Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Ketika Ruang Publik Menjadi Kelas: Bahaya Kurikulum Tersembunyi di Era Digital

badge-check

Ketika Ruang Publik Menjadi Kelas: Bahaya Kurikulum Tersembunyi di Era Digital Perbesar

KlikMojok – Fenomena penggunaan kata-kata kasar di ruang publik tidak hanya berakhir sebagai sekadar ucapan belaka. Menurut Nur Lailatul Azizah, seorang Guru SD Muhammadiyah 3 Ikrom Wage, Sidoarjo, ketika ujaran tersebut tersebar luas, ia berpotensi menjelma menjadi bagian dari kurikulum tersembunyi yang secara signifikan memengaruhi pembentukan cara anak-anak dalam berbicara dan bersikap sehari-hari. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat dampak jangka panjangnya terhadap pendidikan karakter.

Seringkali, kita cenderung beranggapan bahwa proses pendidikan hanya terjadi di lingkungan formal yang memang dirancang khusus untuk tujuan tersebut, seperti di sekolah, rumah, atau berbagai ruang pembelajaran lainnya. Namun, kenyataannya, anak-anak juga menyerap banyak pelajaran dari berbagai tempat yang tidak pernah secara eksplisit dilabeli sebagai institusi pendidikan.

Anak-anak secara aktif mengamati bagaimana individu dewasa berekspresi saat sedang marah, bagaimana mereka menanggapi kritik, cara mereka mengutarakan perbedaan pandangan, serta bagaimana mereka memperlakukan sesama. Ironisnya, sebagian besar peristiwa ini tidak perlu dicari secara sengaja oleh anak-anak; informasi tersebut justru hadir secara otomatis dan mudah diakses melalui layar gawai yang mereka gunakan.

Pada titik inilah, permasalahan yang ada menjadi kian kompleks dan serius. Saat bahasa dan perilaku orang dewasa terekspos di ranah publik, secara tidak langsung kita sedang menyuguhkan bentuk pelajaran lain bagi anak-anak, sebuah pembelajaran yang tidak tercantum dalam kurikulum formal di sekolah. Oleh karena itu, pertanyaan krusial yang perlu diajukan bukan sekadar mengenai apa yang kita ajarkan kepada anak, melainkan apa sesungguhnya yang sedang mereka serap dan pelajari dari tindakan serta perkataan kita?

Relevansi pertanyaan tersebut semakin mengemuka ketika masyarakat luas kerap menyaksikan bagaimana sejumlah pejabat penting berkomunikasi di ruang publik. Dalam berbagai kesempatan, seringkali muncul kata-kata bernada kasar atau merendahkan, khususnya saat topik kritik dan perbedaan pendapat sedang didiskusikan secara terbuka.

Ungkapan-ungkapan seperti “goblok”, “ndasmu”, “dungu”, “tolol”, atau “bacot” dengan cepat menyebar dan berpindah dari arena ruang rapat maupun podium ke berbagai layar gawai. Cuplikan-cuplikan dari ucapan tersebut kemudian beredar luas, sering dikutip, diputar ulang berulang kali, dan kembali muncul serta viral di berbagai platform media sosial.

Pada momen tersebut, konteks asli dari percakapan atau perdebatan seringkali terabaikan. Anak-anak mungkin tidak sepenuhnya mengerti isu yang sedang diperdebatkan atau kepada siapa kata-kata tersebut sebenarnya ditujukan. Namun, mereka memiliki kemampuan untuk mendengar dan mengingat ucapan-ucapan itu. Bagi anak-anak, potongan informasi semacam itu turut menjadi bagian integral dari apa yang mereka saksikan dan dengar setiap hari.

Albert Bandura, melalui karyanya Social Learning Theory (1977), menjelaskan sebuah konsep fundamental bahwa manusia memiliki kapasitas untuk belajar melalui proses pengamatan terhadap perilaku individu lain. Dalam konteks ini, orang yang diamati dapat berfungsi sebagai model atau contoh bagi si pengamat.

Dalam kehidupan anak-anak di era modern saat ini, sosok model atau panutan tidak lagi terbatas pada orang tua, guru, saudara, atau teman sebaya saja. Kini, teknologi melalui layar gawai telah memperkenalkan dan membawa lebih banyak figur serta karakter ke dalam rutinitas keseharian mereka.

Institusi sekolah telah menetapkan kurikulum resmi yang mengajarkan anak-anak untuk menghormati orang lain, menghindari ejekan, tidak memotong pembicaraan, mampu bekerja sama, dan menyampaikan pendapat secara santun. Akan tetapi, di samping pelajaran formal tersebut, terdapat pula berbagai pembelajaran yang berasal dari lingkungan sosial. Pada akhirnya, ruang publik bertransformasi menjadi semacam ‘kelas’ yang tidak memerlukan papan tulis, tempat anak-anak menyerap informasi secara informal.

Sebagai seorang guru sekolah dasar, saya pribadi menyaksikan manifestasi paling sederhana dari fenomena ini setiap hari. Contohnya, ketika dua orang anak saling berebut pensil warna, kalimat seperti “Itu punyaku!” seringkali terlontar lebih cepat daripada kesediaan mereka untuk berbagi. Dalam situasi seperti ini, peran guru adalah membimbing mereka untuk menemukan kalimat alternatif yang lebih konstruktif, misalnya: “Boleh aku pinjam setelah kamu selesai?”

Interaksi verbal tersebut mungkin terlihat sepele, namun di baliknya terkandung pembelajaran fundamental mengenai kemampuan menahan diri, cara menyampaikan keinginan dengan baik, pentingnya menghargai orang lain, serta sikap menerima perbedaan tanpa harus merendahkan. Proses pembiasaan semacam ini bisa diulang dan ditekankan oleh guru selama berbulan-bulan demi membentuk karakter positif.

Permasalahan utamanya adalah bahwa anak-anak tidak hanya menghabiskan waktu di lingkungan kelas. Mereka juga aktif berinteraksi di ruang digital yang luas. Sebuah ucapan yang terlontar dalam rapat atau pidato mungkin hanya berlangsung selama beberapa detik. Akan tetapi, ketika ucapan tersebut direkam, kemudian dipotong menjadi klip video pendek, dibagikan secara masif, dan muncul kembali berulang kali, durasi ‘hidup’ peristiwa tersebut menjadi jauh lebih panjang dan dampaknya meluas.

Anak-anak mungkin tidak mengerti konteks kompleks dari sebuah rapat DPR atau latar belakang politik dari suatu pidato. Kendati demikian, mereka sangat mungkin mengingat satu kata tertentu dan kemudian menggunakannya dalam percakapan sehari-hari mereka. Di sinilah pendidikan karakter berhadapan dengan sebuah paradoks baru yang menantang. Sekolah memerlukan waktu yang panjang dan konsisten untuk membangun sebuah kebiasaan positif, sementara ruang digital memiliki kapasitas untuk melipatgandakan penyebaran suatu perilaku, baik positif maupun negatif, hanya dalam hitungan detik.

Hal ini bukan berarti setiap anak yang terpapar bahasa kasar akan secara otomatis menirunya. Proses pembelajaran melalui pengamatan bukanlah suatu mekanisme yang bersifat instan atau otomatis. Akan tetapi, faktor pengulangan dan lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam menentukan informasi atau perilaku apa yang akan menetap dalam ingatan seorang anak.

Melalui Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menegaskan bahwa pembentukan karakter yang kuat memerlukan proses pembiasaan yang berkelanjutan, serta melibatkan peran aktif dari keluarga, satuan pendidikan, masyarakat luas, dan juga media. Ini mengindikasikan bahwa upaya pendidikan karakter tidaklah berakhir hanya di lingkungan sekolah.

Kini, ruang publik tidak lagi semata-mata menjadi arena di mana orang dewasa berinteraksi dan berkomunikasi antar sesama orang dewasa. Lebih dari itu, ruang publik juga berfungsi sebagai tempat di mana anak-anak mempelajari bagaimana cara orang dewasa berbicara dan berinteraksi. Memang benar bahwa tidak ada individu dewasa yang selalu sempurna; perasaan marah dan kesalahan dalam memilih kata bisa saja terjadi. Namun, hal yang tak kalah penting untuk disaksikan dan dipelajari oleh anak-anak adalah tindakan yang dilakukan setelah sebuah kesalahan terjadi, yaitu: mengakui kesalahan, menyampaikan permohonan maaf, dan menghadapi kritik dengan sikap yang tidak merendahkan orang lain.

Bagi sebagian orang dewasa, tindakan-tindakan tersebut mungkin hanya dianggap sebagai bagian dari etika komunikasi yang baik. Namun, bagi anak-anak, hal itu merupakan sebuah pelajaran berharga. Kita memang dapat terus-menerus memperbanyak program pembiasaan karakter di sekolah dan tanpa henti mengajarkan nilai-nilai sopan santun.

Meskipun demikian, semua upaya tersebut akan senantiasa berhadapan dengan lingkungan yang jangkauannya jauh lebih luas dibandingkan dengan area halaman sekolah. Anak-anak sangat membutuhkan keberadaan ruang publik yang secara konsisten menunjukkan bahwa kekuasaan, ekspresi kemarahan, kritik, serta perbedaan pendapat tetap bisa disampaikan dan diungkapkan tanpa harus merendahkan martabat orang lain. Sebab, di era digital yang didominasi oleh layar ini, orang dewasa sebenarnya tidak pernah benar-benar berada di luar ‘kelas’ pengamatan anak-anak.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Asap Kelabu di Jantung Produksi: Pelajaran Berharga dari Insiden Kebakaran Blower di Pabrik Mebel Gresik

15 Okt 2026 - 15:20 WIB

Asap Kelabu di Jantung Produksi: Pelajaran Berharga dari Insiden Kebakaran Blower di Pabrik Mebel Gresik

Ketika Warung Kopi Memberi Jalan untuk Ilmu: Transformasi Lahan Sekolah Rakyat Ponorogo

15 Okt 2026 - 15:20 WIB

Ketika Warung Kopi Memberi Jalan untuk Ilmu: Transformasi Lahan Sekolah Rakyat Ponorogo

Dari Pohon Siwalan hingga Filosofi Hidup: Siswa Smala Dukun Menggali Kesabaran di Kampung Legen Gresik

15 Okt 2026 - 15:19 WIB

Dari Pohon Siwalan hingga Filosofi Hidup: Siswa Smala Dukun Menggali Kesabaran di Kampung Legen Gresik

Ketika Bengawan Solo Berbunga: Hamparan Enceng Gondok Mengubah Wajah Sungai Purba di Ngawi Saat Kemarau

15 Okt 2026 - 12:38 WIB

Ketika Bengawan Solo Berbunga: Hamparan Enceng Gondok Mengubah Wajah Sungai Purba di Ngawi Saat Kemarau

Tangis di Tengah Dingin Malam: Kisah Selamatnya Bayi Perempuan yang Ditemukan di Blitar

15 Okt 2026 - 12:37 WIB

Tangis di Tengah Dingin Malam: Kisah Selamatnya Bayi Perempuan yang Ditemukan di Blitar
Trending di Pendidikan