Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Samunasim: Santri Madinatul Ilmi Menjelajahi Puncak Cendono, Membaca Ayat Kauniah dalam Tadabur Alam

badge-check

Samunasim: Santri Madinatul Ilmi Menjelajahi Puncak Cendono, Membaca Ayat Kauniah dalam Tadabur Alam Perbesar

KlikMojok – Di tengah bentangan Pegunungan Anjasmoro yang menantang, para santri putra dari Madrasah Bertaraf Internasional (MBS) Madinatul Ilmi menemukan sebuah ruang belajar yang unik. Melalui jalur pendakian yang menanjak dan napas yang tersengal, mereka tidak hanya menguji ketahanan fisik, tetapi juga melakukan kegiatan yang mereka sebut Samunasim, yakni mendaki gunung sembari bertadabur alam.
Momen kebersamaan ini terlihat jelas ketika para santri putra MBS Madinatul Ilmi SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik tiba di Puncak Cendono, yang terletak di Pacet, Mojokerto. Mereka berdiri tegak di ketinggian 1.131 meter di atas permukaan laut, dengan Sang Merah Putih berkibar megah di antara mereka, menandai keberhasilan pendakian mereka.
Dari ketinggian tersebut, pemandangan yang tersaji begitu memukau; punggung-punggung Pegunungan Anjasmoro terlihat bertumpuk di kejauhan. Sebagian lereng gunung menunjukkan warna kecokelatan yang khas, sementara sebagian lainnya tampak samar, menghilang di balik selimut kabut. Setelah melalui jalur pendakian yang menguras banyak tenaga, panorama alam ini seolah menawarkan kesempatan berharga bagi para santri untuk sejenak berhenti dan merenung.
Rasa lelah yang menyelimuti tubuh setelah menapaki jalur pendakian yang cukup berat seolah terbayar lunas dengan keindahan yang disaksikan. Akan tetapi, bagi para santri ini, aktivitas mendaki gunung jauh melampaui sekadar kegiatan fisik semata atau rekreasi untuk mengisi akhir pekan.
Terdapat sebuah alasan mendalam yang mendorong santri Madinatul Ilmi untuk begitu gemar mendaki gunung. Kegiatan ini diberi nama Samunasim, yang merupakan akronim dari ‘Santri Madinatul Ilmi Menikmati Senja Impian’. Melalui Samunasim, pendakian gunung diubah menjadi sebuah sarana efektif untuk bertadabur alam dan membaca ayat kauniah, yaitu tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang tersebar luas di seluruh alam semesta.
Apabila ayat kauliah merujuk pada firman Allah yang telah tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an, maka ayat kauniah justru dapat dibaca dan dipahami melalui berbagai ciptaan-Nya. Gunung-gunung yang menjulang, hamparan langit yang luas, pepohonan yang rindang, lembah-lembah yang dalam, serta seluruh bentang alam lainnya, semuanya menjadi bagian tak terpisahkan dari tanda-tanda kebesaran tersebut.
Oleh karena itu, perjalanan menuju puncak gunung bagi mereka bukan hanya tentang mencapai atau tidak mencapai tujuan fisik semata. Melainkan, setiap langkah kaki yang diayunkan, setiap tanjakan yang berhasil dilewati, dan setiap rasa lelah yang dirasakan, semuanya menjadi bagian integral dari pengalaman berharga yang ingin diresapi oleh para santri.
Bukit Cendono kali ini menjadi destinasi keenam dalam rangkaian kegiatan Samunasim. Sebelum pendakian ke Cendono, para santri telah sukses menjejaki beberapa puncak gunung lainnya, termasuk Gunung Penanggungan dengan ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut (mdpl), Puthuk Gragal setinggi 1.480 mdpl, dan Puthuk Siwur dengan ketinggian 1.429 mdpl.
Untuk kegiatan Samunasim kali ini, perjalanan mereka berlabuh di Bukit Cendono, sebuah lokasi yang terletak di dalam kawasan konservasi Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, tepatnya di lereng Pegunungan Anjasmoro.
Meskipun ketinggian Puncak Cendono tercatat berada di bawah beberapa gunung yang telah berhasil didaki sebelumnya oleh para santri, jalur pendakian menuju puncaknya tetap menuntut stamina dan ketahanan fisik yang prima.
Muhammad Naufal, Lc., M.S.I., selaku Mudir MBS Madinatul Ilmi sekaligus tokoh yang mencetuskan program Samunasim, menjelaskan bahwa kegiatan yang diikuti oleh santri putra MBS ini memang secara khusus diarahkan sebagai bagian dari pelaksanaan ibadah.
Naufal secara tegas menyatakan, “Kegiatan ini adalah ibadah tadabur alam untuk merenungkan keagungan Sang Khalik melalui keindahan ciptaan-Nya.”
Dengan demikian, fokus utama yang dicari dalam pendakian ini bukan semata-mata pemandangan indah yang tersaji dari puncak gunung. Sepanjang jalur pendakian, para santri memperoleh pelajaran berharga tentang bagaimana menahan rasa lelah, mengatur setiap langkah dengan cermat, serta pentingnya berjalan bersama dalam kebersamaan. Pengalaman berinteraksi langsung dengan alam ini memberikan perspektif dan pembelajaran yang sangat berbeda dari apa yang biasa mereka dapatkan di dalam ruang kelas atau masjid.
Selain itu, gunung juga memegang peranan istimewa dalam perjalanan spiritual dan sejarah para nabi. Sebagai contoh, sebelum diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad SAW seringkali berkhalwat di Gua Hira, yang terletak di Jabal Nur. Di sanalah beliau menerima wahyu pertama dari Allah SWT.
Kemudian, dalam momen penting perjalanan hijrah menuju Madinah, Nabi Muhammad SAW bersama sahabatnya, Abu Bakar As-Sidik, juga sempat berlindung di Gua Tsur. Tindakan ini dilakukan untuk menghindari kejaran dari kaum Quraisy yang memusuhi mereka.
Kisah Nabi Musa AS juga sangat erat kaitannya dengan gunung. Thur Sina menjadi lokasi yang sangat penting dalam perjalanan kenabian beliau. Di kawasan gunung itulah Nabi Musa menerima panggilan langsung dari Allah SWT dan kemudian dianugerahi kitab Taurat.
Tidak hanya itu, gunung turut hadir dalam narasi kisah Nabi Ibrahim AS. Saat beliau memohon kepada Allah agar diperlihatkan bagaimana cara-Nya menghidupkan kembali makhluk yang telah mati, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk mengambil empat ekor burung. Kemudian, bagian-bagian dari burung tersebut diletakkan di beberapa gunung yang berbeda.
Kisah yang penuh makna ini disebutkan secara eksplisit dalam Surah Al-Baqarah ayat 260. Dengan izin dan kuasa Allah, ketika Nabi Ibrahim memanggil burung-burung itu, mereka pun kembali hidup dan datang kepadanya.
Rentetan jejak kisah para nabi yang terkait dengan gunung ini menegaskan bahwa gunung tidak dapat hanya dipandang sebagai sekadar bentang alam yang indah. Bagi santri Madinatul Ilmi, setiap perjalanan mendaki gunung membuka sebuah ruang spiritual yang mendalam: sebuah ruang untuk melihat keindahan ciptaan-Nya, merenungkan makna keberadaan, dan senantiasa mengingat kembali kebesaran Allah SWT.
Inilah esensi utama yang ingin disampaikan dan diwujudkan melalui program Samunasim. Para santri tidak hanya diajak untuk membaca teori tentang tadabur alam dari buku-buku atau mendengarkan penjelasannya dalam berbagai kajian. Lebih dari itu, mereka diajak untuk merasakan dan menghayati pengalaman tersebut secara langsung dengan indra mereka.
Setiap elemen dalam pendakian menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran: mulai dari kaki yang terus menapak di jalur pendakian, tubuh yang mulai merasakan kelelahan, segarnya udara pegunungan yang dihirup, hingga pemandangan luas yang terbuka dari ketinggian. Semua itu adalah guru yang mengajarkan banyak hal.
Pada titik inilah, konsep ayat kauniah tidak lagi hanya sekadar sebuah istilah teoritis. Para santri dapat secara langsung menyaksikan dan merasakan betapa kecilnya keberadaan manusia di tengah hamparan ciptaan Allah yang begitu luas dan agung.
Lebih lanjut, aktivitas pendakian juga memberikan pelajaran berharga bahwa setiap perjalanan hidup tidak selalu berjalan mulus. Seringkali ditemui jalan yang menanjak, energi yang mulai berkurang, serta munculnya keinginan kuat untuk beristirahat. Namun, esensi pelajaran yang didapat adalah perjalanan harus tetap dilanjutkan hingga mencapai tujuan akhir.
Bagi para santri Madinatul Ilmi, pengalaman-pengalaman semacam inilah yang menjadikan kegiatan mendaki gunung memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar mengejar pencapaian puncak. Samunasim telah menjelma menjadi sebuah ruang multidimensi untuk menikmati keindahan alam, memperkuat jalinan kebersamaan, melatih ketahanan dan disiplin diri, serta pada saat yang sama, untuk bertadabur.
Dan pada akhirnya, ketika mereka berhasil berdiri di Puncak Cendono, para santri tidak hanya membawa pulang kenangan berupa foto-foto indah dan cerita-cerita perjalanan yang seru.
Lebih dari itu, ada pelajaran berharga lain yang turut serta mereka bawa turun dari puncak: sebuah pemahaman mendalam bahwa ayat-ayat Allah tidak seluruhnya hanya tertulis di atas lembaran kertas. Sebagian besar dari ayat-ayat tersebut justru terbentang luas di alam semesta, senantiasa menunggu untuk dibaca dan dimaknai dengan mata kepala, hati yang terbuka, serta setiap langkah kaki yang menjelajahinya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Luka di Akses Suramadu: Ketika Ban Pecah Berujung Maut di Dini Hari

12 Okt 2026 - 15:19 WIB

Luka di Akses Suramadu: Ketika Ban Pecah Berujung Maut di Dini Hari

Terang di Hutan Pinus: Kisah Turbin Mikrohidro Menyinari Pendidikan di Kampung Seling Banyuwangi

12 Okt 2026 - 15:18 WIB

Terang di Hutan Pinus: Kisah Turbin Mikrohidro Menyinari Pendidikan di Kampung Seling Banyuwangi

Brand Ambassador Spemdalas Perkuat Solidaritas dan Kepercayaan Diri Melalui Outbound di Kaliwatu

12 Okt 2026 - 15:17 WIB

Brand Ambassador Spemdalas Perkuat Solidaritas dan Kepercayaan Diri Melalui Outbound di Kaliwatu

Refleksi di Balik Kemudi: Insiden Salah Injak Gas Kakek 83 Tahun di Jombang Menjadi Peringatan

12 Okt 2026 - 12:40 WIB

Refleksi di Balik Kemudi: Insiden Salah Injak Gas Kakek 83 Tahun di Jombang Menjadi Peringatan

Umla Medical Center Resmi Beroperasi: Komitmen Umla Perkuat Layanan Kesehatan Mahasiswa dan Warga

12 Okt 2026 - 12:40 WIB

Umla Medical Center Resmi Beroperasi: Komitmen Umla Perkuat Layanan Kesehatan Mahasiswa dan Warga
Trending di Pendidikan