kepala DPMD Banyuwangi, Nanien Oktaviantie, menambahkan visi jangka panjang untuk Dusun Kalimati. Setelah program Banyuwangi Hijau berjalan, pihaknya akan mendorong pembentukan bank sampah. Keberadaan bank sampah ini diharapkan menjadi solusi ganda: tidak hanya mengurangi timbunan sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui daur ulang dan memberikan tambahan penghasilan bagi warga. “Kita juga dorong ke depannya Dusun Kalimati ini bisa jadi percontohan penanganan sampah. Selain itu, kawasan ini juga bisa dijadikan destinasi untuk menambah kesejahteraan masyarakat sekitar,” tandasnya, membayangkan Kalimati bukan hanya bersih, tetapi juga menjadi model inspiratif dan tujuan wisata yang berkelanjutan.
Kisah Sungai Kalimati adalah pengingat bahwa masalah lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Dari tumpukan sampah yang menggunung, kini terbit asa baru yang dirajut oleh komitmen warga dan dukungan pemerintah. Ini bukan sekadar pembersihan sesaat, melainkan upaya panjang untuk menumbuhkan kesadaran, mengubah kebiasaan, dan membangun masa depan yang lebih hijau dan sejahtera bagi seluruh masyarakat Banyuwangi, khususnya di tepian Sungai Kalimati.












