Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Dari Pohon Siwalan hingga Filosofi Hidup: Siswa Smala Dukun Menggali Kesabaran di Kampung Legen Gresik

badge-check

Dari Pohon Siwalan hingga Filosofi Hidup: Siswa Smala Dukun Menggali Kesabaran di Kampung Legen Gresik Perbesar

KlikMojok – Siswa SMA Muhammadiyah 5 (Smala) Dukun mendapatkan pengalaman belajar yang tak terlupakan saat mengikuti kegiatan outing class di Kampung Legen, Kecamatan Panceng, Gresik, pada Rabu, 14 Oktober 2026. Dalam kunjungan ini, mereka tidak hanya mengenal proses produksi minuman legen secara langsung, tetapi juga menemukan kisah panjang tentang kesabaran, ketekunan, dan kearifan lokal yang tidak mereka temukan di dalam kelas.

Kampung Legen Gresik, khususnya di Dusun Shoberoh, Desa Dalegan, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, menjadi lokasi 27 siswa kelas X Smala Dukun untuk memahami makna kesabaran melalui setiap tetesan legen. Kegiatan ini dirancang untuk memberikan pelajaran berharga yang tidak dapat dipelajari dari buku-buku sekolah.

Pagi itu, meskipun matahari belum memancarkan sinarnya dengan terik, semangat dan rasa ingin tahu para siswa sudah menghangatkan suasana. Mereka dengan antusias mengamati pohon-pohon siwalan yang tumbuh subur di sekitar rumah dan kebun milik Norikan (48), seorang petani legen setempat yang menjadi narasumber mereka.

Berbeda dengan metode belajar konvensional di dalam kelas, para siswa diajak menyusuri ladang pengetahuan yang kental dengan tradisi masyarakat pesisir. Mereka berinteraksi langsung dengan para petani dan menggali potensi alam yang melimpah di lingkungan sekitar.

Pengalaman langsung ini memungkinkan siswa untuk tidak sekadar menghafal teori, melainkan menyaksikan bagaimana teori tersebut diterapkan dalam kehidupan nyata. Muhammad Kamilullah, S.Pd., selaku wali kelas X, mengungkapkan bahwa ide kegiatan ini berawal dari percakapan sederhana dengan para siswanya.

“Saya teringat beberapa anak bercerita tentang nikmatnya minum legen, apalagi diminum saat dingin. Akhirnya saya terpikir, bagaimana kalau mereka saya bawa ke tempat penghasil legen saja? Pasti mereka bakal antusias,” ujarnya.

Prediksi Kamilullah terbukti benar. Ketika rencana kunjungan ke Kampung Legen ini diumumkan, para siswa menyambutnya dengan penuh semangat dan antusiasme yang tinggi.

Di kebun tersebut, Norikan memperkenalkan pohon siwalan (Borassus flabellifer), tanaman yang tidak hanya menjadi sumber penghidupan utama, tetapi juga bagian integral dari identitas masyarakat setempat. “Pohon siwalan ini tidak pernah terburu-buru,” tuturnya sambil menunjuk batang pohon yang menjulang tinggi, sebuah kalimat sederhana yang menyimpan makna filosofis mendalam.

Penjelasan Norikan lebih lanjut mengungkapkan bahwa pohon siwalan dengan nama ilmiah Borassus flabellifer membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 tahun untuk mulai menghasilkan nira. Hal ini mengajarkan para petani untuk memahami ritme alam dan memiliki kesabaran ekstra dalam menunggu tanaman mencapai usia produktifnya.

Selain kemampuannya bertahan di tanah pesisir yang cenderung kering, pohon siwalan juga dikenal tidak membutuhkan perawatan yang rumit. Norikan menjelaskan bahwa petani hanya perlu membersihkan pelepah tua dan menjaga area sekitar pangkal pohon agar terhindar dari gangguan hama penggerek.

Menariknya, Norikan mengaku bahwa ia tidak pernah menanam pohon-pohon siwalan di kebunnya sejak awal pertumbuhannya. Ia mendapati pohon-pohon tersebut tumbuh secara alami. Meskipun demikian, ia telah memanen legen dari pohon-pohon tersebut selama bertahun-tahun.

“Sejak tahun 2007 hingga sekarang, sudah beratus-ratus kali saya memanen legen. Saya belum pernah menanam mereka dari awal,” jelasnya, menunjukkan hubungan simbiosis yang panjang antara manusia dan alam.

Pengalaman ini secara jelas memperlihatkan perbedaan antara keinginan untuk mendapatkan hasil secara instan dengan ketekunan dan pemahaman mendalam terhadap siklus alami tanaman yang dimiliki petani legen. Dari sini, para siswa belajar bahwa sebuah proses sering kali memerlukan waktu yang jauh lebih panjang dari yang mereka bayangkan.

Selain memahami pertumbuhan siwalan, para siswa juga mempelajari perbedaan masa produksi legen antara pohon siwalan jantan dan betina. Menurut Norikan, pohon jantan dapat menghasilkan legen secara berturut-turut selama maksimal tiga bulan dalam satu periode panen, sementara pohon betina mampu mengeluarkan legen hingga delapan bulan sejak penyayatan buah pertama.

Penjelasan detail ini semakin memperkaya pemahaman siswa tentang kompleksitas proses produksi legen. Mereka menyadari bahwa minuman khas daerah tersebut melewati serangkaian proses alamiah yang panjang sebelum akhirnya dapat dinikmati oleh konsumen.

Kemudian, tibalah momen yang paling dinantikan oleh para siswa: mencicipi legen segar yang baru saja dipanen langsung dari kebun. Pengalaman ini memberikan sensasi yang sangat berbeda dibandingkan dengan menikmati minuman serupa yang biasa mereka beli di pasaran.

“Seger banget, beda seperti yang biasanya kita beli. Kalau yang ini manisnya itu manis banget, enak,” kata Muhammad Afrizal, salah seorang siswa kelas X-1, mengungkapkan kesan positifnya.

Senyum dan komentar puas dari para siswa menjadi penutup yang berkesan bagi kunjungan edukatif ini. Namun, kegiatan tersebut tidak hanya berhenti pada pengalaman mencicipi minuman tradisional.

Kepala Smala, Agus Muhammad Hasbi, S.P., menjelaskan bahwa kegiatan outing class ini dirancang untuk mengintegrasikan teori biologi serta mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU) dengan praktik lapangan. Melalui kegiatan ini, siswa juga diharapkan dapat menumbuhkan rasa penghargaan yang lebih dalam terhadap budaya dan produk khas Kabupaten Gresik.

Setiap tahun, Smala secara rutin mengadakan outing class untuk memperluas cakrawala pengalaman belajar siswa. Kali ini, melalui legen, mereka diajak untuk mengenal potensi daerah sekaligus memahami ketekunan luar biasa yang dimiliki oleh para petani.

Pada akhirnya, setiap tetesan legen menghadirkan pelajaran yang jauh lebih luas daripada sekadar pengetahuan tentang botani. Di Kampung Legen, para siswa belajar bahwa alam memiliki ritmenya sendiri, dan kesabaran, ketekunan, serta penghargaan terhadap proses adalah bekal berharga yang dapat mereka bawa pulang, melampaui batas-batas ruang kelas.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Asap Kelabu di Jantung Produksi: Pelajaran Berharga dari Insiden Kebakaran Blower di Pabrik Mebel Gresik

15 Okt 2026 - 15:20 WIB

Asap Kelabu di Jantung Produksi: Pelajaran Berharga dari Insiden Kebakaran Blower di Pabrik Mebel Gresik

Ketika Warung Kopi Memberi Jalan untuk Ilmu: Transformasi Lahan Sekolah Rakyat Ponorogo

15 Okt 2026 - 15:20 WIB

Ketika Warung Kopi Memberi Jalan untuk Ilmu: Transformasi Lahan Sekolah Rakyat Ponorogo

Ketika Ruang Publik Menjadi Kelas: Bahaya Kurikulum Tersembunyi di Era Digital

15 Okt 2026 - 15:17 WIB

Ketika Ruang Publik Menjadi Kelas: Bahaya Kurikulum Tersembunyi di Era Digital

Ketika Bengawan Solo Berbunga: Hamparan Enceng Gondok Mengubah Wajah Sungai Purba di Ngawi Saat Kemarau

15 Okt 2026 - 12:38 WIB

Ketika Bengawan Solo Berbunga: Hamparan Enceng Gondok Mengubah Wajah Sungai Purba di Ngawi Saat Kemarau

Tangis di Tengah Dingin Malam: Kisah Selamatnya Bayi Perempuan yang Ditemukan di Blitar

15 Okt 2026 - 12:37 WIB

Tangis di Tengah Dingin Malam: Kisah Selamatnya Bayi Perempuan yang Ditemukan di Blitar
Trending di Pendidikan