Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Menginspirasi Komunitas: Rumah Bu Tyas Jadi Pusat Gerakan Literasi dan Permainan Tradisional Anak di Simomulyo Surabaya

badge-check

Menginspirasi Komunitas: Rumah Bu Tyas Jadi Pusat Gerakan Literasi dan Permainan Tradisional Anak di Simomulyo Surabaya Perbesar

KlikMojok – Pada hari Sabtu, 10 Oktober 2026, rumah Ibu Tyas Wibowo, S.Pd., M.Kes., yang berlokasi di Jalan Simo Hilir X Blok 5H No. 02, Surabaya, menjadi pusat kegiatan yang sangat sibuk. Kediaman ini berfungsi sebagai markas utama bagi para relawan yang tengah mempersiapkan acara “Maca Lan Dolanan Bareng” (Mabar). Inisiatif kolaboratif antara Lapak Baca Simora dan Komunitas Kampoeng Dolanan ini bertujuan untuk mengajak anak-anak di Simomulyo kembali menekuni literasi dan permainan tradisional, sekaligus mendapat dukungan penuh dari warga setempat, termasuk Bu Tyas yang sukarela membuka rumahnya.

Melalui program “Bbuday.Ii”, kolaborasi ini secara spesifik berupaya untuk memperkenalkan kembali pentingnya aktivitas membaca dan berbagai jenis permainan tradisional kepada generasi muda.

Sosok Tyas Wibowo, yang lebih dikenal sebagai Bu Tyas di kalangan anak didik dan warga sekitar, menunjukkan keramahan luar biasa. Ia dengan tulus hati menyediakan kediamannya sebagai markas bagi para relawan dari Simora dan Kampoeng Dolanan. Rumah ini menjadi tempat strategis bagi mereka untuk melakukan berbagai persiapan, beristirahat sejenak, dan bahkan mengevaluasi jalannya kegiatan.

Bu Tyas mengungkapkan kebahagiaannya menyaksikan anak-anak berlarian bebas, berinteraksi sosial dengan teman-teman baru, tertawa riang, dan menikmati berbagai permainan yang dulu menjadi bagian tak terpisahkan dari masa kecilnya sendiri.

Menyoroti fenomena modern, Bu Tyas menyatakan bahwa, “Karena anak-anak sekarang cenderung ke gadget, ya. Kebetulan anak saya sendiri suka main hape. Rasanya setiap hari kepingin marah, tapi ya percuma. Kalau ada kegiatan seperti ini bagus, jadi anak-anak bisa lepas dari gadget beberapa jam. Sekaligus anak-anak tahu permainan tradisional yang dimainkan orang tuanya dahulu.”

Selama sore hari kegiatan tersebut, anak-anak berkesempatan mencoba aneka permainan tradisional yang seru, seperti lompat tali, egrang, engklek, dan boi-boian.

Menurut Bu Tyas, di balik kesederhanaan permainan-permainan tersebut, tersimpan segudang manfaat dan aktivitas yang kaya. Anak-anak tidak hanya bergerak aktif dan berkeringat, tetapi juga belajar berinteraksi langsung dengan teman sebaya serta memahami pentingnya mengikuti aturan.

Saking antusiasnya, Bu Tyas bahkan sempat ikut mencoba kembali permainan lompat tali.

Dengan tawa kecil, ia berbagi pengalamannya, mengatakan, “Senang sekali lihatnya, jadi nostalgia juga. Meskipun saya tadi mencoba main lompat tali, ternyata sebentar saja sudah ngos-ngosan.”

Berdasarkan pengamatannya, permainan tradisional juga berperan penting dalam membentuk karakter anak. Melalui aktivitas ini, anak-anak dapat belajar disiplin, menjunjung tinggi kejujuran, menyusun strategi, berani mengakui kesalahan, menerima kekalahan dengan lapang dada, dan menunjukkan sikap sportif.

Oleh karena itu, Bu Tyas mendorong para orang tua untuk tidak hanya terpaku pada kekhawatiran mengenai durasi anak bermain gawai. Ia menekankan pentingnya bagi orang tua untuk aktif menyediakan berbagai kegiatan alternatif dan memperkenalkan permainan yang bisa dinikmati bersama.

Ia membandingkan hal tersebut dengan bermain gawai, “Sangat berbeda dengan bermain game online di gadget. Coba lihat, berjam-jam mereka hanya duduk, tap-tap layar hape, tiduran, tidak bergerak. Terus pembelajaran dan pembentukan karakter baiknya dari mana?”

Keyakinan dan pandangan inilah yang menjadi alasan utama mengapa Bu Tyas langsung memberikan dukungan penuh begitu mendengar rencana kolaborasi antara Simora dan Kampoeng Dolanan.

Dukungan yang diberikan Bu Tyas ternyata tidak hanya sebatas meminjamkan rumahnya. Ia juga secara aktif berperan sebagai jembatan penghubung antara para inisiator kegiatan dengan warga serta pengurus kampung setempat.

Bu Tyas mengambil inisiatif dengan mengumpulkan Nennie, Ita, Dini, Hulwanur Rosida, dan Ketua RT Ariyanto untuk berdiskusi. Setelah itu, mereka dipertemukan dengan Wasilatul Ummah, atau yang akrab disapa Kak Ila, selaku pendiri Simora, guna membahas secara rinci rencana pelaksanaan kegiatan tersebut.

Begitu izin untuk penggunaan jalan telah dikantongi, semangat kebersamaan warga pun terpancar. Mereka secara aktif turut serta dalam menyiapkan berbagai kebutuhan yang diperlukan untuk kegiatan tersebut.

Bu Tyas menjelaskan, “Setelah izin dikantongi untuk menutup jalan, ya sudah, akhirnya kita bergerak untuk menyiapkan konsumsi kecil-kecilan sebagai bentuk dukungan kampung kepada Simora dan Kampoeng Dolanan.”

Dukungan signifikan juga mengalir dari pihak pemerintah setempat, yakni Lurah Simomulyo Baru, Fahrizal Firmansyah, S.Sos. Beliau hadir langsung di lokasi acara dan menyampaikan sambutan pembuka sebelum dimulainya sesi membaca nyaring yang dibawakan oleh Thobibah Alina, dilanjutkan dengan edukasi budaya bersama Mustofa, atau Kak Mus, pendiri Kampoeng Dolanan.

Hulwanur Rosida, seorang warga yang turut aktif, mengambil peran sebagai pembawa acara dari awal hingga akhir kegiatan. Setelah acara selesai, ia juga dengan sigap membantu dalam membereskan seluruh perlengkapan.

Bu Tyas berpandangan bahwa partisipasi aktif dari warga dan perangkat setempat adalah hal yang krusial. Pasalnya, kegiatan yang ditujukan untuk anak-anak sangat memerlukan lingkungan yang suportif dan bersedia menyediakan ruang bagi tumbuh kembang mereka.

Meskipun kegiatan berlangsung sukses, Bu Tyas menyoroti satu aspek penting. Ia mengamati bahwa sebagian besar peserta yang hadir adalah anak-anak yang sudah akrab dengan Lapak Baca Simora.

Sebaliknya, jumlah anak-anak dari lingkungan sekitar yang belum pernah terlibat dalam kegiatan Simora masih tergolong sedikit.

Menurut Bu Tyas, minimnya partisipasi dari anak-anak baru ini bukan semata-mata karena larangan orang tua. Lebih sering, penyebabnya adalah kurangnya informasi. Sebagian orang tua memang belum mengetahui secara menyeluruh tentang kegiatan yang diselenggarakan oleh Simora maupun Kampoeng Dolanan.

Ia menyampaikan keprihatinannya, “Itu kan sayang sekali, ya. Kebanyakan belum tahu, dalam artian belum mengenal Simora dan Kampoeng Dolanan. Jadi orang tua yang anaknya sering ke lapak baca memberi izin dan langsung registrasi, sedangkan yang anak-anaknya tidak pernah ke lapak baca tidak tahu.”

Situasi ini menjadi sebuah catatan penting bagi Simora untuk lebih gencar lagi dalam mengenalkan berbagai kegiatan literasi kepada masyarakat luas, tidak hanya terpaku pada anak-anak yang sudah menjadi pengunjung rutin lapak baca mereka.

Bu Tyas berharap, “Saya harap suatu hari nanti mereka akan tahu, mengenal, dan selanjutnya mendukung penuh kegiatan seperti ini.”

Selain itu, Bu Tyas juga menitipkan pesan khusus kepada Kak Ila dan seluruh penggerak Simora. Ia mengingatkan mereka untuk senantiasa menjaga semangat perjuangan tanpa melupakan pentingnya diri sendiri dan keluarga.

“Terus berkembang, tetap berjuang demi banyak orang, khususnya anak-anak. Tapi meski kita adalah pegiat literasi untuk sosial, jangan lupakan diri sendiri dan keluarga. Itu sangat penting,” demikian pesannya.

Lebih jauh lagi, Bu Tyas menunjukkan komitmennya dengan membuka peluang bagi Simora jika kelak mereka berkeinginan untuk mengembangkan kegiatan sosial lain di lingkungan tempat tinggalnya.

“Kalau Kak Ila berminat membuka kegiatan lain, saya adalah orang pertama yang akan mendukung penuh. Kita bikin kegiatan lain agar lebih berkembang lagi. Maksud saya, kalau punya ilmu itu ayo disalurkan ke masyarakat luas. Kalau tidak ada orang yang memulai, ayo kita saja yang memulai,” tutur Bu Tyas penuh semangat.

Pada sore hari itu, rumah Bu Tyas bertransformasi lebih dari sekadar tempat singgah atau beristirahat bagi para relawan. Dari sanalah, konsumsi disiapkan, warga dipertemukan dalam semangat gotong royong, dan sebuah inisiatif berharga untuk tumbuh kembang anak-anak mendapatkan ruang yang layak.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ketika Spirit Olahraga Memudar: Kericuhan Futsal Antarpelajar Blitar Menggugat Makna Sportivitas

14 Okt 2026 - 15:18 WIB

Ketika Spirit Olahraga Memudar: Kericuhan Futsal Antarpelajar Blitar Menggugat Makna Sportivitas

Meniti Jalan Suci dari Pamekasan: Mengupas Tuntas Persiapan Ibadah Haji 2027

14 Okt 2026 - 15:18 WIB

Meniti Jalan Suci dari Pamekasan: Mengupas Tuntas Persiapan Ibadah Haji 2027

PMR Wira Vocatama: Pengalaman Edukasi Donor Darah di UTD Sidoarjo

14 Okt 2026 - 15:17 WIB

PMR Wira Vocatama: Pengalaman Edukasi Donor Darah di UTD Sidoarjo

Ketika Rutinitas Berubah Horor: Jeratan Kabel di Ponorogo dan Bahaya Infrastruktur Tak Terawat

14 Okt 2026 - 12:36 WIB

Ketika Rutinitas Berubah Horor: Jeratan Kabel di Ponorogo dan Bahaya Infrastruktur Tak Terawat

Gelombang Baru di Pesisir Pasuruan: Merajut Asa Kedaulatan Pangan dari Kampung Nelayan Modern

14 Okt 2026 - 12:36 WIB

Gelombang Baru di Pesisir Pasuruan: Merajut Asa Kedaulatan Pangan dari Kampung Nelayan Modern
Trending di Pendidikan