Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Mengupas Tiga Pilar Strategis Muhammadiyah Kebomas untuk Peradaban Islam Berkemajuan

badge-check

Mengupas Tiga Pilar Strategis Muhammadiyah Kebomas untuk Peradaban Islam Berkemajuan Perbesar

KlikMojok – Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebomas, Kabupaten Gresik, menyelenggarakan Pengajian Ahad Pagi pada Ahad, 18 Oktober 2026, dengan mengangkat tema krusial “Membangun Peradaban Islam Berkemajuan”. Acara yang berlangsung di Masjid At-Taqwa Giri Cabang Kebomas ini menghadirkan H. Muhammad Khoirul Abduh, S.Ag., M.Si., Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, sebagai narasumber utama.

Mengawali kajiannya, Abduh menyampaikan harapannya agar seluruh jamaah yang hadir dapat menjadi golongan umat yang muflihun. Ia menjelaskan bahwa muflihun merujuk pada individu-individu yang berhasil meraih keberuntungan sejati, baik dalam kehidupan dunia maupun di akhirat. Menurut Al-Qur’an, kelompok ini digambarkan sebagai minoritas yang menunjukkan konsistensi atau istiqamah dalam mematuhi petunjuk Allah SWT dan Sunnah Rasulullah SAW, meskipun berada di tengah tantangan zaman yang terus berubah.

“Semoga kita termasuk umat yang istiqomah sesuai contoh Rosulullah dalam konteks ibadah dan perilaku keseharian,” ujar Abduh, yang juga membidangi Kesejahteraan Sosial serta Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Periode 2022–2027.

Lebih lanjut, Abduh menyampaikan pesan penting dari Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Mendikdasmen Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., mengenai tiga pilar utama dalam membangun peradaban Islam berkemajuan.

Pilar pertama, terang Abduh, adalah tata kelola konflik. Ia menjelaskan bahwa perbedaan dalam mengelola berbagai kepentingan umat adalah suatu keniscayaan dan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut harus dikelola secara bijak dan efektif agar tidak justru menghambat kemajuan umat secara keseluruhan.

“Permasalahan umat islam berupa konflik ini yang semakin menjadikan umat kian terpinggirkan atau memang dipinggirkan oleh kemajuan peradaban,” ungkap Abduh, menyoroti dampak negatif konflik internal terhadap posisi umat.

Ia menambahkan bahwa konflik berpotensi memecah belah persaudaraan dan persatuan umat. Permasalahan ini kian meruncing ketika informasi yang diterima tidak lengkap atau tidak utuh, padahal umat telah dibekali penangkalnya melalui ajaran agama.

Abduh mengutip Quran Surah Al-Hujurat ayat 6 yang berbunyi, “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Ayat lain yang relevan dalam meredakan konflik adalah Quran Surah Al-Hujurat ayat 11, yang menyatakan, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.”

Dari ayat tersebut, jelas ditekankan perilaku-perilaku yang seharusnya dihindari oleh umat, antara lain mengolok-olok sesama, saling mencela, serta memanggil dengan julukan atau sebutan yang buruk.

Perilaku lain yang berpotensi memperparah konflik adalah kebiasaan menambah-nambah pembicaraan atau menyebarkan informasi yang belum pasti, sebagaimana diungkapkan dalam Quran Surat Al-Hujurat ayat 12: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”

Masalah kedua yang menjadi sorotan Abduh adalah perilaku praktik korupsi. Mantan Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur yang terpilih pada Musyawarah Wilayah (Muswil) XIV Februari 2011 di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya ini, secara tegas mengingatkan umat Islam untuk menjauhi segala bentuk praktik korupsi. Ia menekankan bahwa tindakan korupsi tidak hanya merusak kepercayaan publik, tetapi juga secara fundamental melemahkan kekuatan dan martabat umat Islam.

Abduh menggambarkan betapa seriusnya bahaya praktik korupsi dengan mengisahkan peristiwa di mana Rasulullah Muhammad SAW pernah menolak menyalatkan jenazah seorang sahabat yang gugur dalam Perang Khaibar (tahun 7 Hijriah/628 M). Penolakan ini terjadi karena sahabat tersebut terbukti melakukan ghulul, yaitu tindakan korupsi atau mengambil harta rampasan perang sebelum dibagikan secara adil.

Setelah mendengar sabda Nabi SAW, para sahabat segera memeriksa barang bawaan dan pakaian almarhum. Mereka menemukan beberapa manik-manik milik orang Yahudi Khaibar yang disembunyikan di balik bajunya. Nilai dari manik-manik tersebut, setelah ditaksir, sangatlah kecil, bahkan tidak mencapai dua dirham.

Pilar ketiga, atau yang Abduh sebut sebagai “penyakit” umat, adalah sikap kolot. Ia menekankan pentingnya keterbukaan umat terhadap perubahan dan perkembangan zaman. Menurutnya, sikap kolot yang cenderung tertutup terhadap kritik, saran, maupun inovasi akan menyebabkan umat Islam semakin tertinggal dari kemajuan peradaban lainnya.

“Jika tiga hal ini menjadi pegangan bersama, maka umat islam akan tumbuh secara sehat, profesional, dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” pungkas H. Muhammad Khoirul Abduh. Dengan mengimplementasikan pilar-pilar ini, diharapkan peradaban Islam berkemajuan dapat terwujud secara nyata.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Sungai Kalimati Banyuwangi: Ketika Sampah Bicara, Komitmen Warga Menjawab

19 Okt 2026 - 15:18 WIB

Sungai Kalimati Banyuwangi: Ketika Sampah Bicara, Komitmen Warga Menjawab

Senyapnya Jerat di Leher Z: Kisah Tragis Perundungan Anak Disabilitas yang Mengoyak Hati

19 Okt 2026 - 15:18 WIB

Senyapnya Jerat di Leher Z: Kisah Tragis Perundungan Anak Disabilitas yang Mengoyak Hati

Bangun Ekosistem Digital dengan Prodistik ITS, Kepala Smamsatu Gresik Juara I FFU X 2026

19 Okt 2026 - 15:17 WIB

Bangun Ekosistem Digital dengan Prodistik ITS, Kepala Smamsatu Gresik Juara I FFU X 2026

Dini Hari yang Membara di Situbondo: Dua Rumah Ludes, Kisah Perjuangan Melawan Api

19 Okt 2026 - 12:39 WIB

Dini Hari yang Membara di Situbondo: Dua Rumah Ludes, Kisah Perjuangan Melawan Api

Di Balik Deru Ombak Lumajang: Kisah Pencarian Nelayan yang Hilang dan Pelajaran dari Laut

19 Okt 2026 - 12:38 WIB

Di Balik Deru Ombak Lumajang: Kisah Pencarian Nelayan yang Hilang dan Pelajaran dari Laut
Trending di Pendidikan