KlikMojok – Pada Sabtu (10/10/2026), Nasrullah, Ph.D., seorang pakar kehumasan, menjelaskan mengapa branding sekolah yang kuat sangat esensial dalam membentuk identitas lembaga pendidikan agar mudah dikenali dan dipercaya publik. Fenomena seperti asosiasi “Kampus Putih Jas Merah” dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) atau “SMK Mutu” dengan SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, Kabupaten Malang, menjadi bukti nyata bagaimana identitas yang dibangun konsisten dapat melekat kuat di benak masyarakat.
Penjelasan mendalam ini disampaikan oleh Nasrullah saat menjadi narasumber dalam Akademi Jurnalistik Muhammadiyah (AJM) Malang 2026. Acara tersebut diselenggarakan oleh Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah (MPI PP Muhammadiyah) di Pondok Pesantren Entrepreneur Muhammadiyah (PPEM) Gondanglegi, Malang, pada Sabtu hingga Ahad, 10-11 Oktober 2026. Sebagai anggota Bidang Penguatan Media dan Jurnalistik MPI PP Muhammadiyah dengan pengalaman luas di bidang kehumasan, termasuk di UMM, materi yang dibagikannya sangat relevan dan berorientasi pada praktik nyata dalam membangun identitas sebuah lembaga.
Nasrullah juga berbagi pengalamannya mengenai perubahan popularitas nama UMM, yang kini lebih dikenal luas dibandingkan dengan sebutan “Unmuh Malang” yang dulu umum digunakan. Ia menekankan bahwa setiap sekolah dan madrasah juga wajib memiliki identitas unik yang mudah diingat. Oleh karena itu, peran humas menjadi krusial dalam mengidentifikasi dan memperkuat ciri khas yang membedakan lembaga mereka dari institusi pendidikan lainnya.
“Penamaan SMK Mutu, orang akan langsung tertuju pada SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi. Padahal, Mutu sendiri bisa berarti Muhammadiyah satu atau tujuh. Tapi asumsi publik kenapa langsung ke SMK Mutu Gondanglegi? Karena sudah melekat kuat dan dikenal luas,” terang Nasrullah saat menyampaikan materinya pada Sabtu malam.
Jika sebuah identitas lembaga telah dikenal secara luas dan memiliki citra yang positif di mata publik, Nasrullah menambahkan, hal ini akan mempermudah masyarakat dalam memilih lembaga tersebut sebagai opsi utama mereka.
Lebih lanjut, Nasrullah menjelaskan bahwa ciri khas sekolah tidak hanya terbentuk dari nama atau slogan semata. Bagaimana sebuah lembaga mempresentasikan dirinya melalui berbagai media komunikasi seperti foto, video, dan berita juga sangat berpengaruh. Oleh karena itu, penting bagi humas untuk menguasai cara mengemas pesan promosi agar tidak terkesan secara terang-terangan menawarkan sesuatu.
Dalam sesi tersebut, Nasrullah mengajak para peserta AJM untuk menonton sebuah video promosi UMM yang disajikan dalam format cerita pendek. Video tersebut mengisahkan perjalanan seorang mahasiswa baru bernama Lila. Menurut Nasrullah, karakter Lila dipilih secara khusus untuk merepresentasikan keberagaman mahasiswa UMM, yang berasal dari berbagai latar belakang, termasuk dari daerah pedesaan atau kampung kecil.
Visualisasi dalam video tersebut menunjukkan Lila pada awalnya tidak mengenakan jilbab. Namun, pada segmen berikutnya, ia digambarkan telah mengenakan jilbab dan terus tampil seperti itu hingga akhir narasi. Nasrullah menjelaskan bahwa perubahan ini sengaja tidak disampaikan melalui ajakan verbal atau langsung.
“Masuk kampus Muhammadiyah itu tidak wajib berjilbab, tidak harus Islam. Namun, kami berharap para mahasiswa bisa perlahan berubah menjadi lebih baik. Salah satunya di video itu kami tidak memakai kata ‘ayo berjilbab’. Namun, kita gambarkan itu dalam sebuah proses rentetan peristiwa,” ungkap Nasrullah.
Ia berpendapat bahwa pesan yang disampaikan melalui narasi cerita dan elemen visual memiliki daya pengaruh yang lebih subtil dan efektif dibandingkan dengan promosi yang secara langsung mengklaim keunggulan sebuah lembaga.
Berangkat dari contoh video tersebut, Nasrullah kemudian memimpin diskusi mengenai pentingnya visualisasi dan sudut pengambilan gambar dalam komunikasi. Ia menggarisbawahi bahwa seorang humas harus benar-benar memahami perbedaan mendasar antara konsep marketing dan selling.
Menurutnya, tugas humas lebih beririsan dengan marketing, yaitu memperkenalkan sekolah atau madrasah kepada publik. Ini melibatkan penjelasan mengenai identitas, keunggulan, program, dan kondisi riil lembaga secara transparan. Informasi yang disampaikan harus selalu sesuai dengan kenyataan, guna menghindari situasi di mana masyarakat memiliki ekspektasi yang berbeda saat mengunjungi sekolah secara langsung.
Di sisi lain, selling merujuk pada tahapan ketika individu yang telah memperoleh informasi memutuskan untuk membeli atau memanfaatkan layanan yang ditawarkan. Dalam konteks institusi pendidikan, tugas kehumasan berfokus pada pembangunan pengenalan dan kepercayaan publik, yang merupakan fondasi sebelum calon siswa atau wali murid membuat keputusan pilihan.
Nasrullah juga menyoroti pandangan yang sering keliru mengenai beban kerja humas, yang kerap dianggap bisa dilakukan bersamaan dengan tugas-tugas lain. Ia menegaskan bahwa pekerjaan kehumasan membutuhkan dedikasi dan fokus yang tinggi. Bahkan, untuk menghasilkan satu produk komunikasi saja, seperti video promosi, prosesnya bisa sangat panjang dan kompleks.
“Tugas humas itu banyak. Termasuk seperti membuat video Lila tadi, itu menyita banyak waktu. Mulai dari pencarian talent, casting, hingga proses pembuatannya memerlukan banyak waktu. Tidak bisa hanya ambil satu take dalam satu waktu,” jelasnya.
Video Lila, menurut penuturan Nasrullah, mulai digarap sekitar tahun 2012. Bahkan, bagian penutup dari cerita tersebut baru dapat diselesaikan sekitar sepuluh tahun kemudian. Menariknya, pada salah satu adegan akhir cerita, Lila bersama ayahnya sungguh-sungguh direkam di Tanah Suci saat sedang menunaikan ibadah umrah.
Pengalaman ini menjadi ilustrasi nyata bahwa proses pembangunan narasi atau cerita sebuah lembaga tidak selalu dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Oleh karena itu, seorang humas dituntut untuk aktif mendokumentasikan, menjaga hubungan baik dengan pihak-pihak yang pernah terlibat, serta terus membangun dan memperluas jejaring.
“Tidak mudah untuk mencari keberadaan talent. Oleh sebab itu, seorang humas harus tetap terhubung dan menjalin jejaring. Jadi, jika membutuhkan informasi, bisa segera terkoneksi,” pungkas Nasrullah. Artikel ini ditulis oleh Jurnalis Rizka Sri Wulandari dan disunting oleh Mohammad Nurfatoni.












