KlikMojok – Pada Ahad, 11 Oktober 2026, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M., memaparkan tiga rumus kepemimpinan pendidikan Muhammadiyah yang krusial. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) yang diselenggarakan di Surabaya.
Suasana di Aula Mas Mansur Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur yang berlokasi di Jalan Kertomenanggal IV/1, Surabaya, begitu semarak. Dalam forum penting tersebut, Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M., selaku Ketua PWM Jatim, menyampaikan arahan mendalam kepada para peserta yang hadir. Audiens yang menyimak paparannya meliputi pimpinan Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF), Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), Majelis PAUD Dasmen PDA se-Jawa Timur, serta sejumlah kepala dan wakil kepala sekolah Muhammadiyah.
Dalam pidato pembukaannya di Rakorwil tersebut, Prof. Sukadiono secara lugas menyatakan, “Karena di forum ini hadir para pemimpin, maka saya akan berbicara tentang tiga rumus kepemimpinan. Memimpin sekolah Muhammadiyah bukan sekadar menduduki jabatan, tetapi harus mampu membangun kepercayaan (trust) , beradaptasi dengan perubahan zaman, dan mengesampingkan kepentingan pribadi demi kemajuan lembaga.” Pesan ini menegaskan bahwa peran pemimpin lebih dari sekadar posisi, melainkan sebuah amanah untuk kemajuan.
Prof. Sukadiono memulai arahannya dengan menyoroti esensi membangun kepercayaan atau trust. Beliau menjelaskan bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang otomatis didapatkan hanya karena seseorang memegang suatu jabatan. Sebaliknya, kepercayaan tersebut akan tumbuh dan berkembang ketika seorang pemimpin menunjukkan kapasitas yang memadai, senantiasa menjaga integritas diri, serta mampu menyingkirkan kepentingan pribadi demi tujuan yang lebih besar. Untuk menjelaskan hal ini, ia merumuskan kredibilitas seorang pemimpin melalui sebuah formula yang lugas dan sangat mendasar.
“Rumus kredibilitas itu adalah kapasitas ditambah dengan integritas dikurangi dengan self-interest. Jadi, orang dikatakan kredibel kalau dia kompeten atau punya kapasitas, punya integritas, dan mengesampingkan kepentingan pribadinya,” jelas Sukadiono, menegaskan bahwa ketiga elemen ini adalah penentu utama.
Lebih lanjut, Prof. Sukadiono menguraikan bahwa kapasitas merujuk pada kompetensi dan kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas-tugasnya secara efektif. Sementara itu, integritas berfungsi sebagai fondasi moral dan etika yang membimbing seorang pemimpin dalam setiap pengambilan kebijakan. Adapun aspek pengurangan self-interest atau kepentingan pribadi, menjadi pengingat penting bagi setiap pemimpin agar tidak tergoda untuk menyalahgunakan wewenang atau jabatan yang dipegang demi keuntungan pribadi maupun sanak keluarga.
Pesan mengenai kredibilitas ini sangat relevan dan menjadi cerminan krusial bagi para pengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), khususnya yang bergerak di sektor pendidikan. Kepercayaan yang diberikan oleh warga persyarikatan, para orang tua murid, dan masyarakat luas secara umum, merupakan fondasi yang tak tergantikan bagi keberlangsungan dan kemajuan setiap lembaga pendidikan Muhammadiyah.
Rumus kepemimpinan kedua yang ditekankan oleh pria yang akrab disapa Pak Suko ini adalah sikap adaptif. Beliau menggarisbawahi bahwa perubahan zaman yang begitu cepat menuntut lembaga pendidikan Muhammadiyah untuk senantiasa belajar dan terus-menerus memperbarui cara kerja mereka. Keberhasilan metode yang diterapkan di masa lalu tidak boleh menjadi alasan bagi para pengelola sekolah untuk berpuas diri atau enggan menerima perubahan, terutama saat dunia pendidikan memasuki era digitalisasi yang serba cepat.
“Termasuk jika ini adalah era digitalisasi, mau tidak mau kita dituntut untuk mau beradaptasi. Jadi, jangan kemudian, ‘ Ah, mbiyen gak atek ngene-ngene ae lho iso ‘ (Ah, dulu tidak pakai ini itu juga bisa). Nah, itu kan kurang tepat,” ujar Prof. Sukadiono, memberikan penekanan khusus pada urgensi adaptasi digital.
Pernyataan ini merupakan sentilan tegas terhadap pola pikir yang cenderung merasa nyaman dengan tradisi atau cara-cara lama. Prof. Suko secara gamblang menekankan bahwa apa yang pernah berhasil di masa lalu belum tentu masih relevan dan efektif untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini.
Selain adaptasi terhadap perkembangan teknologi, pemimpin sekolah juga dituntut untuk bersikap adaptif terhadap berbagai regulasi baru. Regulasi ini bisa berasal dari kementerian terkait maupun dari Majelis Dikdasmen Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Menurut Prof. Sukadiono, semangat Islam Berkemajuan yang diusung oleh Muhammadiyah mengharuskan setiap pimpinan untuk siap sedia menghadapi dinamika regulasi serta proaktif dalam memanfaatkan teknologi demi peningkatan mutu pendidikan secara keseluruhan.
“Islam yang berkemajuan itu harus mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman. Kalau sekarang era digital, tentu sekolah-sekolah Muhammadiyah harus mau beradaptasi dengan perkembangan zaman dan memanfaatkannya,” tandas Prof. Sukadiono, yang juga menjabat sebagai Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan Kemenko PMK.
Oleh karena itu, digitalisasi tidak boleh dipandang hanya sebagai proses penggantian perangkat manual menjadi elektronik semata. Lebih jauh dari itu, transformasi digital harus menjadi pendorong bagi sekolah-sekolah untuk beroperasi lebih efektif dan efisien, meningkatkan kualitas layanan pendidikan, serta mampu menjawab kebutuhan dan tantangan peserta didik secara nyata dan relevan.
Rumus kepemimpinan ketiga yang memiliki tingkat kekrusialan yang setara adalah kolaborasi. Prof. Sukadiono dengan tegas menyatakan bahwa sebuah sekolah tidak akan dapat mencapai perkembangan maksimal jika hanya bergantung pada figur kepala sekolah seorang diri. Untuk mencapai kemajuan, pengelola sekolah memerlukan sinergi yang kuat dan kokoh antara berbagai pihak, meliputi pimpinan, guru, tenaga kependidikan, orang tua murid, masyarakat sekitar, serta seluruh unsur persyarikatan Muhammadiyah.
Semangat kolaborasi ini sangat sejalan dengan prinsip Islam, yaitu ta’awun ‘alal birri wat taqwa, yang berarti saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Prof. Sukadiono menambahkan, “Dalam konteks AUM, kolaborasi berarti menyatukan potensi di lingkungan persyarikatan agar tantangan pendidikan tidak ditanggung secara individual. Kredibilitas membangun kepercayaan, adaptasi membuka jalan pembaruan, dan kolaborasi menyatukan kekuatan.” Ini menekankan pentingnya kerja sama timbal balik.
Rakorwil tersebut juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting lainnya. Di antara mereka adalah Dr. Eko Susanto, S.E., M.Si., yang menjabat sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) PAUD Dasmen Kemendikdasmen RI. Turut hadir pula Dr. Hidayatulloh, M.Si., selaku Wakil Ketua PWM Jatim Bidang Pendidikan, Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi; Ir. Tamhid Masyhudi, Wakil Ketua PWM Jatim Bidang Organisasi, Ideologi, MPKU, dan MLHPB; serta drh. Zainul Muslimin, Bendahara PWM Jatim, bersama jajaran pimpinan lainnya yang turut meramaikan acara.
Secara keseluruhan, pesan-pesan yang disampaikan oleh Prof. Sukadiono menjadi pengingat yang sangat jelas bahwa amanah kepemimpinan di sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak boleh hanya berputar pada rutinitas administratif belaka. Kemajuan pendidikan Muhammadiyah, khususnya di wilayah Jawa Timur, akan sangat ditentukan oleh sejauh mana para pimpinan mampu menjaga kepercayaan, berani beradaptasi dengan perubahan, dan secara aktif menggerakkan seluruh potensi yang ada melalui semangat kolaborasi.












